92887_96447.jpg
Tumblr.com
Cerpen · 10 menit baca

Perempuan Itu Masih Saja Naif

Subuh hari ini mestinya sama dengan subuh sebelumnya. Namun, hari ini aku coba untuk buat berbeda setelah sekian lama sama. Tak tahu, hari ini sepertinya setelah kian lama tidak lagi menyentuh layar untuk menulis kata, aku makin merasa bosan untuk tak lagi menyentuhnya. Rindu, mungkin itu kata yang pas untuk keadaan jiwaku pada subuh yang terlalu cepat di penjuru kota. 

Sebelumnya, aku juga ingin meminta maaf pada kalian semua. Teruntuk para teman yang tidak bosan untuk mencerna setiap bait-bait dari ketikan tanganku kala emosiku tak kunjung reda. Seberapa banyak kalian, aku menyukainya.

Juga, saat aku pernah menuliskan tentang sebuah kisah tentang seorang perempuan yang kupuja. Perempuan yang terakhir kali kutulis kisahnya, namun kuputuskan untuk menghapus demi dirinya. Keegoisanku terkadang kalah kepada hal remeh temeh sepertinya. Namun, mungkin itulah rasa.

Sebelum kisah yang kutulis kali ini menguap, aku ingin menceritakan kepada kalian kisah seorang perempuan yang aku katakan tanpa sungkan bahwa aku memuja, mencinta, dan menyayangi dengan seluruh hidupku. Meski kadang aku lebih banyak mengecewakannya. Tanpa perempuan itu, seorang lelaki bernama Maman yang telah kalian baca kisahnya mungkin tak akan pernah bisa menyampaikan ulik kisah hidupnya. Perempuan bernama Ratna, yang telah membesarkan Maman hingga dewasa, lalu dipanggil hingga kini dengan panggilan “Mama”. 

---

Seorang perempuan, atau lebih bijak dikatakan seluruh perempuan di muka bumi ini pasti mendambakan kekasih yang kelak bisa membina dengan asih tanpa beralasan. Seorang kekasih yang nantinya jika ia berada dalam keputus-asaan tidak mencerca, namun justru akan memeluk dengan tatapan rinai. Ya, rinai akan kehangatan untuk perempuannya.

Begitulah Ratna, ia hanya seorang perempuan desa dari kota kecil di tengah Pulau Jawa. Dilahirkan di tengah keluarga yang tak harmonis, namun dengan saudari-saudarinya disisi itu lebih cukup baginya. Tak ada sendu dalam kamus hidupnya.

Ayah, dan ibunya bukanlah pasangan yang jujur akan perasaan mereka sendiri. Perasaan memang tak bisa dipaksa, lalu ia tak boleh terlarut dalam nestapa yang mendalam. Begitulah memang. Ayah daripada Ratna meninggalkan dengan tanpa kasih, maupun harta untuk Ratna dan keluarga kecil yang ditinggalkan pria itu.

Pria yang tak bertanggung jawab. Mungkin frasa yang tepat adalah lelaki brengsek. Agak kasar, namun itulah yang sudah berlalu dalam benak Ratna dan keluarga kecilnya. Khususnya Ratna, dan saudari-saudarinya. 

Hingga Ratna dewasa, rasa kemanusiaan memang akan terus tumbuh dan berkembang tanpa bertanya-tanya. Apalagi, jika ia bersentuhan dengan kasih dan moral yang terjunjung. Ratna yang semakin tumbuh menjadi seorang gadis merasakan itu. Ia memang tak akan pernah bisa menuntaskan rasa kesal, sakit, dan sedih akibat perilaku ayahnya. Namun, ia juga manusia sekaligus seorang perempuan. Ia perasa, dan memiliki fitrah kemanusiaan. Lambat laun ia memaafkan. Namun, kata lupa adalah hal yang paling haram untuk disentuh. 

---

Jalan hidup Ratna sederhana. Ia tak menemukan hal yang spektakuler, luar biasa, atau sesuatu yang hebat. Tidak sama sekali. Ia menjalani hidup dengan sedang, dan tak berlebihan. Selain ia hanya perempuan desa dengan sisi religius, tak ada lagi yang istimewa. Sama seperti perempuan, dan manusia pada umumnya.

Hingga ia beranjak ke fase dimana harus memberikan bantuan biaya untuk keluarga kecilnya, atau setidaknya tidak merepotkan. Ratna bukan orang kaya, meski dirinya ingin melanjutkan jenjang pendidikan. Ia sadar akan hal itu, maka ia berusaha sebisanya dan sebaiknya untuk bekerja dengan keras. Hari ini aku tak kuliah, namun esok keturunanku akan mengenyamnya Dalam hati Ratna bersumpah demikian. Sumpah yang kini ia sedang tunaikan sebagai seorang ibu.

