Hadir sebagai Objek atau subjek yang menarik atau memiliki daya tarik dibandingkan dengan lawan jenisnya. Menjadi fenomena sepanjang masa yang tak habis dibicarakan. Perempuan dan Wanita menjadi konstruksi penting dalam setiap potret kehidupan. Perannya tak tergantikan, kedudukannya istimewa dan posisinya strategis.

Kehadiran mereka menentukan warna dalam setiap lembaran cerita anak manusia. Diciptakan dan dipuja untuk menyempurnakan hidup pasangannya, dimuliakan sebagai ratu dan ibu dari anak-anaknya, dijaga dan dibesarkan bak putri raja oleh kedua orang tuanya. Arti, makna, kedudukan perempuan dan wanita jangan dipandang sebelah mata.

Maka tak bijaksana jika perempuan dan wanita hanya diartikan sebatas makna dalam kat-kata. Buat saya perempuan dan wanita mewakili setiap proses panjang perjalanan yang mereka lalui dari masa ke masa.  Keanggunan yang lahir dari setiap generasi hingga kini tak luput dalam layar genggaman menjadi ilham bagi mereka yang memujanya.

Namun sayangnya, diatas kertas mereka dimaknai terbatas. KBBI masih tak beranjak menampilkan arti perempuan hanya sebatas pembeda gender dan kelamin. Mendefinisikan perempuan hanya sebatas fitrah yang dimilikinya serta arti konotatif yang melekat padanya. Lalu apakah wanita diartikan lebih baik diatas kertas dan realitas.

Berbagai studi, pertemuan hingga kongres besar digelar untuk wanita. Hingga mengukuhkan bahwa penyebutan wanita dianggap lebih terhormat dibandingkan perempuan. Derajat kata wanita lebih tinggi karena menunjukkan gelar atau profesi yang dimilikinya. Definisi ini tidak lahir begitu saja, wanita ditempatkan berbeda karena tuntutan perannya yang semakin luas di masyarakat sesuai perubahan zaman. 

Perempuan dahulu dikenal hanya memiliki peran dan cita-cita kecil dan terbatas. Yaitu dididik dan diasuh oleh orang tuanya untuk menjadi anak yang berbakti, menjadi istri idaman dan menjadi Ibu rumah tangga yang baik. Diera modern, ketika mereka mulai diberi ruang pendidikan yang lebih baik, eksistensi mereka mulai nyata, karena dapat berkarya dan menarik lebih banya perhatian massa. 

Walaupun belum merata, kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang lebih baik membuka paradigma bahwa perempuan yang hebat adalah yang mandiri dan dapat bersanding dengan laki-laki karena karirnya. Sehingga kedudukan perempuan dimata masyarakat terdongkrak dengan predikat wanita karir yang disempatkan. Dan bagi mereka yang tetap diam dirumah akhirnya dianggap kuno. 

Kemudian wanita karir dengan berbagai prestasinya menjadi primadona dan perbincangan. Menjadi magnet bagi banyak mata memadang, menjadi objek eksplorasi bagi media dan pemberitaan. Dan perhatian yang didapatkannya menenggelamkan keanggunan perempuan yang dijaga diantara benteng budaya dan agama. Yang sengaja disembunyikan agar tetap terjaga bak putri raja.

Apa yang terjadi ketika perempuan dan wanita tidak hanya terlihat dan terlibat dalam lingkup nyata. Tapi ada dalam dunia maya yang tak berhenti mengumbar arti, makna dan kedudukan perempuan dan wanita dalam sorotan like, share dan followers-nya. Dengan mudahnya potret perempuan dan wanita yang eksklusif menjadi inklusif, mudah dibagikan dalam genggaman. 

Teknologi yang menghadirkan dunia tanpa batas dan jarak, yang mampu menyibak misteri dan membuka cakrawala ternyata tak cukup upaya untuk menjaga dan memelihara makna serta derajat wanita yang tak lagi dipandang sebelah mata. Potret dalam genggaman kembali menghadirkan perempuan-perempuan klise yang hadir hanya untuk memenuhi lamunan dan angan. 

Amat disayangkan, ketika potret klise itu sudah menghiasi hidup perempuan-perempuan kecil yang masih berada dalam pelukan sang Ibu yang juga larut dalam genggaman maya. Ketika sang ratu rumah dan keluarga mulai lupa akan peran utama mereka untuk memperkenalkan apa sesungguhnya dunia. Maka perempuan yang akan tumbuh menjadi wanita ini tak akan mampu untuk membedakan baik dan buruk hingga memahami apa itu malu.

Berbicara tentang Perempuan dan Wanita, maka media adalah pihak yang memiliki kekuatan untuk memelihara arti dan maknai keduanya. Dalam genggaman media perempuan dan wanita dijadikan subjek maupun objek atau keduanya dengan tujuan menyampaikan apa yang dianggapnya penting. Maka perempuan dan wanita yang bijak adalah yang mampu memelihara diri dan keluarganya dari fatamorgana media.

Dari masa ke masa derajat perempuan dan wanita diciptakan oleh kuatnya makna yang digaungkan media. Dan tak dapat dipungkiri media menjadi pemimpin opini masyarakat dalam memaknai dan menempatkan posisi perempuan atau wanita dalam setiap potret kehidupan yang disebarluaskan. Kemudian pertanyaannya, perempuan atau wanita kah yang lebih baik digunakan untuk penyebutan. Berikut adalah perjalanan lahirnya kata perempuan dan wanita. 

Menurut sebuah artikel, Kata perempuan dan wanita secara etimologis berasal dari bahasa Sansekerta dan bahasa jawa kuno yang mengalami proses asimilasi dan penyerapan kedalam bahasa Indonesia. Dan pada akhirnya kedua kata digunakan sesuai dengan fungsi pesan yang ingin disampaikan. Atau bisa dibilang kata ini dipolitisasi dan menjadi produk komersil dalam genggaman pengguna dan penggunaannya.

Perempuan dari kata Sangsekerta yaitu 'pu' berarti hormat, kehormatan. 'Empu' dari bahasa Jawa kuno yang berarti tuan, mulia, hormat. Diadopsi ke dalam Bahasa Indonesia dengan imbuhan ‘per’ dan ‘an’ yang membentuk kata ‘perempuan’. Wanita dari Kata Sangsekerta 'van' berarti ingin, 'ita'  berarti 'yang di' (dalam bentuk pasif) dan menjadi yang diinginkan. Lalu diserap oleh bahasa Jawa kuno menjadi 'wanita' dan serta digunakan dalam Bahasa Indonesia (http://rmibogor.id/). 

Ternyata tidak ada yang salah dengan penggunaan kata perempuan atau wanita, keduanya memiliki arti dan makna yang sama terhormatnya. Bergesernya kedudukan kata perempuan dan wanita terjadi saat dilekatkan pada siapa dan kapan. Kemudian arti dan makna keduanya dapat terkikis, hilang atau berganti atas kuasa sang media. Silahkan menyimpulkan, karena kata dan bahasa adalah sebuah penghargaan dan juga label yang disematkan