Ketidaksetaraan gender sampai saat ini masih menjadi isu yang perlu untuk dibahas dan dipikirkan solusinya. Karena di Indonesia masih terdapat banyak hal yang perlu dibenahi dalam hal ketidaksetaraan gender. 

Gender seringkali disamakan dengan jenis kelamin. Padahal, realitanya kedua hal tersebut sangat amat berbeda. Semua orang sudah pasti sepakat, bahwa laki-laki dan perempuan memang berbeda secara biologis. Namun, masyarakat seringkali juga menganggap bahwa peran antara laki-laki dan perempuan juga berbeda.

Sebenarnya apa sih gender itu? Gender merupakan acuan yang mengarah pada peran, tanggung jawab, dan karakteristik antara perempuan dan laki-laki yang merupakan hasil dari konstruksi sosial. Konstruksi masyarakat ini menghasilkan peran-peran tertentu yang dilekatkan kepada perempuan dan laki-laki secara berbeda. Peran-peran inilah yang mempengaruhi cara pandang masyarakat mengenai laki-laki dan perempuan.

Hal ini menghasilkan suatu ketimpangan, yang mana terdapat peran tertentu yang hanya dilekatkan kepada perempuan dan kepada laki-laki. Jadi, yang awalnya bersumber dari konstruksi sosial tadi, dapat menyebabkan adanya ketimpangan atau ketidaksetaraan gender.

Isu inilah yang harus segera diatasi, agar tidak ada lagi pembagian peran berdasarkan gender tertentu. Sehingga dapat tercapai yang namanya kesetaraan gender, di mana baik laki-laki maupun perempuan dapat menjalankan peran sesuai kapasitas individualnya, bukan sesuai gendernya.

Ketidaksetaraan gender terjadi apabila salah satu pihak mengalami kerugian dan ketidakadilan. Ketidakadilan terjadi apabila terdapat salah satu jenis gender yang dianggap lebih tinggi posisi dan kedudukannya, dan hal ini bisa terjadi pada laki-laki maupun perempuan. Namun, di Indonesia ketidakadilan ini sebagian besar dirasakan oleh kaum perempuan.

Adanya ketidaksetaraan gender ini terlihat pada banyaknya stigma masyarakat yang menggaungkan bahwa laki-laki selalu ditempatkan sebagai pemegang kekuasaan dan perempuan hanyalah sebagai pengikut. Stigma ini menyebabkan ruang gerak yang dimiliki oleh perempuan menjadi terbatas.

Dengan adanya stigma masyarakat mengenai ini, tidak hanya mengakibatkan adanya diskriminasi. Namun tak sedikit juga menyebabkan terjadinya penindasan dan kekerasan terhadap kaum perempuan. Masyarakat menganggap bahwa perempuan itu lemah dan laki-laki itu kuat.

Adanya ketidaksetaraan gender juga dipengaruhi oleh budaya patriarki yang masih berkembang di masyarakat. Seperti kutipan dari tulisan yang berjudul Menyorot Budaya Patriarki di Indonesia yang diterbitkan dalam Social Work Journal Volume 7, menyebutkan bahwa tingginya kasus pelecehan seksual, angka pernikahan dini yang tinggi, dan stigma yang melemahkan posisi perempuan dalam perceraian juga dipengaruhi oleh budaya patriarki di Indonesia. Dari sini, dapat disimpulkan bahwa ketidaksetaraan gender ini berpengaruh besar terhadap penindasan dan kerugian terhadap kaum perempuan.

Banyak praktik dari adanya ketidaksetaraan gender yang masih membelenggu di Indonesia, seperti pandangan bahwa laki-laki lebih berhak untuk memiliki pekerjaan dan karier yang layak dibandingkan perempuan serta perempuan tidak lebih penting untuk mengenyam pendidikan tinggi dibanding laki-laki.

Tak hanya sampai di situ, pandangan ini berlanjut dalam kehidupan rumah tangga. Perempuan diidentikkan dengan mengurusi pekerjaan rumah tangga dan tak sedikit pula yang dilarang untuk memiliki karier yang bagus dan bekerja.

Padahal, pada dasarnya pekerjaan rumah tangga, seperti menyapu, mencuci, memasak, dan sebagainya bukan merupakan hal yang sepenuhnya harus dilakukan oleh perempuan. Pekerjaan-pekerjaan tersebut merupakan sebuah skill dasar untuk bertahan hidup atau yang biasa disebut survival skill yang harus dimiliki oleh setiap manusia, tidak mengecualikan hal tersebut harus dilakukan hanya oleh perempuan saja ataupun laki-laki saja.

Jadi, pandangan yang harus dihilangkan dalam lingkup lingkungan keluarga adalah pemikiran bahwa “Pekerjaan tertentu lebih rendah atau pekerjaan tersebut bukan porsi saya”. Karena baik laki-laki maupun perempuan memiliki kesetaraan.

Walaupun terdengar sulit dan membutuhkan waktu yang lama untuk mengubah pandangan masyarakat untuk mewujudkan kesetaraan gender, namun stigma yang tidak baik ini harus segera dihilangkan dari pandangan masyarakat.

Banyak negara dan komponen masyarakat di dalamnya yang kemudian melek akan isu pentingnya kesetaraan gender. Berbagai gerakan sudah gencar disuarakan oleh aktivis perempuan dan berbagai komponen masyarakat, dengan tujuan agar kesetaraan gender di Indonesia segera dapat terwujud.

Hambatan dalam perwujudan kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan disebabkan oleh adanya kesenjangan yang dikonstruksikan oleh masyarakat. Stigma masyarakat yang selalu memandang bahwa laki-laki selalu di atas perempuan yang akan melemahkan upaya perjuangan kesetaraan gender.

Kita sebagai masyarakat memiliki peran penting dalam mewujudkan kesetaraan gender, yakni dimulai dari kesadaran diri sendiri. Jadi, sebagai masyarakat seharusnya mendukung serta membangun perspektif dan pandangan yang lebih baik melalui paham kesetaraan gender.

Dengan adanya kesetaraan gender, perempuan bisa mendapat kesetaraan hak dalam berbagai aspek kehidupan, seperti perempuan mendapat akses pendidikan dan pekerjaan yang layak, akses kesehatan reproduksi, dan partisipasi perempuan dalam berbagai bidang kehidupan meningkat.

Hal eksklusif yang dimiliki oleh laki-laki memang sudah seharusnya dihilangkan, karena secara tidak langsung merugikan kaum perempuan. Dengan kesetaraan gender, akan membuat perempuan dapat lebih luas untuk berekspresi dan berkarya, yang sebelumnya terhalang oleh diskriminasi gender antara laki-laki dan perempuan yang kerap terjadi di Indonesia.

Sehingga dengan terwujudnya kesetaraan gender, diharapkan dapat menghasilkan perempuan yang berpendidikan, percaya diri, dan selalu optimis.