Namun, itu semua bukanlah kisah utama pada kisah kali ini. Kisah ini baru akan dimulai saat Ratna bertemu dengan seorang lelaki yang kelak diharapkan baginya menjadi garda dalam kehidupannya, maupun anaknya kelak. Lelaki yang ia temui di kota rantau pinggiran Ibukota, lelaki yang ia jatuhi dirinya dengan leluasa.

Lelaki yang kelak memberinya benih kehidupan bernama anak-anak, termasuk tiada lain aku yang kelak dilahirkan oleh Ratna. Lelaki yang bernama tinggi, yang pertama kali ia temui amatlah teduh. Lelaki yang ia panggil Awan.

Namun, Ratna sungguh teramat naif. Perempuan itu (kebanyakan) naif.

---

Bisakah kalian ungkap bagaimana rasanya jatuh hati pada yang pertama? Atau, jatuh hati yang sesungguhnya? Mungkin, jawabnya kalian akan sangat berbeda. Ada yang mengatakan jatuh hati pertama belum tentu adalah kisah yang sebenarnya. Masih hangat, namun tak ada perasaan yang mendalam diliputinya. Tapi, saat Ratna menceritakan kisah hidupnya akan kalian dapati cerita yang berbeda. Ratna akan dengan jujur mengatakan bahwa jatuhnya yang pertama adalah kisah sesungguhnya, dan ia sungguh teramat merasakan itu semua.

Oh sungguh, Ratna amatlah memuja lelaki itu dengan segenap hidupnya. Ia katakan bahwa Awan adalah lelaki yang amat manis. Ia pemalu, tak bisa jujur dengan dirinya sendiri, dan perilakunya yang halus membuat Ratna makin tenggelam dalam rupa lelaki itu. Ratna yang kuat pun terlihat lemah sesaat jika dihadapannya. Meski, jika terlihat sekilas bahwa Ratna yang mendominasi, sungguh dalam bagian yang lebih intim daripada kekasih adalah Awan juaranya. Ratna dengan tangis bahagia menceritakan itu.

Mereka putuskan untuk menggapai tangga yang lebih tinggi. Rumah yang di dambakan oleh setiap pasang anak Adam, dan Hawa di dunia. Yang disabdakan oleh para penutur romansa sebagai nirvana, dikatakan oleh para nabi sebagai surga kedua. Mereka  atas rajutan janji yang terlampir dalam senyuman, dan tawa. 

Sungguh rasa manis yang hanya dikecap oleh Ratna saat itu. Ia menangis tersedu lagi. Kini, tangisan kebahagiaan yang meluap keluar dari kedua matanya. Kuambilkan tisu, lalu kubiarkan tangannya mengelap matanya yang basah dengan tenang. Aku hanya tersenyum kecut, dan khidmat kembali mendengar saat Ratna kembali bercerita.

Hingga dua tahun setelah mereka membangun rumah bagi keduanya, Ratna dan Awan merasa bagai Romeo dan Juliet. Walau, hanya versi rakyat awam yang tinggal di pinggiran Ibukota. Itu sudah lebih cukup bagi kedua pasangan yang baru kawin. Kisah ini mulai memasuki babak baru setelah Ratna melahirkan anak lelaki kecil pertamanya. Bayi kecilnya yang lahir di kampungnya sendiri, yang Ratna ingin anaknya itu menghirup udara segar perkampungan dan terhindar hiruk pikuk kota yang kotor. Seorang bayi yang membuat cintanya makin melekat pada lelaki itu.

“Aku mencintaimu, Awan”

“Terima kasih, Ratna. Aku pun sungguh ingin membalasnya dengan rasa yang lebih”

Mereka memeluk bayi kecilnya itu, dan tanpa berkata ‘hanya’ berjanji untuk saling tak berpaut dalam waktu juga asih. Ratna yang diliputi bahagia melupakan jutaan kerisauan dalam benak. Bayi kecil itu yang kini menceritakan kisahnya, bayi kecil yang justru saat dewasa merasakan pahit dalam bagian hidup Ratna. Iya, bayi itu yang kini kalian kenal sebagai Maman.

Kisah itu dibuka dengan tawa, dan dijalankan dengan banyak duka. 

---

“Anak kurang ajar! Kau mau masuk neraka  hah?” 

Dua pecutan terhempas ke badan mungil itu. Merah merekah, dan sukses membuat jasad yang ia kenai menangis sejadi-jadinya.

