48570_89641.jpg
google
Perempuan · 5 menit baca

Perempuan itu Tidak Waras, Alias Gila

Perempuan lemah dan tersiksa itu biasa. Sedangkan perempuan sebagai pelaku pembunuhan, tersangka penindasan, atau pelaku kekerasan adalah luar biasa. Bahkan ada yang menyebut wanita kurang waras wanita “gila”.

Persoalan ranjang pun bisa jadi konsumsi untuk melegalkan tindakan kekerasan. Persetubuhan tak memuaskan lelaki dijadikan pembenaran untuk melakukan hal-hal, termasuk eksploitasi diri. Siapa bilang perempuan sudah merdeka?

Apakah dengan bersekolah setinggi-tingginya, pergi ke luar negeri, memiliki ribuan ilmu pengetahuan, lalu duduk di bangku parlemen, sudah cukup untuk mengatakan perempuan sudah merdeka?

Mengapa setiap kekerasan yang selalu jadi korban adalah melulu perempuan? Adakah laki-laki ketakutan ketika berjalan seorang diri dalam hening malam? Adakah laki-laki dianggap biasa ketika mengenakan rok mini? Adakah lelaki tak mau tahu lagi tentang isi selangkangan perempuan? Bisakah wanita merdeka untuk bicara apapun tentang tubuhnya, memamerkan tubuhnya tanpa embel-embel hasrat yang ditakuti akan langsung dirasakan lelaki?

Persoalan wanita dan pakaiannya kerap dijadikan sebab. Kemudian korban pelecehan seksual atau pemerkosaan yang kebetulan korbannya adalah perempuan yang disalahkan adalah tentang pakaiannya. Lalu, beramai-ramai orang berkomentar “Masa gadis baik-baik pulang dini hari” “Gimana ga nafsu penjahat lihat paha bertebaran begitu?” dan gunjingan-gunjingan lain yang melulu menyalahkan perempuan. Bahkan perempuan sendiri tak berpihak pada korban pelecehan atau pemerkosaan yang masih kaumnya. Mereka meyakini jika lelaki hanya akan datang ketika diundang. Salah satunya, diundnag lewat pakaian “seksi” itu.

Apakah perempuan sudah sepenuhnya merdeka dari ektremisme? Kita hampir gila memerangi ini. Indonesia dengan jumlah perempuannya yang lebih tak pernah cukup untuk membungkam aksi kekerasan dalam bentuk apapun terhadap perempuan. Belum lagi, perempuan-perempuan lainnya membully kaumnya dengan terbuka dan sadar. Sekali lagi, kita hampir gila.

Saat berkendara, naik angkot, mengantri, tubuh perempuan menjadi hal lain yang nikmat sebagai pelampiasan. Sebegitu menawankah tentang punggung, bokong, pinggang, atau aroma rambut wanita, hingga lelaki mesti melakukannya saat itu juga, dalam diam, juga disaksikan puluhan orang hanya untuk meyakini hal itu?

Haruskah perempuan tinggal dalam hunian tak berpenghuni atau tinggal dalam satu koloni yang isinya melulu perempuan agar terhindar dari kekerasan yang ekstrem ini? Sebegitu peliknya soal kekerasan itu, namun Indonesia kurang garang menuntaskannya. Begitu ada korban, peraturan, kebijakan, dan tulisan media ramai-ramai membahasnya agar terlihat paling mahir. Setelah itu, perempuan apalagi korbannya akan kembali terasing atau malah sengaja diasingkan.

Ketika saya menulis ini, seorang istri di Bali masih kesakitan karena kakinya ditebas dengan parang hingga putus oleh suaminya sendiri. Suaminya sendiri. Kejadian bulan September tahun 2017 itu memang berlalu, namun batin perempuan itu belum mampu memaafkan. Alasannya, hanya karena cemburu lalu sang suami bisa melakukan apapun. Seterusnya, bisa diselesaikan dengan kata maaf.  

Seorang istri harus memenuhi kebutuhan makan, minum, juga batinnya sendirian di kondisi tanpa kaki sedang sang suami yang harusnya bertanggung jawab malah di penjara untuk mempertanggung jawabkan hal lain yang tidak ada dalam kesepakatan pernikahan. Ia berusaha memulihkan dirinya sendiri meski banyak bantuan datang padanya. 

Seorang perempuan yang berpikir bahwa keadaan mati akan lebih baik ini tetap dipaksa hidup untuk “mengingatkan” setiap perempuan bahwa orang yang paling dicintainya bisa saja paling menyakiti juga. Ni Putu Kariani ingin sekali bicara pada suaminya tentang kaki-kakinya yang telah lebih dahulu meninggalkan tubuhnya sendiri. 

