Perempuan bagaikan mutiara yang memiliki nilai tinggi tiada tara, ia istimewa dan dimuliakan dalam Islam. Rasulullah mengangkat derajat perempuan dari kehinaan ke derajat kemuliaan dan posisi setara antara laki-laki dan perempuan telah diatur dalam Islam tanpa ada diskriminasi.

Di dunia Barat, kedudukan perempuan sangat mengenaskan. Perempuan ditindas/dimarjinalkan (dipinggirkan) dalam perannya, dianggap makhluk lemah dan tidak berdaya. Begitu juga dengan bangsa India dalam aturan Manu, perempuan diposisikan sebagai pelayan bagi suami dan ayahnya.

Sebagian dunia Islam juga ada yang memarjinalkan posisi perempuan. Kartini dipingit oleh keluarganya yang yang memegang teguh adat dan budaya di tanah Jawa sehingga ruang geraknya dikekang oleh tradisi. Negeri Pakistan yang eksotis, terdapat peliknya realitas kehidupan perempuan yang hidup di tengah kungkungan tradisi.

Nah, ketika kedudukan perempuan ditindas , lahir suatu konsep perjuangan menuntut hak kesetaraan, keadilan, dan melawan diskriminasi melalui konsep sosial dan menyebarkan ide-ide yang dinamakan dengan feminisme.

Jurnal Pemikiran dan Peradaban Islam Islamia dengan tema Problem Kesetaraan Gender dalam Studi Islam: Bias Paham Feminisme Barat berisikan materi tentang kesetaraan gender yang mengulas kondisi perempuan tertindas sehingga muncul gerakan feminisme melawan penindasan terhadap perempuan.

Dalam pandangan budaya Barat perempuan dianggap sebagai sumber dosa dan merupakan makhluk kelas dua di dunia ini, adapun penurunan status perempuan di Eropa telah terjadi pada 1560 dan 1648.

Doktrin gereja juga menganggap bahwa perempuan sebagai ibu dari dosa yang berakar dari setan jahat, perempuanlah yang menjerumuskan laki-laki ke dalam dosa, kejahatan, dan menuntunnya ke neraka.

Filsuf Immanuel Kant berpendapat bahwa perempuan mempunyai perasaan kuat tentang kecantikan dan keanggunan tetapi kurang dalam aspek kognitif, Francis Bacon dalam esainya menulis kondisi perempuan Inggris saat itu mengalami kehidupan sulit dan keras.

Dari penjelasan di atas dapat digambarkan betapa sedihnya kondisi perempuan di Barat ketika itu, perempuan Barat menjadi makhluk lemah dan tidak berdaya. Ketika perempuan ditindas dan mengalami kehidupan yang kelam, maka muncul gerakan perempuan yang menuntut hak dan kesetaraan dengan kaum laki-laki.

Gerakan ini semakin gencar dan menggema disuarakan ketika revolusi Perancis (1789), kaum perempuan memanfaatkan gejolak politik di tengah revolusi dengan semboyan liberty, equality, fratenity (kebebasan, persamaan, dan persaudaraan).

Gerakan feminisme pada mulanya menggunakan isu hak kesetaraan perempuan sebagai landasan perjuangannya, feminisme akhir 1960-an menggunakan istilah penindasan dan kebebasan yang kemudian feminisme menyatakan dirinya sebagai gerakan pembebasan perempuan dan gerakan ini lahir beberapa aliran feminisme.

Lebih jauh penjelasan tentang feminisme ini dijelaskan oleh Siti Muslikhati dalam bukunya Feminisme dan Pemberdayaan Perempuan dalam Timbangan Islam (Gema Insani Pres, 2004), ia menjelaskan tentang fenomena feminisme di dunia Islam maupun Barat dan pola relasi laki-laki dan wanita dalam perspektif Islam.