“Ampun, Pak. Jangan pecut aku lagi” Anak kecil itu dengan tangisan sakit mencoba menghentikan pecutan itu berlanjut. 

“Berisik! Anjing, diam saja kau!”

Pecutan itu makin keras, dan berlanjut.

“Allahu Akbarrrr! Huuuuu, jangan Pak! Badanku sakit. Ya Allah, ampun. Sakit sekali”

Saat pecutan itu akan berlanjut, seorang perempuan melindungi tubuh anak kecil itu. 

“Cukup, Pak! Itu terlalu kejam. Kesalahannya tidak seberapa!”

“Halah, bisanya hanya membela anak!”

Lelaki itu  pergi, lalu ia keluar dari rumah. Bangsat gerutunya sambil menghajar kaca. *Praanngg* hancur sudah kaca satu di rumah itu untuk sekian kalinya. 

“Cup cup, sudah nak jangan menangis ya. Anak lelaki harus kuat!” perempuan itu menuntun anaknya ke kamar, mengobati anaknya dengan sembari membelai rambutnya.

Perempuan yang penuh kasih melindungi anaknya itu adalah Ratna, dan kalian sudah memahami bahwa lelaki bermulut culas itu adalah Awan. Kisah manis yang tadi sudah dikunyah mendalam, kini silahkan muntahkan kembali. Selanjutnya, dalam kalimat kedepan lebih banyak sendu yang akan terucap.

---

Tak ada lagi kisah manis saat Ratna pertama kali jumpa dahulu. Awan yang dulu pemalu, tak bisa jujur pada dirinya sendiri itu sudah tersapu oleh zaman. Janji yang dulu mereka rajut, seakan itu hanyalah tulisan yang terukir diatas pasir. Semuanya musnah hanya satu ombak kecil. Tak ada lagi tatapan cinta dari mata lelaki itu, tak ada lagi kata sayang dalam sapanya. Hanya umpatan bak kesetanan setiap harinya.

Awan itu tak lagi teduh, namun hanya berisi air asam yang siap melelehkan setiap benda dibawahnya. Semuanya bermula saat Awan tak lagi bekerja. Pada mulanya, Ratna yang diyakinkan oleh Awan menyetujuinya. Tidak berkah, dan banyak kecurangan disana Awan berkata demikian untuk tambah meyakini istrinya tersebut.  Jawaban yang sungguh amat religius, namun justru membuat setan makin masuk dalam hati Awan.

Kisah itu baru dimulai teman-teman, kisah yang kini makin membuat Ratna semakin naif.

---

Bagaimana rasanya jika menyiram luka dengan air garam? Tentu jawabannya adalah pedih. Lalu, bagaimana jika orang yang melukaimu adalah orang yang kau cintai? Tentu jawabannya sama dengan kalimat sebelumnya ; pedih. Tak ada lagi tawa dalam kehidupan Ratna, tak ada lagi ceria dalam pikirannya, tak ada lagi senyum yang terpampang di bibirnya. Muka perempuan yang mulai beranjak tua itu sudah tak lagi menyimpan cinta. Kasih sayang? Itu semua omong kosong. Ratna sudah puluhan tahun tak mengenalnya, menyapa, atau bahkan mengingatnya. Itu hanya kisah usang untuk seorang Ratna yang masihlah gadis berumur dua puluhan.

Lelaki yang dulu menjadi garda dalam kehidupannya, kini tak lebih dari sekedar benalu. Ia menusuk, ia mencabik, dan ia merenggut kehidupan Ratna. Ini tidak seperti istilah romantis berbagi kehidupan agar bahagia. Justru kisah ini adalah perampokan dalam hidup Ratna, dan dalam kisah pada hari ini perempuan separuh baya itu adalah budak dari seorang lelaki brengsek bernama Awan. Lelaki yang dulu dicintainya dengan tulus, kini hanyalah tinggal seorang tua bangka busuk berakal bulus.

Menjadi pengangguran, dan tak bekerja. Itu memang terkadang bukan hal yang salah. Tidak sama sekali, apalagi memiliki alasan kuat di dalamnya. Terkadang, hal ideologis patut ditegaskan. Namun, apa jadinya jika hal tersebut malah menjadi petaka bagi orang yang kita kasihi? Awan adalah orang yang melakukan itu semua dengan tuntas, dan sukses. Rasa cintanya dulu yang begitu besar, rasa malunya yang begitu hebat dan menjadikannya sifat lugu bagi Ratna hanyalah debu usang yang sudah tak lagi diingatnya. Ia kalah. 