Apakah kaki-kaki itu setara dengan rasa cemburu tak beralasan itu. Irasional. Masih saja ada yang menyalahkan Kariani yang dianggap sebagai awal sebab suaminya bisa nekat. Dalam kasus Kariani, kekerasan telah dia alami selama bertahun-tahun dan pihak keluarga selalu meminta untuk bersabar. 

Putu Kariani pernah pulang dengan kepala benjol berisi cairan dan akhirnya harus dioperasi, contoh lain tubuh disundut rokok, memar-memar, itu terjadi bertahun-tahun tapi dari pihak keluarga menyarankan bertahan dengan harapan suaminya bisa berubah. 

Dalam tradisi dan budaya yang belum membuka mata tentang kekerasan yang kerap dialami oleh perempuan ini ada semacam keyakinan bahwa perempuan tak berhak memutuskan atau bercerai. Perempuan harus kuat sebab berani menjalani pernikahan berarti harus siap diperlakukan seperti apapun. Inilah yang keliru. Pernikahan itu sama sekali tidak ada klaim bahwa sang lelaki memiliki hidup perempuan secraa penuh, secara utuh, hingga perempuan sendiri lupa bagaimana caranya bernafas.

Kariani masih mengigau bagaimana golok tajam itu membelah kaki-kakinya hingga terputus dari tubuhnya. Ia memungut lagi air matanya. Sebanyak apapun air mata itu tak akan mampu mengembalikan kaki-kaki yang dulunya kuat bahkan alat mencukupi hidup Kariani dan keluarga. Perempuan tanpa lelaki masih berarti, lantas, perempuan tanpa kaki, bagaimana? Tentang batinnya yang akan terluka ribuan tahun, siapa yang mengobati? Luka psikis ini juga turut membawa separuh hidupnya seperti hilang, seperti tak terima.

Seorang perempuan lain di Tangerang menanggung malu karena ditelanjangi, dipukuli, dan dibawa berkeliling oleh warga akibat dituduh berbuat mesum dengan pasangannya sendiri. Ia ditelanjangi tanpa diberi jeda untuk menerangkan apa yang terjadi. 

Melihat tubuh perempuan yang dipermalukan itu seolah semua maksiat termaafkan? Kemudian ada lagi, perempuan lain di Jakarta, dihujat karena keputusannya melepas jilbab. Bahkan yang memberi kalimat-kalimat tajam melalui akun media sosialnya adalah kaumnya sendiri, yaitu perempuan. Perempuan memerangi perempuan. Bukankah lagi-lagi nasib perempuan itu ditentukan hanya dengan pakaiannya saja?

Perempuan 14 tahun diperkosa bergilir oleh 14 laki-laki. Sungguh lebih tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi fisik dan psikologis korban pemerkosaan yang dilakukan 14 laki-laki sekaligus. Satu laki-laki saja bisa meninggalkan trauma seumur hidup. Bagaimana dengan 14? Maaf, jika ini kejam dalam pandangan anda. Untung saja sang korban telah diselamatkan dalam tempat lain, tempat yang menjauh dari kecaman, tempat yang jauh dari rasa sakit, tempat yang dekat dengan sang pembuat nasib itu sendiri.

Berdasarkan survei pengalaman hidup perempuan tahun 2016 yang dilakukan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, satu dari tiga perempuan usia 15-64 tahun, atau sekitar 28 juta orang, pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual. 

Total jumlah kekerasan terhadap perempuan sepanjang tahun 2016 berdasarkan catatan tahunan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) sebanyak 259.150 kasus. Sebanyak 245.548 kasus diperoleh dari 358 Pengadilan Agama dan 13.602 kasus yang ditangani oleh 233 lembaga mitra pengadaan layanan yang tersebar di 34 provinsi. 

Dengan kecanggihan teknologi di zaman now ini, kita masih bisa menelusuri perkembangan kekerasan terhadap perempuan di negeri ini. mungkin, jika tulisan ini belum dihapus, kekerasan ini akan bertambah. Ada yang melakukannya terendus ada yang dengan akal bulusnya diam-diam. Lalu, benarkan kita bisa menjamin, saudara perempuan kita, atau siapapun akan terhindar dari kekerasan ekstrem yang dipandang sebelah mata ini?

Saya tak hendak menakutimu yang telanjur terlahir sebagai perempuan. Tulisan ini hanya ingin membuka mata juga telinga bahwa tidak mudah menjadi perempuan di negeri dengan riwayat kekerasan yang tinggi ini.

Kasus kekerasan dalam rumah tangga ini merupakan bagian dari lebih 259.000 kasus di seluruh Indonesia yang tercatat di tengah masih banyak yang tersembunyi. Apakah melihat Kariani juga perempuan-perempuan lain yang menjadi korban kekerasan tak sanggup membukakan mata lelaki? Memang benar, lelaki bukan musuh yang harus terus diperangi. Yang bisa menolong perempuan terhadap kekerasan yang kerap menimpanya, tiada lain hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang bernama “perempuan”.