Psikolog Feminis
1 minggu lalu · 595 view · 5 min baca menit baca · Perempuan 45773_25788.jpg
Ilustrasi: Pixabay/Johny Lindner

Perempuan, Jadilah Liar

Putri-putriku, jadilah liar

Kan kuberikan pada kalian yang ibuku tak mampu berikan
Kan kulimpahkan pada kalian yang beliau ambil dariku
Kan kusampaikan kepada kalian yang tak diketahui ayahku
Kan kusingkapkan yang beliau coba tutupi
Kan kuizinkan kalian melakukan yang mereka larang dariku
Mengatakan yang mereka tak ingin aku ucapkan
Atas nama cinta dan perlindungan
Berendam dalam derita dan ketidakberdayaan
Dilanggengkan adat dan tradisi

Putri-putriku,
Kalian kan belajar apa itu kehidupan
Keindahan, kekejaman, kemurnian, dan kenyataan
Kan kalian jelajahi semesta megah
Sentuhlah bulan yang berayun di atas gelombang pantai kala malam berbintang
Menyelamlah dalam fyord sambil melewati gua permata
Saksikan burung berlari dengan kura-kura dan orang hutan
Pergilah kagumi keindahan bukit Tehuacan

Terbanglah, lepas bebaskan diri kalian, jangan kalian gentar
Alam adalah saudara perempuan kalian,
Belailah air, tataplah langit
Peluklah bumi, biarkan semangat menyala berapi 

Cintai tubuh dan hati kalian
Dengarkan insting, jangan ragukan intuisi
Bukalah kotak itu, Pandora-pandoraku
Masuklah dalam ruangan yang dikunci si Janggut Biru
Tak ada yang perlu kalian takutkan selain kenaifan
Kalian adalah serigala betina, Hypatia, prajurit perang, jenderal Mulan
Kalian adalah perempuan
Tampilkan feminitas kalian yang terliar

Meski untuk itu, maafkan ibunda kalian
Memasukkan yang satu dan mengeluarkan yang lain
Dia yang dengannya aku dapat menenun kalian dalam rahimku
Dia yang dapat menjadi kakak laki-lakimu beserta pendahulunya
Maafkan ketidakhadiranku pada beberapa senja musim panas
Tuk menjadi bahagia sebelum memanjakan kalian
Untuk tetap menjadi perempuan setelah menjadi seorang ibu


Terimalah terlebih dahulu kematianku, putri-putriku
Biarkan perempuan tua ini menutup mata
Sebelum kalian menjadi Vasalisa 

Prosa di atas awalnya saya tulis untuk kedua putri saya. Namun saya kira dapat berlaku untuk setiap perempuan. Prosa ini terinspirasi oleh buku Women who run with the wolves: Myths and stories of  the wild women archetype (1992) karya Clarissa Pinkola Estés, psikoanalis Jungian.

Kata "liar" berkonotasi negatif, seolah tak terkendali. Padahal liar mengandung arti positif: kebebasan dan keberanian. Sekian lama budaya patriarki berupaya menjinakkan perempuan. Perempuan hidup dalam ketakutan untuk bertindak dan mengambil keputusan. 

Ketakutan dan Kenaifan 

Perempuan cenderung menyukai zona aman. Contoh yang sering saya temukan adalah perempuan memilih untuk tetap bersama suami yang kerap memukuli dan menghinanya atau yang sudah mengkhianatinya berkali-kali. 

Alasan sebenarnya, jika kita gali lebih dalam, adalah takut: takut bila suami bertindak lebih kasar jika ia pergi, takut mencemarkan nama baik keluarga, takut (dan malu) akan penilaian orang tua karena sebelumnya ia yang bersikukuh untuk menikah dengan pria tersebut, takut tidak mampu mandiri secara ekonomi, takut jika anak-anak kelak akan menyalahkan keputusannya, dan lain sebagainya.

Mengapa banyak perempuan "terjebak" dalam hubungan dengan pria beristri? Mengapa mereka terlena dalam ilusi dan kenaifannya akan cinta? Kita jarang mendengar adanya pria yang menjalani hubungan dengan perempuan bersuami. Sekalipun tentu ada, hubungan ini tidak memiliki karakteristik kenaifan yang sama. 

Tanpa kita sadari, budaya kita membentuk perempuan menjadi naif. Kenaifan dan kepolosan seolah melengkapi kecantikan perempuan. Perempuan yang tersipu malu-malu ketika digoda akan lebih menarik ketimbang perempuan yang berani menatap balik si pria. Perempuan yang masih awam dengan teknik-teknik bercinta akan lebih menyentuh hati pasangan ketimbang mereka yang sudah berpengalaman. 