Lelaki payah itu kalah oleh rasa minder, ia kalah dengan omongan dan keteguhan dirinya sendiri. Jiwa lelakinya memberontak, tak rela jika sang istri yang mencari uang. Padahal, sang istri sudah memberikan keringanan untuk membangun usaha bersama. Apalagi yang kurang? Cinta bisa mengesampingkan materi, namun jika nafsu dan amarah yang dijunjung manusia tak bisa berbuat apapun jua. Manusia sungguh lemah.

Puncaknya, saat Ratna meminta Awan untuk lebih giat membantunya dalam usaha yang dirintisnya. Bukannya membantu, Awan yang dulu dikenali sebagai lelaki pemalu itu langsung meledak tak terkira. Iblis jahannam di dalamnya meletup, menguapkan emosi yang tak terbendung. Menakutkan. Awan seorang yang pengasih, kini terlihat menakutkan bagi istri dan anaknya. Sejak saat itu, Ratna tak lagi mengenalnya. Sejak saat itu, mereka berdua hanyalah dua orang asing. Seorang lelaki bajingan, dan perempuan yang dia anggap sebagai budak nafsu dan materinya.

---

Tapi, tak semudah itu Ratna menyerah. Perempuan itu masih percaya bahwa kasih sayang masih ada dalam hati mereka berdua, dan Ratna dengan naifnya tetap menurut kepada Awan. Tak melulu menuruti, terkadang Ratna seiring waktu menangis, mengomel, dan justru membentak aku sebagai anaknya. Pelampiasan karena emosi yang kacau oleh lelaki brengsek itu. 

Aku memaklumi, dan aku tak bisa berbuat apa-apa. Apa yang bisa dilakukan seorang anak kecil untuk melawan ayahnya yang berbadan jauh lebih besar? Apalagi, jika ia memerintah dengan ketakutan. Tak ada sama sekali. Bagiku, menjadi pelampiasan adalah satu-satunya jalan terbaik untuk Ratna.

Perubahan yang terjadi adalah ketika Awan mulai religius. Iya, aku katakan dengan tegas bahwa Awan menjadi lebih religius saat pengangguran. Namun, konotasi religiusku adalah negatif baginya. Agama menjadi alat untuk lebih berkuasa dalam keluarga, khususnya untuk mengekang Ratna dan aku. 

Semua ayat, semua lafadz dikeluarkan olehnya hanya untuk legitimasi perbuatannya. Teks agama ditelanjangi mentah olehnya, lalu justru menjadikannya alat. Aku tak menjadi benci pada agamaku, namun aku belajar dari Awan bahwa agama yang baik jika dipegang oleh orang bengis sepertinya bisa menimbulkan musibah yang besar. 

---

Hingga saat umurku beranjak dewasa, sekitar dua puluh tahun. Awan mulai jatuh sakit, ia terluka dari dalam. Komplikasi penyakit yang menggerogoti dari dalam karena pola hidup tidak sehat.

Perbuatan keji kepada Ratna mulai berkurang, dan ia tak seamuk dahulu. Karena badanku yang mulai lebih besar darinya, mungkin itulah jadi salah satu penyebabnya. Aku juga semakin berpikir bahwa aku bisa melawan, apalagi yang disakiti adalah Ratna. Tak ada kamus durhaka, jika yang disakiti adalah Ratna.

Malam Jumat kedua di Bulan April, lelaki bernama Awan itu ambruk tak sadarkan diri.

---

Di dalam ruang rumah sakit itu, lelaki tua bernama Awan menangis dalam ratapan panjang. Namun bukan dia yang terluka sebenarnya, tapi lelaki yang berdiri tersenyum dusta disamping Ratna. Ialah aku, anaknya.

Pemandangan yang membuatku muak, namun Ratna hanya menabahkan aku. Ia memohon, dan meminta aku turut mengasihinya. Mengasihaninya demi dirinya sebagai seorang Ibu.

Malam Jumat kedua di Bulan April, lelaki bernama Awan itu ambruk tak sadarkan diri.

--

O sungguh, jika aku sendiri melihatnya dengan bahagia jasad lelaki itu terbaring lemah. Namun, Ratna yang saban hari kadang mencacinya serta kadang merutuki kini terlihat iba. Awan dikasihi, lelaki itu diperlakukan dengan kasih.Lelaki itu hanya bisa menangis sesenggukan, menatap perempuan yang menahun disiksanya hingga saat ini.Perempuan itu masih memiliki perasaan yang sama ketika pertama kali mereka jatuh hati, perempuan yang tak lagi halus kulit wajahnya namun Awan masih merasakan bahwa ia adalah perempuan cantik saat ia jatuh cinta.

Perempuan itu masih saja naif.