Kita semua pernah mendengar orang-orang di luar sana berkata kalau perempuan itu andal dalam urusan multitasking. Apa pun tugas bisa dikerjakan secara bersamaan dalam satu waktu. Mengurus anak, suami, pekerjaan rumah serta tak lupa mengurus dirinya sendiri.

Betapa sibuknya perempuan selama 24 jam sehari hanya untuk melakukan hal-hal tersebut, mungkin selain itu masih ada lagi pekerjaan tambahan yang harus diurusinya.

Sebuah gambaran dari keluarga ayah saya. Saat libur kuliah saya sering berkunjung ke rumah adik ayah saya. Di sana secara langsung saya memperhatikan bagaimana beliau yang biasa saya panggil Bou mengerjakan seluruh aktivitasnya.

Mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga, memiliki dua anak laki-laki yang masih sekolah dan suami yang bekerja di luar. Semua pekerjaan rumah selesai oleh beliau termasuk mengurus pakaian anak-anak dan suami sebelum berangkat ke luar rumah.

Kadang saya suka geleng-geleng kepala sendiri melihatnya. Saat mencuci piring Bou masih sempat-sempatnya memilah pakaian kotor untuk dicuci, setelah dua pekerjaan itu selesai ia lanjut dengan menyapu rumah, sembari menunggu kain dicuci oleh mesin Bou malah menyapu halaman dan menyiram tanaman.

Semua itu dilakukan dalam waktu yang bersamaan. Walaupun kadang saya ikut membantunya. Ketika itu saya berpikir perempuan itu ternyata tenaganya sangat banyak dan kuat, ia bisa mengatur  waktu untuk sesuatu yang bisa dikerjakan secara bersamaan. 

Nanti setelah semua pekerjaan rumahnya selesai, barulah menyibukkan diri seperti tiduran sambil nonton televisi atau lihat akun sosial media di handphone. Bagi saya itu adalah sebuah kebanggaan menjadi perempuan.

Bagaimana tidak? Melihat rumah bisa bersih padahal lagi berantakan dari pagi adalah kesenangan yang perlu diapresiasi oleh diri sendiri, seperti duduk minum teh atau makan cemilan.

Meski nanti ketika anak-anak pulang sekolah rumah akan kembali berantakan, dan tentunya akan bersih lagi di sore hari. Begitulah siklus hidup Bou selama di rumah. Menjadi seorang ibu dan isteri.

Bukan satu orang saja yang sering saya amati, ibu saya di rumah juga seperti itu. Apalagi saat malam hari ibu masih mengurusi pekerjaannya sebagai coach salah satu produk nutrisi, karena selain jam malam dirinya sibuk mengurus toko di pasar serta rumah yang isinya harus dibersihkan.

Makanya saya setuju dengan anggapan perempuan itu seorang yang pandai multitasking dibandingkan laki-laki. Dilansir dari cnnindonesia.com para peneliti melakukan tes kedua, sekelompok perempuan dan laki-laki diberi waktu delapan menit menyelesaikan serangkaian tugas. 

Dari menemukan restoran pada peta, menjawab pertanyaan matematika sederhana, menjawab panggilan telepon, dan memutuskan bagaimana mencari kunci hilang di lapangan.

Tugas itu memaksa laki-laki dan perempuan membuat prioritas, mengatur waktu, dan tetap tenang di bawah tekanan. Dalam tugas mencari kunci perempuan menampilkan kinerja lebih unggul dari laki-laki, kata Keith Laws, profesor dari University of Hertfordshire.

“Anda dapat melihat dari gambar, perempuan menggunakan pola pencarian metodis, seperti berkeliling lapangan dalam lingkup persegi panjang konsentris. Itu strategi yang produktif untuk menemukan benda hilang.”

Laws mengatakan, perempuan lebih terorganisir saat berada di bawah tekanan. “Mereka menghabiskan lebih banyak waktu di awal untuk berpikir. Sementara, laki-laki memiliki impulsif sedikit dan mereka melompat terlalu cepat,” kata Laws.

Hal itu menunjukkan bahwa dalam situasi stres dan kompleks, perempuan lebih mampu berhenti dan berpikir apa yang terjadi di depan mereka.” Secara keseluruhan mereka menyimpulkan, perempuan mempunyai keunggulan lebih dari laki-laki dalam hal multitasking. Atau, setidaknya dalam situasi tertentu.

