Tetiba angin timur yang sejuk berbisik lembut di perpijakanku. Matahari tak kunjung mengantarkan karunia-Nya, tak seperti pagiku yang lalu-lalu, kali ini tak ada suara kicauan burung-burung . Ku lihat embun sejuk mulai meneteskan kemilau-kemilau surga dari rerumputan nan hijau membasahi ketinggian 2565 dpl.

Gemuruh halilintar terdengar dari arah barat daya, petir dengan murkanya menyambar-nyambar seakan merepresentasikan otoritas kekuasan absolut-Nya. Germuruh itu mengingatkanku pada sesosok perempuan yang pernah datang kepadaku membawa jutaan sayatan-sayatan luka kekecewaan, memanggul ribuan ton luka penderitaan.

Aku tidak pernah bertanya perihal lukanya, diapun tidak pernah mau menjelaskan atau setidaknya berbagi beban penderitaan yang ia pikul di pundaknya, tapi jika kau lihat ke dalam kedua bola matanya, siapapun akan tahu luka itu jelas menganga.

Aku tidak pernah berani berseteru, berlomba, ataupun beradu soal kesedihan kepada perempuan tersebut, karena sebelum lidahku mengucapkan sepatah katapun perihal kesedihan, tatapanya mengisyaratkan: “Aku pernah mengalami yang lebih buruk dari itu”. Ibarat akulah secercah cahaya dari sang lilin yang menengadahkan sinarnya ditengah terik matahari di siang hari.

Menurut desas-desus yang beredar di khalayak sunyi, Perempuan itu berasal dari sebuah desa yang bernama Kenangan. Ia menapaki jalan-jalan terjal kehampaan. Dia terlihat kuat berkat hasil pembakaran kesedihan, kemudian ia ditempa dengan himpitan penderitaan, lalu ia disiram dengan dinginnya penderitaan.

Pernah hati kecilku usul untuk mengajukan pertanyaan kepadanya, “Darimana saja kau kumpulkan penderitaan-penderitaan itu?” Dia hanya diam dan tidak pernah mau menjawab pertanyaan yang notabene lebih tepat disebut dengan kepedulian.

Namun dari caranya tersenyum mengatakan, “Aku pungut penderitaan-penderitaan ini dari harapan palsu cinta pertamaku”, sungguh pengalaman yang sangat traumatis, ya tentu saja, sebagai pecandu kopi tentu saja aku paham tentang kehampaan, kepahitan, dan kekecewaan ditinggalkan sang gula.

Kegelapan kini menyelimuti hati perempuan pendiam itu, dikunci rapat-rapat pintu hatinya, lalu kunci tersebut di buang ke tengah lautan trauma, dengan atau tanpa kunci tersebut bukan menjadi masalah baginya karena diapun tak akan pernah berniat membuka kembali pintu hatinya.

Dia bahkan tidak pernah mengizinkan kebahagiaan untuk masuk, jangankan masuk, mampir saja langsung diusir jauh-jauh dari perasaanya, kebahagiaan hanyalah mitos baginya, karena ia sudah terlanjur lama berkarib dengan penderitaan dan kekecewaan, baginya kedua hal tersebut adalah nikmat yang maha daya yang patut ia syukuri dan ia jaga.

Perempuan itu sudah terlalu lama hidup di hati yang tandus, kering kerontang, dan tidak ada tanda-tanda kebahagiaan, bukan hanya hidup, bahkan ia malah menghidupi keteandusaanya dengan kebencian, lalu ia sirami dengan trauma, dan ia pupuk dengan kutun. Dialah penikmat kegelapan.

Sementara itu, diam-diam aku bangunkan ia gubuk kecil di pinggiran luka yang ku susun dari kasih sayang, rasa bersalah, dan penyesalan. Ku paku dengan harapan lalu ku tutupi atapnya dengan doa, berharap jika suatu saat ia telah lelah memanggul traumanya, ia sudi beristirahat sejenak, duduk santai sembari bercengkerama, lalu melanjutkan kembali perjalanan maju ke masalalunya.

Tak terasa udara semakin dingin pagi itu, ku buka sedikit pintu tendaku, ohhh .... rupanya Penggembala Awan menyuruh kabut untuk turun menyelubungi bukit-bukit penderitaan yang aku daki dengan pijakan-pijakan penyesalan. Beruntung  Dewan Langit tidak memutuskan untuk menurukan hujan yang tentu saja akan membasahi kembali kenangan.

Temanku menyuguhkan segelas surga dunia bernama “Kopi” kepadaku, aku tak langsung meneguknya, ku pegang dulu gelasnya, kurasakan hangatnya harapan, kucium aroma kebahagiaan, lalu kuteguk mantap dengan penuh kepercayaan.

Aku tidak pernah mengutuk kegelapaan perempuan tersebut, karena aku yakin fokus tujuan dari gelap adalah cahaya, fungsi dari gelap adalah memperjelas adanya cahaya. Pun aku tidak pernah mengeluh dengan gemuruh dan ketandusan hatinya, karena aku yakin kelak hujan akan membasahinya, kemudian akan tersemai biji-biji keceriaan, akan mekar bunga-bunga kebahagaan, akan tumbuh tinggi pohon-pohon harapan, akan tercipta lengkung manis dibibirnya, tapi tetap jangan kau usik! Perempuan itu milik masalalu.

Mt. Prau, 28 Mei 2016