Dalam beberapa hal, di era penuh dengan keterbukaan. Menjadi Perempuan memang sebuah tantangan. Beraktivitas dalam keterbukaan, memberanikan diri melawan segala ketakutan. Demi untuk menjadi manusia yang diciptakan oleh Tuhan secara utuh. Perempuan.

Tahun 1650an. Pada awal masa abad pergerakan perempuan. Mengawali perjuangan hak dan keadilan sebagai salah satu bagian dari civil society, perempuan, mulai menulis. 

Sebelum patah, kalah, lelah, turun ke jalan menyuarakan aspirasi dan memperjuangkan hak-hak mereka sebagai seorang perempuan. Keterbatasan akses dalam pekerjaan publik dari kebijakan pemerintahan menjadi penghalang besar bagi perempuan untuk dapat berkembang dalam banyak hal.

Akibat dari pada faktor inilah, beberapa diantara mereka memberanikan diri mendobrak tatanan masyarakat yang jauh dari kata layak, bagi perempuan. Mereka kemudian mulai membuat tulisan-tulisan dengan berbagai faktor.

Virginia Woolf dalam buku nya, "A Room of one's own" menyebut implikasi menulis merupakan tindakan yg heroik untuk wanita manapun dari generasinya pada masa itu. Melawan ketakutan, memupuk keberanian.

Banyak perempuan kini yang akhirnya menjadi central. Pusat dari gerbang peradaban masa depan. Perempuan telah bermanuver, belajar bernegosiasi, dan mampu berkompromi dengan keadaan.

Dalam kondisi tersulit. Di tengah himpitan, memposisikan sebaik mungkin fungsi dan peran mereka sebagai perempuan, di mana beban domestik dan publik harus dapat berjalan secara selaras.

Semua itu dapat dilakukan dengan sedikit ambisi dan kegigihan, perempuan memiliki sedikit ilusi, dan meski terkadang mungkin tak terhindarkan, keberanian yang sudah mereka kumpulkan harus menjumpai kegagalan. Dengan daya berpikir kritis dan kecerdasan yang dibangun dengan empati tinggi dalam segala sisi kehidupan.

Kesadaran baru dari refleksi pemikiran dalam buku karya Dr. Nur Rofiah berjudul “Nalar Kritis Muslimah”, Refleksi atas Keperempuanan, Kemanusiaan dan KeIslaman yang dielaborasi bersama dengan refleksi pemikiran perempuan muslimah masa kini dalam satu bentuk opini dan pemahaman baru.

Sudah menjadi ruh dan jiwa perempuan tentang apa yang mereka dapat setelah dilahirkan di muka bumi. Perkara biologis seperti melahirkan, haid, mengandung, menyusui dan nifas melekat pada diri perempuan. Stigmatisasi, subordinasi, juga beban ganda yang diterima sudah menjadi semacam keniscayaan diri perempuan.

Pencampuran seks dan gender, menjadikan perempuan sebagai kelompok tersendiri dalam masyarakat. Menurut Simone de Beauvoir dalam ‘The Second Sex’, akibat pengelompokan sosial itu, perempuan sukar untuk sadar tentang eksistensi pribadinya. Menyuarakan kesetaraan gender adalah bagian dari penyadaran diri bahwa perempuan juga bagian dari anggota masyarakat.

Kesetaraan gender membawa kesamaan kondisi bagi laki-laki atau perempuan guna memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berpartisipasi dalam kegiatan politik, sosial budaya, pendidikan, serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan.

Pada kenyataannya, banyak di antara perempuan yang justru terbuai akan konstruksi sosial budaya yang terbentuk dalam masyarakat. Budaya tradisional sering kali masih mengikuti adat-istiadat yang dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat. 

Tentu, hal demikian tidak dapat dipersalahkan sepenuhnya. Budaya tradisional membawa pengaruh baik dan buruk berdasarkan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat setempat. 

Sejalan dengan arti budaya menurut Selo Soemargo. Bahwa budaya adalah hasil dari karya, rasa dan cipta masyarakat. Meliputi produk teknologi dan kebendaan, jiwa manusia yang selaras dengan norma dan nilai sosial dan kemampuan kognitif, juga mental untuk mengamalkan apa yang diketahuinya.

Di lain sisi, budaya yang terbentuk dalam masyarakat membentuk suatu konstruksi sosial tersendiri tentang citra diri perempuan, mengikuti budaya yang berkembang di lingkungan sekitar.

Tulisan ini tentu sebagai hasil refleksi subjektif penulis dalam melihat realitas sekitar. Ruang publik semakin terbuka, relasi, dan dimensi pergerakan perempuan mendapat akses dan sambutan baik dalam kehidupan masyarakat. 

Dalam beberapa hal, tidak banyak perempuan yang memberi respon dan analisa kritis dalam menjawab keterbukaan akses yang mereka terima. Perihal budaya dan realitas yang berkembang. 

Era modern, dengan kemunculan teknologi-teknologi mutakhir, pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi banyak menyajikan pandangan dunia baru.

Sebagai contoh, konstruksi baru disajikan melalui berbagai platform media sosial, tayangan televisi, dan konten-konten platform media sosial yang semakin masif. Dalam satu atau dua hal, pesatnya perkembangan media sosial menyajikan banyak kemudahan, khususnya perempuan dalam mengaktualisasikan diri dalam banyak hal. 

Dilain sisi, tantangan perkembangan media sosial memberikan pengaruh terhadap mental dan perilaku manusia. Menyoroti nalar kritis dalam merespon segala bentuk perkembangan zaman, dan mengkontekstualisakan dengan nilai dan norma yang dipercayai dalam sebuah masyarakat. 

Bahaya akan perkembangan media, yang tanpa dilakukan penalaran kritis dapat menggerogoti nalar kritis kita, sebagai perempuan. Maka, seyogyanya, perlu adanya peninjauan ulang dari informasi yang kita terima.

Bukan satu pemikiran yang bijak jika menyalahkan akan kemodernan yang berkembang untuk mengatasi banyak kesenjangan yang terjadi saat ini. Kemodernan menyajikan banyak tawaran dan lahan yang cukup lapang bagi pergerakan perempuan masa kini.

Melalui perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang bisa dijadikan acuan bagi perempuan untuk bisa mendapatkan hak-hak nya sebagai masyarakat sipil.