Perempuan memiliki kebebasan memilih. Setiap pilihannya mengandung tujuan masing-masing yang tidak bisa sama dengan perempuan lainnya. Dikarenakan setiap perempuan memiliki kebutuhan dan keseriusan tujuan hidup yang berbeda-beda.

Memilih salah satu terkadang memang membuat bimbang. Ada yang harus dikorbankan. Harapannya setelah memutuskan tidak terjerumus dalam ketidaknyamanan. Maka dari itu perempuan harus tegas dalam memilih.

Sejatinya perempuan itu luar biasa. Bisa melakukan keduanya. Seperti yang diungkapkan oleh presenter Najwa Shihab, “Kenapa perempuan disuruh memilih? Bukankah kita bisa mendapatkan keduanya? Pertanyaan itu seolah-olah membuat perempuan tak berdaya.”

Memang ada benarnya yang disampaikan oleh Najwa Shihab. Namun, pernyataan tersebut tidak bisa berlaku untuk semua perempuan. Dikarenakan kondisi serta kebutuhan yang tidak sama dari setiap perempuan. Ada yang menjadi prioritas. Setiap pilihan didasarkan pada prioritas tersebut.

Kini, baik laki-laki maupun perempuan memiliki kesempatan sama untuk bisa mengenyam pendidikan tinggi hingga berlanjut sampai berkarier. Kesempatan ini tentunya baik. Bisa menjadi bekal untuk menjalani pernikahan, sebab menikah butuh modal.

Pada tahap kehidupan berumah tangga memang laki-laki yang memiliki tanggung jawab untuk menafkahi keluarga, dalam bentuk salah satunya yaitu dengan bekerja. Lalu, bagaimana dengan perempuan?

Kehidupan setelah menikah memanglah tidak sama seperti masa-masa masih sendiri. Kini ada pasangan yang harus dipedulikan serta dipenuhi kebutuhannya. Perempuan yang dulunya sebelum menikah memiliki karier bagus dan peluang luas untuk terus berkarya, ternyata setelah menikah menghadapi pilihan untuk tetap melanjutkan kariernya atau memilih ikut suami di tempat tinggal yang baru.

Pada perjalanan kehidupan rumah tangga berikutnya. Perempuan yang menjadi istri sekaligus wanita karier kini dihadapkan juga pada pilihan yaitu menjadi ibu rumah tangga full time karena sudah ada kehadiran anak, ataukah tetap berlanjut berkarier sekaligus mengurus anak.

Terkadang perempuan merasa dilema pada kondisi ini. Manakah yang lebih baik untuk dipilih sekaligus dijalani? Sekali lagi harus ada yang diprioritaskan sesuai kebutuhan keluarga masing-masing. Ada ibu yang memiliki anak dan tetap bekerja dengan tujuan membantu finansial keluarga supaya lebih stabil. Ada juga perempuan yang lebih menghendaki menjadi ibu full time.

Keputusan tersebut tidak ada yang salah. Keduanya mengasyikkan dan memiliki tantangan. Konsekuensi dari kedua pilihan tersebut pun tidak bisa ditolak. Ketika perempuan memutuskan jalan hidupnya yang baru tentu saja membutuhkan perencanaan yang tepat. Banyak hal yang harus dipertimbangkan melalui diskusi bersama pasangan.

Bagi perempuan yang menjadi ibu dan tetap bekerja di luar perlu mengatur waktu dengan baik untuk tetap menjalankan tugas utamanya di rumah sebagai istri serta ibu dari anak-anaknya. Apabila tercipta aktivitas yang seimbang antara pekerjaan di luar dan tugas di rumah, maka hal ini bisa menjadi contoh yang baik terutama bagi anak.

Perempuan yang lebih memilih menjadi ibu full time. Engkau juga menjadi contoh yang baik untuk anak-anakmu. Ada yang datang, ada yang hilang. Sebelum menjadi ibu mungkin memiliki segala aktivitas di luar yang mengasyikkan untuk mengembangkan diri. Kini setelah mememilih ibu full time, interaksi dengan orang lain di luar menjadi berkurang.

Aktivitas monoton menjadi ibu dan istri di rumah terkadang memicu tingkat stress perempuan. Hingga datang penyesalan yang tidak seharusnya dihadirkan. Apabila tidak segera didingikan maka memiliki efek tidak baik bagi keluarga.

Hidup memang sawang sinawang. Melihat perempuan yang menjadi ibu dan tetap bisa bekerja di luar, bisa berinteraksi dengan banyak orang, rasanya sangat mengasyikkan bagi IRT full time yang melihat. Demikian juga bagi ibu yang bekerja di luar, melihat IRT full time rasanya lebih menyenangkan karena tidak perlu berlelah-lelah bekerja di luar sehingga bisa memiliki waktu lebih banyak bersama suami dan anak-anak.

Keduanya sama saja, baik ibu bekerja di luar ataukah ibu full time di rumah. Sama-sama memiliki waktu dan kesempatan yang hilang. Seperti di awal tulisan bahwa keduanya sama-sama ada yang dikorbankan. Sebelum memilih supaya tidak terjerumus pada penyesalan lebih baik diskusikan lagi bersama pasangan. Sesuaikan dengan kebutuhan keluarga.

Baik ibu bekerja di luar maupun full time di rumah, keduanya tetap memiliki peran yang sama. Hanya saja jalannya yang berbeda. Sehingga rasanya tidak perlu lagi ada gunjingan untuk keduanya. Bagi orang lain yang melihat mungkin ada yang tidak sesuai dengan pilihan kita. Namun, penilaian orang lain tidak perlu terlalu dirisaukan, sebab yang mengetahui kebutuhan kita adalah keluarga kita sendiri. Apapun pilihannya, yang menanggung segala konsekuensinya adalah keluarga kita.

Bagi ibu bekerja di luar, tenang saja. Peranmu menjadi ibu tidak akan hilang dengan mengatur waktu yang baik untuk kebutuhan anak dan kebutuhan suami di rumah. Engkau memiliki kesempatan melakukan keduanya. Mensyukuri dan menjalani penuh tanggung jawab adalah keharusan.

Begitupun dengan ibu full time  di rumah. Tidak perlu stress dengan segala aktivitas monoton menjadi IRT. Engkau pun tetap bisa berkarya di rumah. Suami yang mendukung istri adalah laki-laki yang menjadikan perempuannya berdaya walaupun di rumah saja mengurus keluarga.

Tidak sedikit ibu full time yang sangat menikmati waktunya di rumah bersama suami dan anak-anaknya sambil tetap produktif berkarya mengembangkan dirinya menjadi perempuan hebat. Pilihan ini bukanlah pilihan remeh. Mengurus rumah tangga dengan baik adalah hal yang sangat mulia.

Gelar pendidikan serta pengalaman yang pernah didapat tidak akan hilang sia-sia. Tetap akan berguna untuk keluarga. Sebab menjadi istri dan ibu juga butuh ilmu. Ibu full time bisa memanfaatkan segala pengalaman yang pernah didapatnya untuk kebaikan keluarga.

Apapun yang menjadi pilihan, jika dijalankan dengan ikhlas maka terasa lebih menyenangkan. Keduanya pun tetap bisa mencipta dan menghasilkan banyak kebaikan yang bisa dirasakan manfaatnya untuk banyak orang. Lebih baik kita sendiri menghormati apa yang sudah menjadi keputusan dan tetap maju untuk menjadi ibu rumah tangga yang sukses.