Saya cukup terganggu dengan alasan perempuan yang sedang mengalami ketidakstabilan emosi, lalu meminta orang lain untuk mewajarkan mood swingnya hanya karena mereka sedang mengalami Pra Menstrual Syndrome (PMS).

Di satu sisi, saya nggak pernah mengalami ketidakstabilan emosi yang parah saat pra-menstruasi. Emosi saya bisa tidak stabil kapan pun jika memang ada pemicunya. Saya selalu menemukan alasan jelas yang membuat saya emosi, meskipun cukup lama untuk merangkai kata di otak dengan runut agar dapat menjelaskan permasalahan apa yang saya alami sehingga saya bisa emosi.

Di sisi yang lain, saya punya empati terhadap sesama perempuan. Saya pun mengalami proses ketubuhan itu, saya merasakan juga rahim saya berkontraksi dan nyeri saat pra menstruasi hingga hari pertama menstruasi saya tiba.

Saya nggak bisa menyamaratakan proses menstruasi setiap perempuan, jadi, saya nggak akan melabeli salah dan benar atas sikap yang (dianggap) menyebalkan perempuan ketika mereka sedang ada di fase pra-menstruasi seperti marah-marah, mudah tersinggung, cemas, uring-uringan, mendadak sedih, dan sebagainya.

Untuk itu, saya mencoba memahami kembali pelajaran biologi yang dulu sempat saya pelajari tanpa minat, cuma menghafal dan lalu menguap gitu aja. Sekarang, sedikit saya pelajari kembali bagaimana proses menstruasi terjadi? Apa itu PMS? Bisakah PMS diatasi? Berikut pemahaman yang saya tangkap.

Perempuan dan proses reproduksi yang terjadi pada tubuhnya ternyata unik. Sangat menarik buat diselami. Setiap bulan, perempuan akan mengalami proses alamiah tubuh yang biasa kita sebut dengan menstruasi. Pada proses ini, dinding rahim yang disiapkan untuk menampung sel telur yang telah dibuahi, akan meluruh akibat tidak terjadi proses pembuahan/kehamilan.

Sebelum menstruasi, ada beberapa fase di mana hormon-hormon pada tubuh perempuan 'bermain' di sini. Fase-fase ini disebut sebagai siklus menstruasi. Hormon-hormon yang ‘bermain’ dalam siklus ini antara lain estrogen, progesteron, Gonadotrophin-releasing hormone (GnRh), Follicle stimulating hormone (FSH), dan Luteinizing hormone (LH) [1].

Saya nggak akan bahas satu per satu fungsi dan peran hormonnya, kita ambil saja salah satunya adalah hormon estrogen. Kadar hormon ini akan meningkat pada fase ovulasi dan turun pada fase luteal, di mana dia berperan dalam pematangan sel telur dan penebalan dinding rahim[2]. Penebalan dinding rahim berfungsi menjaga agar sel telur yang dikeluarkan dari indungnya (ovarium) bisa ditampung rahim dan dibuahi oleh sperma.

Nah, kalau sel telur nggak dibuahi dan nggak terjadi kehamilan, menjelang mens, kadar hormon estrogen akan menurun karena dia udah nggak dibutuhkan lagi untuk menahan penebalan dinding rahim. Penurunan kadar estrogen menjadikan dinding rahim meluruh, yang kita sebut dengan menstruasi. Setelah hari pertama menstruasi terjadi, kadar hormon dalam tubuh mulai kembali normal.

Fluktuasi (naik-turunnya) kadar hormon estrogen dalam tubuh perempuan ternyata dapat mempengaruhi kadar hormon serotonin di otak, yang mana dia bertugas mengatur emosi dan suasana hati. Hormon ini juga berkaitan erat dengan depresi, kelelahan, dan kecemasan kalau kadarnya rendah. 

Sindroma pra menstruasi (PMS) sendiri merupakan gejala fisik, emosi dan psikologis yang terkait dengan siklus menstruasi [3]. Gejala fisik umumnya seperti kram di perut, lemas, cepat lapar, payudara membengkak. Kalau gejala emosi dan psikologis umumnya seperti mudah tersinggung, gelisah, letih, serta diliputi rasa sedih. 

Baca Juga: Menstruasi

Biasanya dialami 6-10 hari sebelum menstruasi. Untuk frekuensi keparahan gejalanya, setiap perempuan tentu mengalami tingkatan yang berbeda-beda. 

Saya akhirnya berpikir, bahwa PMS adalah sebuah permasalahan. Sedangkan siklus menstruasi dan segala faktor hormonalnya merupakan keniscayaan, artinya sudah proses alamiah tubuh dan rahim perempuan, deh. Saya meyakini bahwa setiap permasalahan yang tuhan ciptakan kepada makhluknya, itu pasti Dia ciptakan pula solusinya. 

Jadi, saya memandang PMS sebagai sebuah permasalahan yang tentu ada solusinya. Dengan catatan kita mau lebih memahami diri dan proses yang ada dalam tubuh.

