Researcher
3 bulan lalu · 91 view · 5 menit baca · Perempuan 73702_64144.jpg

Perempuan Jenggala: Masa Lalu dan Masa Kini

Februari 2018, saya mendapat kesempatan menjadi peserta Belajar Bersama Center of Social Excellent (CSE) angkatan VI di Kebumen Jawa Tengah. Saya bersama tim yang terdiri dari Andi Nur Muhammad (Aceh), Ari Dwi Putra (Jakarta), Arista Setyaningrum (Lampung), dan Johan Komara (Kendari) mendapat tugas meliput Alternative Dispute Resolution (ADR) di Kabupaten Banyumas.

Tugas kami adalah menemukan kolaborasi resolusi konflik yang dilakukan oleh masyarakat bersama dengan perusahaan dan pemerintah. Lokasi liputannya di Dusun Kalipagu, Desa Ketengger, Kecamatan Baturaden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Masyarakat Dusun Kalipagu adalah masyarakat yang berprofesi sebagai penebang kayu dengan menggunakan alat tradisional. Tahun 2005, terjadi kasus penangkapan warga masyarakat dengan tuduhan illegal logging (pembalakan liar). Proses kasus hingga ke ranah hukum tersebut menimbulkan kekuatan yang luar biasa antarwarga masyarakat untuk menemukan jalan damai dengan perusahaan dan pemerintah.

Singkat cerita, pada tahun 2016, masyarakat Kalipagu membuka tempat wisata yang dikelola secara swasta dengan nama Curug Jenggala (curug bermakna air terjuan). 

Keindahan Curug Jenggala lahir dari pergumulan tragedi, perjuangan, dan keinginan untuk memberdayakan ekonomi masyarakat. Curug Jenggala menjadi ikon kekayaan alam dan sumber penghidupan masyarakat Dusun Kalipagu.

Sejarah nama Jenggala, proses pemberian nama Jenggala, hingga cermin nama Jenggala pada warga Kalipagu inilah yang menjadi titik pijak tulisan ini.

Tulisan ini berperspektif gender, yang merupakan ketertarikan saya. Karena sepengetahuan saya, belum ditemukan tulisan yang membahas tentang keindahan Jenggala dengan pendekatan perempuan. 

Menarik melihat Jenggala dari perspektif perempuan. Karena makna di balik nama Jenggala akan menjadi cermin sederhana bagaimana peran perempuan Kalipagu di masa kini.

Dewi Candra Kirana & Jangla 

Jenggala merupakan nama air terjun yang berada di sisi selatan gunung Selamet. Pemberian nama Jenggala melewati jalan spiritual. 

Menurut penuturan tokoh adat dan spiritual masyarakat Kalipagu (mbah Jaya) bahwa pemberian nama Jenggala melewati proses perjalanan spiritual selama +/- 90 hari, sampai akhirnya menerima wangsit (petunjuk) dari para leluhur agar diberi nama curug Jenggala.

Berdasarkan cerita mbah Jaya, dahulu kala kira-kira tahun 5.300 SM, seorang putri yang bernama Galuh Candra Kirana atau Dewi Candra Kirana (makna bahasa Jawa adalah ”titik cahaya”), istri dari Raden Anom, memiliki keraton di Curug Penganten (tidak jauh lokasinya dari Curug Jenggala). Cinta keduanya tidak hanya mencintai sesama pasangan, tetapi juga mencintai Tuhan, manusia, dan alam dalam bentuk cinta universal.

Dewi Candra Kirana menginisiasi untuk membangun sebuah tempat peribadatan antaragama yang diberi nama Batur Semende, yang memiliki arti tempat sandaran kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Bangunan tempat peribadatan menjadi penting di kala itu karena mereka meyakini bahwa saling bersinergi satu dengan yang lain, baik manusia, alam, dan Tuhan akan melahirkan hidup guyup (damai) rukun. 

Tidak jauh dari Batur Semende, terdapat bangunan Lemah Wangi. Bangunan ini, menurut cerita mbah Jaya, adalah padepokan yang mencari dan melatih para kesatria pilihan. 

Kesatria pilihan dari padepokan Lemah Wangi inilah yang kemudian dipanggil dengan nama Jenggala. Jenggala merupakan seorang Jangla yang bermakna cita-cita luhur para kesatria.

Padepokan Lemah Wangi kemudian dipimpin oleh Resi Pilawangga yang merupakan eyang dari Raja Majapahit. Di tempat padepokan inilah diyakini oleh masyarakat setempat sebagai tempat pendadaran atau tempat latihan atau tempat peresmian kesatria pilihan yang menjadi raja-raja di tanah Jawa pada masa silam.

