Membaca Genduk, melihat pencarian permata di dalam tambang. Ada kemewahan yang ingin diraih dengan kerja keras. Uletnya kemauan yang mesti memerah bergalon-galon keringat demi merasakan kesejahteraan. Biar peluh berleleran membasah tubuh, hidup tak boleh dibiarkan terus terjatuh. 

Membaca Genduk, mendengar kesusahan para petani tembakau di lereng Sindoro. Jenis tanaman andalan, pembikin kaya raya tapi juga sebaliknya bisa membikin seseorang kehilangan nyawa. Kenikmatan hisapan pada tiap batang rokok, dimulai dari sekian langkah penuh duri dan sekian pertaruhan para petani.

Membaca Genduk, merasakan keteguhan perempuan. Perempuan yang melawan keputusan orang tua. Perempuan yang ditinggal mati suami. Perempuan yang menanam tembakau sendiri, untuk menghidupi putri semata-wayangnya. Perempuan yang menutupi diri dengan keteguhan, meski sebenarnya di dalamnya penuh kerapuhan. 
Membaca Genduk adalah membaca hikayat perempuan dan perjuangannya di ladang tembakau.

Genduk dan Ketegaran Semu Perempuan

Novel ‘tembakau’ ini terbit usai kabar tak jelas akan naiknya harga rokok, hingga minimal Rp. 50.000. Media (sosial, konvensional, elektronik), geger. Para jama’ah berasap banyak yang muntab dan misuh-misuh tidak keruan. Penulis kondang novel kekinian yang digandrungi oleh sebagian besar remaja yang baru bisa membersihkan ingusnya, turut berdebat dengan menyajikan data-data kerugian jika mengonsumsi rokok.

Lebih jauh dari itu, para pegiat literasi atau para penulis yang tak bisa nulis kalau tidak disambi ngudud, juga tampil di panggung perdebatan. Mereka banyak menyajikan kiprah tembakau dalam membangun negeri. Segala tetek-bengek keuntungan yang diraup oleh negara, dan bagaimana tembakau telah menciptakan mata rantai pekerjaan yang menyejahterakan kaum kere negeri ini, diungkap.

Turut memperiuh, Gramedia Pustaka Utama menerbitkan Genduk (2016) garapan Sundari Mardjuki. Buku roman drama yang berkisah tentang seorang putri petani tembakau miskin bernama Genduk, di lereng Sindoro.

Ringinsari, nama desa tempat Genduk tinggal. Ia hidup berdua di gubuk reyot bersama Biyungnya—Ibunya. Bapaknya meninggal di Kediri ketika geger PKI, persis usai Genduk lahir. Bapaknya adalah seorang aktivis Islam, yang merasa terpanggil dalam kemelut berdarah itu. Tapi, kabar meninggalnya tak pernah diketahui oleh ibunda Genduk.

Janda aktivis Islam ini mengarungi samudera kerasnya hidup sendiri. Ia, layaknya para petani di lereng Sindoro, menanam tembakau. Beradu nasib dengan para petani lain, beradu keberuntungan dengan para petani lain, yang rata-rata adalah lelaki. Ia, gadis yang digambarkan cantik, memilih menikah dengan lelaki jago ngaji, tapi tak direstui oleh orang tuanya.

Ibu Genduk, menggarap ladang kecilnya di lereng gunung sendiri. Ia juga menanam tembakau saat musimnya tiba, berharap dapat rezeki dan dapat membayar hutang.

Kisah yang berlatar tahun 1970an ini adalah sebuah kisah perjuangan seorang perempuan dengan ikhtiar tegar menghadapi kerasnya hidup. Seperti kata Nawal El-Shadawi dalam novelnya Perempuan di Titik Nol, “kehidupan itu keras seperti batu. Maka kita harus lebih keras dari batu agar bisa memenangkan pertarungan dalam hidup ini.”

Orang tuanya, yang kaya raya karena luasnya tanah dan panenan tembakau yang menguntungkan, memutuskan untuk menghukum tindakan idealis gadis cantik itu. Ia, tak diberi warisan dan tak mendapat kekayaan apa pun. Namun ia tegar di atas fondasi cinta yang ia bangun.

Sialnya, ketegaran itu harus digampar dengan musibah saat kelahiran Genduk. Sang suami pergi ikut “berjuang”, dan tak pernah lagi kembali. Kabar pun juga tak ada. Akhirnya, si janda harus menghidupi putrinya seorang diri.