Namun adakalanya meski unggul dalam multitasking tentu seorang perempuan tidak mengabaikan bantuan dari laki-laki. Contohnya saja saya ketika membantu ibu melakukan pekerjaan rumah. Saya memasak sedangkan adik laki-laki saya menjemur pakaian. Sehingga pelan-pelan pekerjaan rumah selesai dengan rapi.

Tes yang dilakukan oleh peneliti tersebut ada benarnya juga dalam kondisi tertekan perempuan lebih banyak menunjukkan aksi multitaskingnya. Ia berdiam diri sehingga membuat dirinya harus berpikir untuk mengatur waktu, agar sesuatu yang harus dikerjakan cepat bisa selesai dengan baik.

Melihat barang-barang di rumah yang mana yang akan dikerjakan terlebih dahulu. Mungkin ibu yang memiliki anak balita akan dahulu membereskan mainan anaknya, setelah itu diselingi dengan menyapu, mengepel lantai sehingga kembali bersih.

Tentu itu tidak mudah dilakukan bagi perempuan jika tidak terlatih sejak usia muda. Belajar mandiri untuk mengurus diri sendiri. Misalnya hidup di rantau, tentu yang bisa mengatur jam tidur, makan, tugas-tugas kuliah, main bareng teman dan lainnya adalah kita sendiri. Karena hidup sendiri maka harus mampu bertahan.

Jika ada waktu luang kerjakan hal yang berguna, intinya perempuan itu harus bisa menempatkan waktu dengan baik. Jangan hanya rebahan di kasur kemudian lalai mengurusi pakaian, piring kotor yang menumpuk, tugas yang dikejar deadline dan hal-hal yang harus dikerjakan sehari-hari.

Setelah kita mampu mengenali diri sendiri maka pelan-pelan multitasking itu akan terasa. Saya pernah mengalaminya dan itu memang benar terasa letihnya. Ketika itu orang tua sedang tidak di rumah. Otomatis saya harus menjadi ibu serta ayah bagi kedua adik saya. Melakukan pekerjaan rumah seperti yang dilakukan ibu.

Pagi hari harus bangun menyiapkan makanan, kemudian mengurus keperluan adik yang paling kecil, mengantar pergi sekolah. Setelah itu bereskan isi rumah yang berantakan. Apalagi jika wujud rumah cukup besar, menyapu dari ujung lantai ke ujung lantai lainnya lama selesai. Mungkin untuk istirahat saja harus menunggu jam makan siang.

Mungkin kedengerannya sederhana. “Ah kan cuma bersihkan rumah, itu hal yang wajar dilakukan perempuan” wajar juga dilakukan oleh laki-laki yang ditinggal istrinya keluar saat sedang ada keperluan mendesak. Mungkin pekerjaan rumah tidak serapi yang dikerjakan perempuan.

Ketika ayah saya membereskan isi rumah masih ada tugas yang ketinggalan atau hanya memilih yang rasanya penting untuk dikerjakan.  Seperti memasak karena itu kebutuhan di setiap jam makan, atau menyapu. Mungkin mencuci baju takkan dikerjakan hari itu karena masih ada hari esok. Namun setidaknya sudah membantu tugas-tugas isteri di rumah.

Begitulah perempuan dengan keahlian multitaskingnya, melelahkan namun menyenangkan. Di sana kita bisa melihat betapa perempuan itu harus dihargai, diapresiasi bahkan dibanggakan. Karena kehadiran perempuan yang menjelma menjadi ibu dan isteri ditengah keluarga pasti tujuannya ingin melakukan hal terbaik untuk anggota keluarganya.

Tidak ada perempuan yang menginginkan tugas-tugasnya dibiarkan begitu saja. Kalau ada mungkin hanya perempuan malas dan acuh yang bisa menempatkan posisi itu. 

Maka mulai dari sekarang, belajarlah untuk mampu mengurus keperluan sendiri, kenali kekurangan diri setelah itu perbaiki pelan-pelan. Jangan sampai ketika sudah memiliki keluarga kita akan terkejut melihat banyaknya tugas-tugas, meski Teamwork akan selalu ada.