Aku mengenal Ais, alias Iis, ketika mengikuti sekolah Maarif, sekolah kemanusiaan dan kebudayaan Buya Ahmad Syafii Maarif (SKK-ASM) periode III. Sekolah yang bertema membumikan pesan-pesan keislaman, kemanusiaan, dan kebangsaan dalam konteks pemikiran Islam dan keindonesian yang kontemporer, di Jakarta, 13 s/d 19 Desember 2019.

Sebelumnya, aku telah melihat namanya di grup WhatsApp (WA) di mana kami semua yang menjadi calon peserta 25 besar yang tergabung dalam satu ruang komunikasi virtual sebagai sarana perkenalan dan informasi tentang pelaksanaan SKK-ASM III ini.

Ais merupakan peserta yang berasal dari Nusa Tenggara Barat (NTB), namun dia berangkat dari Makassar, Sulawesi Selatan, karena setelah dia berkuliah S1 di sana, dia sekaligus berkiprah di Makassar. Sedangkan, aku sebagai peserta dari Mandar, Sulawesi Barat, tidak akan berangkat dari Bandara Tampa Padang, Mamuju, namun dari Makassar, Sulawesi Selatan.

Awal perkenalan kami, ketika dia mengirimi chat, japri padaku di WA. Dia bertanya tentang keberangkatanku ke Jakarta, karena kami sama-sama berangkat dari Makassar. Walau hari kami ujian tes wawancara dan presentasi sama, di hari pertama, dan nama pesawat yang digunakan sama, namun kami tidaklah satu pesawat. Mungkin karena waktu itu aku terlambat mengonfirmasi ke panitia.

Kemudian, kami janjian untuk kopi darat ketika aku ke Makassar dari Mandar. Tapi, kami belum bisa bertemu juga. Selama dua hari di Makassar, aku sibuk dengan kontrol kesehatan dan periksa gigi. Lalu, ke mall mencari sepatu casual dan training yang akan dipakai untuk berolahraga nanti.

Dia pun begitu, dia juga sibuk dengan sesuatu dan lain hal. Akhirnya kami janjian lagi untuk bertemu di bandara Hasanuddin saja.

Hari itu, di bandara. Ketika aku sedang check-in, aku melihat sosok seorang gadis muda yang terlihat serius mengetik di laptop di jejeran kursi dekat tempat daftar tadi tanpa terganggu sedikit pun pada lalu lalang orang-orang dengan barang-barangnya.

Ketika kami akhirnya berkenalan, aku tahu dia adalah aktivis organisasi HMI Makassar, Sulawesi Selatan, yang biasa memberi materi di Sulawesi Barat. Saat aku menyebut nama seorang pentolan HMI yang berasal dari Mamuju yang kukenal, dia mengaku mengenalnya juga. Dan dia mengira aku seangkatan dengan orang yang terkemuka tadi.

Lalu kami sempat sedikit bertukar pikiran tentang makalah wajib kami, yaitu menulis tentang pemikiran Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif dan makalah pilihan kami, yaitu sesuai dengan pilihan. 

Aku menulis tentang stigma tentang siluman perempuan di tempatku, dan dia menulis tentang diskriminasi agama. Aku selintas melihat makalah pilihannya. Wah, padat sekali, dia mengambil banyak literatur dari buku.

Di Maarif Institute

Ketika aku tiba duluan di Maarif Institute, Ais belum juga muncul. Padahal, pesawatnya yang duluan tiba di Jakarta. Ternyata, dia bertemu senior-seniornya dulu. Aku menunggunya di Maarif. Lalu saat dia datang, kami ke hotel bersama-sama. Tempatnya tidak terlalu jauh dari kantor Maarif tempat kami menginap. 

Kami sekamar, dan langsung tertidur karena capek. Ais menyalakan Air Conditioner (AC). Namun, aku berpesan agar suhu AC-nya yang "kecil" saja untuk tubuh kurus sepertiku, yang tidak tahan AC. Beda dengan Ais, lebih tahan dingin daripada panas.

Keesokan harinya, pagi, jam empat sebelum subuh, kulihat dia sudah bangun. Dia belajar, dia membaca buku dan memperbaiki makalahnya. Aku masih menutup mata. Ketika jam enam dia membuka jendela, aku baru sadar, dan bangun.

Aku pagi-pagi sudah bangun, sesuatu yang bukan kebiasaanku. Aku sudah mandi, sudah cantik. Ketika aku melihat kopor Ais, aku melongo. Aku membandingkan koporku yang penuh dengan; pakaian, kosmetik, aksesoris, dua buah buku yang ingin kubagikan, buku penunjang makalahku yang tidak sampai lima. Pikirku, tidak akan ada waktu untuk membaca.

Sedangkan, Ais pakaian yang ada dalam kopernya tidak seberapa, namun kopernya penuh dengan buku-buku pemikiran, dan filsafat. "Gila ini anak," pikirku dalam hati. 