Menurut studi literatur dalam Jurnal Kesehatan Masyarakat oleh Mery Ramadani (2013) tentang Premenstrual Syndrome (PMS), ada beberapa faktor yang menyebabkan gejala PMS ini muncul, yaitu faktor hormonal, perubahan kadar serotonin, faktor genetik, faktor psikologis, faktor aktivitas fisik, dan asupan nutrisi (Magnesium, Kalsium, dan Vitamin B). Saya pribadi menyoroti faktor psikologis, aktivitas fisik dan asupan nutrisi.

Untuk faktor psikologis, gejala emosi PMS akan semakin terasa nyata. Karena, nggak harus orang lagi pra menstruasi, deh. Manusia, terlepas dari gendernya, kalau lagi kelelahan, stress, banyak tekanan psikologis dari luar dirinya, kan pasti bawaannya ingin marah-marah, emosi nggak kekontrol, dan mudah tersinggung. Bisa dibayangkan kalau itu terjadi pada perempuan yang di dalam tubuhnya ada proses perubahan hormon macam-macam.

Faktor aktivitas fisik seperti kurangnya olahraga juga berpengaruh. Jadi, rutin olahraga bisa menjadi solusi mengurangi gejala PMS, karena efek dari olahraga sendiri bisa meningkatkan hormon endorfin dan serotonin yang bisa membuat mood baik. Selain itu, meditasi juga bisa membantu. Di dalam meditasi, kita diajarkan untuk mengatur dan mengontrol nafas kita, sehingga emosi bisa lebih stabil.

Status gizi dan asupan nutrisi ternyata bisa ngaruh juga. Perempuan dengan status kelebihan ataupun kekurangan gizi lebih banyak mengalami gejala PMS [4]. Nutrisi yang cukup seperti magnesium (sayuran hijau, pisang), kalsium (susu, yogurt), dan Vitamin B (daging, ikan) juga punya peran penting. Kesemuanya bisa mengurangi gelisah dan depresi, begitupun dengan keluhan fisik seperti kelelahan pada pengidap PMS.

Saya percaya bahwa menerapkan pola hidup yang sehat akan membantu menyehatkan jiwa juga, nggak cuma raga. Iya setuju, bukan berarti dengan pola hidup sehat, kita akan benar-benar terbebas dari segala macam penyakit dan pasti panjang umur. Urusan umur dan lain sebagainya sudah bukan kuasa manusia lagi.

Jadi, untuk perempuan yang seringkali menjadikan alasan ‘lagi PMS’ ketika lagi emosional dan berbuat salah, mungkin sekarang harus bisa lebih memahami diri. Kita bisa mengendalikan diri kalau mau belajar. Perempuan harus bisa lebih berpikir logis soal emosi yang dia rasakan, apakah valid atau nggak? Beralasan atau nggak?

Jangan sampai fase pra menstruasi selalu jadi alasan yang kita buat saat tiba-tiba mood jelek dan marah-marah, lalu semua orang harus mengerti dan memaklumi. Kalau saya malah kesal, kenapa pula harus pra menstruasi yang disalahkan? Harusnya kita punya alasan saat tersinggung, saat marah-marah, dan saat emosional secara sadar, karena kita punya akal buat berpikir. Seharusnya, ya.

Untuk laki-laki yang mungkin sering kesal dengan perilaku perempuan PMS, mungkin bisa bantu menyadari mereka untuk lebih kenal dengan diri dan tubuhnya, supaya bisa mereka atasi. Bantuinnya jangan pakai emosi juga, ya, hehe, tambahin bumbu empati sewaktu memberi tahu. Karena, memang nggak bisa dipungkiri, fluktuasi hormon itu memengaruhi emosi dan psikologis kita kalau nggak diolah dengan baik. Fakta alamiah itu harus kita ingat.

Apakah meminimalisir gejala PMS itu gampang? Ya pastinya nggak. Mengenal diri juga pastinya nggak gampang. Saran dari teman saya, buat yang kesulitan mengontrol emosi karena PMS, lebih baik kita jauh dari banyak orang dulu, kasih waktu kita untuk berduaan sama diri dan memahami segala emosi yang muncul.

Sewaktu menstruasi kalian datang, emosi itu akan kembali normal, kok.  Untuk fase mens selanjutnya, harusnya kita lebih bisa menangani gejala-gejala itu, kan? Mens datang tiap bulan, loh. Kita bisa jadikan fase ini sebagai tempat pembelajaran.

Nah, kalau  dirasa nggak bisa menangani sendiri karena gejala fisik maupun psikologis yang muncul terlalu parah, kita konsultasi langsung saja dengan yang ahli. Semangat!

Daftar Pustaka

[1] Alodokter. "Seperti ini Proses Menstruasi pada Wanita Setiap Bulan". Diperbarui 02 Juli 2020. Ditinjau oleh dr. Meva Nareza.

[2] Alodokter. "Menstruasi". Diperbarui 28 November 2018. Ditinjau oleh dr. Marianti.

[3] Ramadani, Mery. 2013. “Premenstrual Syndrome (PMS)”. Jurnal Kesehatan Masyarakat, vol. 7, No. 1. hal: 21-25.

[4] Estiani, K & Nindya, TS. 2018. “Hubungan Status Gizi dan Asupan Magnesium dengan Kejadian Pramenstrual Syndrome (PMS) pada Remaja Putri”. Media Gizi Indonesia, vol. 13, No. 1. hal: 20-26.