Perempuan yang naif dalam relasinya dengan laki-laki dilihat sebagai perempuan "baik-baik". Kita tahu betapa pentingnya menjadi perempuan "baik-baik" dalam masyarakat patriarkis. Padahal kenaifanlah yang membuat perempuan rentan menjadi korban dan sulit melepaskan diri dari posisi korban. 

Perempuan naif meyakini bahwa pria beristri akan menceraikan istrinya, bahwa suami kasar akan berubah jadi malaikat, bahwa suami yang ketahuan berselingkuh berulang kali masih mencintai dirinya. Perempuan naif cenderung salah memilih pasangan dan kemudian tetap bertahan dengan pasangannya ini.


Estés menggambarkan kenaifan perempuan melalui kisah si Janggut Biru. Ia melakukan reinterpretasi terhadap dongeng ini. Jika perempuan cerdas, kritis, banyak bertanya (dan tidak naif) sering kali dianggap menakutkan, Estés justru hendak merayakan keingintahuan perempuan. 

Ibu dan Feminitas 

Buku ini juga mengingatkan saya akan perempuan yang cenderung terperangkap dalam perannya sebagai ibu. Seolah ketika perempuan sudah menjadi ibu, ia tidak lagi punya hak atas femininitasnya sebagai perempuan. Berapa banyak ibu yang tidak lagi memikirkan dirinya sendiri karena berfokus pada anak-anak?

Tentu saya tidak sedang meminta para ibu untuk tidak peduli pada anak-anaknya. Sebagai ibu, saya memahami kita ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita dan rela mengorbankan apa pun untuk mereka. Yang hendak saya sampaikan adalah ibu juga hendaknya tidak melupakan dirinya sendiri sebagai perempuan dan individu. 

Berapa banyak ibu stres tetapi sungkan mengatakannya karena ibu dituntut untuk tidak boleh stres, karena perempuan seharusnya bahagia telah menjadi ibu. Padahal siapa pun yang pernah menjaga anak (beberapa jam saja) paham bahwa anak tidak selalu lucu dan menyenangkan. 

Seorang ibu seolah tidak punya hak untuk memiliki kesenangannya sendiri selain mengasuh anak (yang tidak selalu menggemaskan itu). Padahal anak juga tidak membutuhkan ibu yang menjalankan “tugas-tugas keibuan”-nya dengan sempurna. Anak membutuhkan ibu yang bahagia. 

Untuk menjadi ibu yang bahagia, seorang ibu berhak dan perlu melakukan hal-hal lain yang dapat membuatnya senang. Jadi hendaknya ibu tidak merasa bersalah jika meninggalkan anak sejenak untuk melakukan aktivitas pribadi yang dapat menyegarkannya. 

Menjadi Bebas untuk Membebaskan 

Berapa banyak larangan dan aturan yang masyarakat terapkan pada perempuan? Perempuan tidak boleh ini, tidak boleh itu, harus begini, harus begitu. Yang lebih menyedihkan, sesama perempuan lebih kejam ketika menghakimi perempuan. 

Perempuan yang melahirkan secara natural dan menyusui bayinya menganggap dirinya telah menjalankan perannya secara sempurna sebagai ibu, dan merasa berhak mengkritik perempuan yang menjalani operasi sesar ataupun tidak menyusui karena satu dan lain hal. Ini hanya salah satu contohnya, yang masih terjadi bahkan dalam masyarakat Prancis.


Perempuan hendaknya tidak melakukan sesuatu hanya berdasarkan penilaian orang lain (masyarakat). Sebagai perempuan, kita perlu membebaskan diri dari penilaian-penilaian ini. Jika kita sendiri sudah menjadi perempuan bebas, kita dapat membebaskan perempuan lain. 

Estés menggunakan dongeng Vasalisa, gadis yang terlebih dahulu merelakan kematian ibundanya sebelum masuk dalam proses menjadi perempuan dewasa yang mengandalkan intuisinya sendiri. (Ibu merupakan simbol norma/aturan mengenai apa yang baik/buruk untuk dilakukan/tidak dilakukan, penilai apakah yang dilakukan anak baik atau tidak).  

Ini adalah interpretasi pribadi saya akan karya Estés. Ia sendiri tidak menyinggung secara khusus kasus-kasus yang sebutkan di atas. Dalam bukunya, ia ingin menghidupkan kembali arketip perempuan liar yang sebenarnya sudah ada pada diri setiap perempuan. 

Dalam diri setiap perempuan, yakinlah ada kekuatan luar biasa dipenuhi insting, kreativitas, semangat, dan kebijaksanaan.  

Perempuan, jadilah liar.

Artikel Terkait