Sebelum ke kantor Maarif untuk ujian jam 8 pagi, kami sempat jalan-jalan di pasar tradisional di sana. Barang yang dijual murah-murah. Ada kaos kaki sepuluh ribu tiga, kerudung lima belas ribu, pakaian dalam sepuluh ribuan, dan lain sebagainya. Tahu begitu, aku tidak membawa banyak, tapi membelinya di Jakarta saja.

Ada suatu momen ketika kami ke toko buku, dia membeli buku sampai dua plastik, aku hanya membeli beberapa buku. Dia senang sekali membaca, sampai seorang teman di kursus pemikiran ini menjulukinya "Buku Berjalan". Hampir semua buku "pemikiran" sudah dibaca. Dan dia mengerti isi setiap buku yang telah dibacanya, mungkin sampai halamannya saja masih dihafalnya.

Kami Menjadi Peserta SKK-ASM III

Akhirnya, kami terpilih menjadi peserta SKK-ASM III. Selama di karantina, kami akan menginap di suatu penginapan di Depok. Aku telanjur nyaman sekamar dengan Ais, berharap nanti akan sekamar lagi dengannya. Kata Ais, "Iya, kak, kita minta saja pada panitia."

Ternyata kami tak sekamar. Kata mbak panitia, boleh tukaran kamar, namun bilang sendiri sama temannya. Ketika aku baru mau tukaran kamar, teman sekamar Ais salah masuk kamar lain. Akhirnya, kami benar-benar saling tukar kamar.

Rumah yang berisi; empat ranjang, dua lemari baju, satu meja rias, satu meja belajar, satu meja tempat makanan dan minuman; benar-benar padat. Padahal, kami hanya bertiga, aku, Ais, dan Yuli, di mana kamar lainnya ada yang berisi empat orang.

Kata Yuli, kita semua dalam kamar ini adalah orang Sulawesi (Yuli berasal dari Bone, Sulawesi Selatan namun bekerja di Manado, Sulawesi Utara), nanti kita pakai bahasa "Sulawesi". 

Selama bersekolah, aku jadi tahu "banyak" tentang teman-temanku. Mereka semua keren-keren, pintar-pintar, dan masih sangat muda. Kami dari berbagai kalangan, ada yang berprofesi dosen, mahasiswa S3 dan S2, "advokat" masyarakat desa, peneliti, ibu rumah yang aktif di organisasi kemasyarakatan, aktivis organisasi, dan lain sebagainya.

Mereka juga punya bakat dan passion yang berbeda; ada yang suka menulis, ada yang jago gambar, ada yang Putri Daerah (semacam None Jakarta), ada yang suka bikin pelatihan, ada yang membuat sekolah rakyat, ada yang suka bertani, dan lain sebagainya.

Kembali ke Ais, kami saling tahu "luar-dalam". Pagi, di saat aku maskeran, dan menjerang air untuk mandi karena saat itu selalu hujan, Ais asyik membaca bukunya. Aku yang biasanya makannya lama, dan Ais yang makannya cepat menjadi ikut ritmenya karena kami sering ke restoran bersama.

Di kelas, Ais adalah peserta yang aktif. Pada pemateri, pertanyaanya bukan pertanyaan, tapi analisis pemikirannya akan materi atau dan sesuatu hal. Ketika kami ada sesi kelompok, sesi curah pendapat, Ais selalu terlihat menonjol. Menurutku, argumennya selalu logis dan rasional.

Ais pun sangat suka berdiskusi. Jika ritualku memakai skin care sebelum tidur kemudian main hape, sambil menulis di platform, Ais ritualnya "mendebat" hal-hal yang tidak "masuk akal" yang dipelajari di kelas. Di kamar, kalau bukan denganku, dengan si Yuli, sampai teman dari kamar tetangga, Disha juga datang ke kamar kami.

Ada lagi, Ais walau terkadang terlihat serius, namun dia suka iseng, ngerjain orang buat lucu-lucuan, dan kami biasa seru-seruan. Kami pernah dimarahi "kepala sekolah" ketika terlambat ke kelas. Gara-gara aku yang lama bersiap, dan Ais yang sibuk membuat tulisan untuk sebuah platform.

Ais pemikirannya sangat "kiri" yang kuartikan bebas, liar, dan tidak biasa. Namun, kutahu batinnya "kanan", dia berkhidmat pada seorang wali, Imam Lapeo di Sulawesi Barat. 

Aku "belajar" banyak tentang buku dari Ais, walau Ais juga bilang padaku, dia belajar banyak menulis dariku. Dan dia juga bilang, aku yang membuatnya semangat menulis. Padahal, aku menyimpan dan merekam baik-baik kutipannya; "Aku tidak mau mengkhianati bacaanku." (Apa coba?).

Terakhir, aku ingin mengucapkan; Ais, selamat ulang tahun, 09 Januari 2020. Semoga panjang umur, sehat selalu, murah rezeki, dan enteng jodoh. Kata-kata yang biasa, ya? Yang luar biasa, semoga kita bisa ke Jogja, Februari nanti bertemu dengan Buya Syafii, amin.