Dalam tekanan rindu akut, Genduk, putri semata wayangnya yang beranjak dewasa, tokoh pemilik judul buku, minggat dari rumah mencari kabar bapaknya. Ia berjalan ke kota Parakan dan di kota itulah ia mendapati kabar bahwa sang bapak mati di Kediri. Pulangnya, Genduk menceritakan kabar itu.

Janda yang selama ini dikagumi oleh Genduk sebagai seorang perempuan perkasa, sebagai seorang perempuan yang ulet, tegas, kuat dan tegar, membuka topengnya. Ia menangis penuh sedu-sedan.

Tangisnya seperti sebuah bendungan yang kokoh selama puluhan tahun, tapi tiba-tiba volume air yang terlalu banyak menghancurkan bendungan itu. Ia tumpahkan seluruh rindu, seluruh cinta, seluruh dendam, seluruh kerapuhan yang ia tutupi dengan ketegaran pada tangisnya malam itu.

Cina Penyelamat

Para juragan tembakau adalah orang-orang Cina. Salah satunya Tjo Tian Djan. Para juragan ini biasanya mendapat tembakau dari para gaok, atau makelar. Para petani jarang memiliki akses langsung dengan juragan. Juragan tembakau hanya menerima hasil tembakau dari para makelar yang mempermainkan harga, mengintimidasi petani, menilai kualitas tembakau petani, dan mengirimnya ke juragan.

Ketika tembakau biyungnya Genduk ini sudah di tangan makelar, dan si makelar berjanji akan memberi harga bagus, tapi rupanya ia dibohongi. Hutang untuk modal tanam tembakau tidak akan terbayar. Harga tembakau justru dibanting oleh makelar, yang jika uang itu diterima petani, uangnya tidak cukup bahkan untuk menutup modal.

Salah satu korban makelar ini adalah Pak Wondo, bapaknya Jirah, teman main Genduk. Pak Wondo ngendhat, alias gantung diri. Desa geger. Kejadian seperti bunuh diri ini, menurut para petani tembakau di Temanggung, kadang kala memang terjadi.

Tjo Tian Djan inilah penyelamat tembakau biyungnya Genduk dari malapetaka yang diciptakan gaok. Dalam kisah minggatnya Genduk ke Parakan, Genduk sempat terlibat sebuah “kebetulan” yang melibatkan dirinya, sebuah truk, dan cucu Babah Djan.

Genduk berhasil menarik tangan cucu juragan tembakau itu, saat nyelonong dan hampir dicipok oleh truk. Cucu itu pun selamat dan Genduk mendapat ganjaran berupa giok. Giok itu bisa digunakan oleh Genduk jika ingin minta sesuatu kepada Babah Djan.

Giok itulah yang akhirnya jadi alasan Genduk mengajak pamannya untuk ke Parakan, mencoba menjual tembakau, melangkahi para makelar, dan salah satu makelar yang telah menipu biyungnya Genduk. Gara-gara itulah, akses ke juragan tembakau bisa dilakukan. Tembakau biyungnya Genduk terselamatkan. Tapi paman Genduk mendapat ganjaran dengan perut ditusuk belati dari gaok, meski tidak mati.

Tembakau itulah yang banyak membentuk mentalitas dan kebudayaan masyarakat di lereng Sindoro dan Sumbing. Sebagian hidup masyarakat yang beruntung, hidup gemerlapan penuh dengan kekayaan, hasil dari tembakau. Bahkan, tembakau paling mahal, tembakau srinthil, sering dipuja. Kisah tentang srinthil turut menyeret mitos tentang pulung dan keberuntungan musim pada diri seorang petani.

Salah satu cerita tentang kekayaan hasil tembakau yang diraup oleh petani adalah Kisut. Petani ini sukses menjual tembakau dan pulang membawa kulkas. Semua orang menonton barang tersebut karena masih asing. Orang-orang hanya mendengar “konon”, kotak itu bisa mengeraskan air menjadi es.

Tapi kulkas itu hanya berguna sebagai lemari pakaian, karena saat itu Pak Lurah saja menyalakan tivi masih dengan aki. “Iki sampeyan kok bergaya beli kulkas segala. Mau dicolokin di mana? Di hidung sampeyan opo?” kata salah satu penduduk yang paham sedikit soal listrik.