Feminisme sebuah ide yang melahirkan gerakan, pembahasan tentang bagaimana feminisme bisa lahir dimulai dengan pemaparan tentang bagaimana masyarakat memandang perempuan, hingga munculnya kesadaran dari sekelompok orang yang berperan sebagai agent of change terhadap adanya ketidakadilan.

Ada beberapa hal yang dianggap tidak menguntungkan pihak perempuan, yaitu: perempuan dalam kondisi tersubordinasi oleh laki-laki, marginalisasi dengan menganggap aktivitas perempuan sebagai tidak produktif, penindasan perempuan karena beban pekerjaan yang berat, dan penyiksaan secara fisik maupun mental.

Uraian di atas, jelas bahwa kedudukan perempuan tak dianggap dalam kehidupan sosial sehingga para gerakan feminisme mengibarkan bendera perjuangannya dalam meraih kebebasan dan melepaskan diri dari belenggu ikatan apa pun.

Feminisme mempunyai kesadaran yang sama tentang adanya ketidakadilan dan mempunyai pandangan yang berbeda dalam menganalisis sebab-sebab terjadinya ketidakadilan serta target dan bentuk perjuangannya. Akibat perbedaan tersebut, lahir beberapa aliran feminisme yang ditulis oleh Siti Muslikhati, antara lain:

Pertama, feminisme liberal. Asumsi dasar aliran ini kebebasan dan keseimbangan berakar pada rasionalitas. Pada dasarnya tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Karena itu, dasar perjuangannya menuntut kesempatan dan hak yang sama bagi setiap individual atas dasar kesamaan sebagai makhluk rasional.

Kedua, feminisme marxis. Berlandaskan pada teori konfliknya Karl Marx yang memandang hak kepemilikan pribadi (private property) merupakan kelembagaan yang menghancurkan keadilan dan kesamaan yang pernah dimiliki masyarakat, sekaligus menjadi pemicu konflik terus menerus dalam masyarakat.

Feminis marxis selalu meletakkan isu perempuan dalam kerangka kritik terhadap kapitalisme dan menganggap penyebab penindasan perempuan lebih bersifat struktural, solusi yang ditawarkan memutus hubungan dengan sistem kapitalis dan menciptakan sistem sosialis.

Ketiga, feminisme radikal. Aliran ini cenderung membenci pihak laki-laki dan mengatakan lembaga perkawinan merupakan lembaga formal untuk menindas perempuan, tugas utama aliran ini menolak institusi keluarga karena menganggap institusi yang melegitimasi dominasi laki-laki sehingga perempuan ditindas.

Keempat, feminisme sosialis. Aliran satu ini mencoba mensintesiskan berbagai perspektif feminis antara teori kelas marxis dan radikal yang menyatakan bahwa subordinasi perempuan hanya bisa dijelaskan dengan uraian yang kompleks dan menurut aliran sosialis penindasan perempuan ada di kelas mana pun.

Keempat aliran di atas merupakan feminisme modern. Pada akhir 1960-an dan sepanjang tahun 1970-an, pergerakan feminisme mendapat perhatian yang luar biasa dari masyarakat dan ide-ide feminisme menjadi isu global.

Semenjak PBB mencanangkan dasawarsa I untuk perempuan pada tahun 1975-1985 dan pada Konferensi Beijing 1995, yang merekomendasikan beberapa hal dalam proses pemberdayaan perempuan meliputi pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan politik.

Perempuan pada awalnya ditindas, dimarjinalkan, dan tak dianggap oleh kekuatan laki-laki, para perempuan pun berjuang menuntut keadilan dan hak kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial dan ruang publik.

Atas pergerakan kaum perempuan melawan ketidakadilan, dewasa ini perempuan jauh lebih maju dan terbuka di berbagai bidang, baik itu di bidang pendidikan dan politik. Bidang politik misalnya, para perempuan pun menunjukkan kualitasnya di pengurus kepartaian, bahkan ada yang duduk di kursi legislatif dan eksekutif.