Salah satu aktivitas suci para kesatria pilihan atau Jenggala adalah melakukan pertapaan. Tempat bertapanya para Jengla terdapat di belakang aliran air Curug yang berbentuk goa-goa tidak jauh dari Batur Semende. Sebelum peresmian nama curug Jenggala, tempat pertapaan tersebut dulu namanya Curug Tempuan, yang bermakna titik temu atau tempat bertemuanya tiga mata air.

Cerita rakyat tentang eksistensi Dewi Candra Kirana hanya sampai di keinginan sucinya membangun Batur Semende dan Padepokan Lemah Wangi. Jejak rekam hidupnya abadi di sebuah nama sendang atau mata air yang bernama sendang Candra Kirana. Konon dan kini, masyarakat Kalipagu meyakini bahwa sendang Candra Kirana memiliki kekuatan magis.

Begitu juga dengan jejak dan bukti sejarah bangunan Batur Semende dan padepokan lemah Wangi. Dua petilasan bersejarah di masa silam yang telah melahirkan para kesatria raja-raja pulau Jawa di masa lampau dapat kita saksikan sampai sekarang, lokasinya tidak jauh dari tempat pertapaan Jenggla di Curug Tempuan. 

Peresmian Nama Curug Jenggala

Setelah konflik dengan masyarakat Dusun Kalipagu, perusahaan Perhutani dan pemerintah selesai. Masyarakat Kalipagu melalui Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Gempita memiliki keinginan bersama untuk menyejahterakan masyarakat Kalipagu secara ekonomi. Salah satu caranya adalah dengan menggali potensi wisata desa, yaitu curug tempuan.

Masyarakat Kalipagu memegang teguh tradisi dan kearifan lokal masyarakat. Ketika keinginan LMDH untuk membuka potensi wisata desa, Ketua LMDH Bapak Purnomo berkonsultasi kepada sesepuh adat, yakni mbah Jaya, untuk melakukan tirakat spiritual guna mendapatkan petunjuk dari Yang Menguasai lereng gunung Selamet.

Setelah melakukan semedi selama sebulan bersama dengan komunitas spiritual Kelanggian Adat Wangi, Mbah Jaya mendapat petunjuk bahwa nama curug adalah Curug Jenggala. Setelah diresmikan pada 21 November 2016, pendapatan kotor wisata Curug Jenggala rata-rata Rp29.060.000/bulan di tahun 2017 dengan rata-rata jumlah pengunjung 5.812 orang/bulan.

Perempuan Jenggala Kini 

Jika melihat di masa silam, pesona Curug Jenggala tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Dewi Candra Kirana karena telah berjasa mendirikan Batur Semende dan padepokan Lemah Wangi. Kini, bagaimana peran perempuan Kalipagu?

Hasil liputan saya terkait peran perempuan ketika konflik berlangsung, menemukan bahwa ibu-ibu Dusun Kalipagu "hanya" mengikuti apa yang dikatakan oleh para suami/laki-laki. Dalam pengambilan keputusan dan rapat bersama, ibu-ibu berada di barisan belakang yang bertugas menyediakan minum dan makan.

Juga ketika masyarakat Dusun Kalipagu melakukan aksi ke pemerintah dan perusahaan, tugas ibu-ibu adalah menyiapkan bekal makanan dan menjaga anak-anak di rumah. Dari sini dapat dilihat bahwa peran perempuan ada ketika berurusan dengan domestik, dan laki-laki yang berada di publik untuk bersuara.

Dusun Kalipagu Desa Ketengger dipimpin oleh ibu kepala desa. Ketika saya bersama tim berkunjung ke rumahnya, yang banyak berbicara adalah suami ibu Kades yang ternyata mantan kepala desa. Saya melihat ibu Kades hanya diam dan sibuk menyiapkan minuman dan makanan.

Di sini saya menemukan bahwa perempuan menjadi pemimpin atau kepala desa hanya dijadikan sebagai simbol atau istilahnya untuk memenuhi kuota. Sejatinya, visi-misi dan sikap yang ditampilkan oleh ibu kepala desa tidak mencerminkan sebagai seorang pemimpin feminis-idealnya.

Secara sederhana, terdapat relasi kuasa yang timpang antara ibu Kades  sebagai pemimpin desa yang legal-formal dan suami sebagai pemimpin keluarga-konstruksi sosial. 

Terlepas dari kondisi perempuan Dusun Kalipagu secara mayoritas, menurut saya, kini Jenggala hanya dijadikan sebagai ikon wisata desa, tetapi nilai-nilai perjuangan Dewi Candra Kirana tidak tercermin dalam kehidupan nyata.

*Terima kasih kepada The Forest Trust (TFT) Semarang Jawa Tengah, Warga belajar CSE VI dari Aceh-Papua, masyarakat Lemungsur Kebumen, tokoh adat Kalipagu Mbah Jaya, Ketua LMDH Gempita Mas Purnomo, dan kehangatan semua masyarakat dusun Kalipagu.

Artikel Terkait