Kepercayaan dan Adat Istiadat Atoni Meto 

           Atoni Meto adalah salah satu suku yang berdiam di wilayah provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Suku Atoni tersebar hampir di seluruh daratan Pulau Timor yang terletak di bagian selatan provinsi NTT. Atoni Meto terdiri dari dua kata yakni Atoni berarti orang atau manusia, Meto secara harafiah berarti tanah kering. Pada umumnya orang biasa menyebutkan Atoni Pah Meto yang berarti “orang-orang dari tanah kering” (H.G Schurtle Nordolt,1966, hal.18).

          Masyarakat Atoni hidup dalam unsur kosmis yang kuat sebagaimana agama-agama suku lain di Indonesia. Masyarakat Meto percaya akan kekuatan gaib yang bersifat melampaui kemanusiaan. Menurut kepercayaan suku ini, manusia terpengaruh pada Uis Neno serta roh-roh yang berasal dari dunia tersembunyi. Dunia yang tersebumnyi itu bukanlah dunia akhirat, tetapi dunia yang riil yang mengelilingi mereka. Tetapi memang dunia itu tersembunyi dalam pengertian bahwa ia adalah misterius dan kudus (le’u) (Andreas A Yewangoe,1983, hal.46).

          Atoni  Meto meyakini bahwa segala hal baik datang dari Uis Neno, tetapi dalam analisis Uis Neno juga penyebab dari hal buruk. Seperti pengurangan hasil, sakit penyakit, kesusahan bahkan kematian. Semuanya itu adalah konsekuensi dari kegagalan dari ritual yang dianggap taboo. Jadi kita bisa beranggapan bahwa Uis Neno lebih dari sekedar dewa alam.  Ia adalah asal dari segala sesuatu (H.G Schurtle Nordolt,1966, hal.145).

          Kepercayaan tersebut mempengaruhi masyarakat Timor dalam setiap lini kehidupan. Kehidupan masyarakat Atoni dijalankan dalam dapat berjalan secara terarah dan teratur, seperti halnya suku-suku lainnya di Indonesia. Adat istiadat dibentuk dan digunakan untuk menata masyarakat. Fungsi adat istiadat adalah mempertahankan susunan dan pola hidup masyarakat seperti dimaksudkan oleh mereka yang mendirikannya. (F. Cooley,1976, hal.316).

           Atoni Meto meyakini manusia lahir lewat manifestasi alam. Manusia tidak muncul dari kehampaan. Setiap orang memiliki batu karang nama dan pohon nama yang merepresentasikan diri mereka. Adat memang terdesak ke belakang tetapi di dalam orang Timor masih hidup perasaan bahwa masing-masing orang mempunyai batu nama, karang nama atau gunung nama dan pohon namanya sendiri, yakni tempat mereka “merekah” dari tanah (Peter Middelkoop,1982, hal.143).

Feto-Mone : Paham Kehidupan Atoni Meto

          Salah satu nilai fundamental dalam kehidupan Atoni Meto terdapat dalam paham feto-mone. Feto-mone bisa dikatakan sebagai norma atau sikap hidup masyarakat Atoni yang menjadi panduan untuk menjaga dan melestarikan kehidupan masyarakat Atoni. Konsep ini bisa disejajarkan dengan konsep manunggaling kawulo gusti pada masyarakat Jawa atau Yin-Yang pada masyarakat Tionghoa, berikut penjelasan dari kata feto-mone.

  • Kata feto berarti perempuan. Dalam hubungan dengan baris keturunan, seorang yang dihitung melalui garis keturunan ibu dikategorikan sebagai feto.
  • Mone berarti laki-laki. Dalam hubungan dengan baris keturunan seseorang yang dihitung melalui garis keturunan ayah dikategorikan sebagai mone. Dalam istilah ini, feto-mone di erjemahkan sebagai feminis-maskulin untuk menjelaskan konsepsi masyarakat Atoni Meto tentang perempuan dan laki-laki. Konsepsi ini dapat dibangingkan dengan konsepsi Yin-yang dalam masyarakat Tionghoa (Eny Telnony-Funay, 2017, hal.171).

         Pandangan relasi-relasi komis dan sosial juga ikut diekspresikan dalam nilai ini. Relasi-relasi itu meliputi relasi manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam misalnya: Uis Pah-Uis Neno (Allah Bumi-Allah Langit), Ain-Uis Neno-Am-Uis (Allah Ibu-Allah Bapa), Bife-Atoni (perempuan-laki-laki), dan lain sebagainya (Eny Telnony-Funay, 2017, hal.172).

        Term feto-mone mengindikasikan satu kesatuan yang tidak bisa hadir tanpa yang lain, seperti hidup yang tidak bisa ada tanpa kesatuan antara laki-laki dan perempuan (H.G Schurtle Nordolt,1966hal.411). Dilihat pada penerapannya, konsep feto-mone memiliki dampak kehidupan perempuan dan laki-laki seperti pembagian kerja. Masyarakat Atoni membedakan peranan perempuan dan laki-laki.

         Laki-laki bertugas dalam ranah publik, seperti berperang, membangun hubungan dengan masyarakat luas, dan bekerja di kebun sedangkan perempuan lebih mengurus persoalan privat seperti memasak, mencuci, menjamu tamu dan lain-lain. Alasan perempuan ditempatkan pada ranah privat dikarenakan juga dikarenakan perempuan pada masyarakat Atoni dilihat sebagai “ibu kehidupan”.

Kesalahpahaman yang Berdampak Buruk

        Disebabkan oleh dampak hegemoni kolonial Barat tempo dulu, paham-paham radikal agama serta arus globalisasi. Menggeserkan pemahaman  feto-mone ke paham partiarki. Imbasnya, kaum perempuan terdikriminasi. Paham-paham kesetaraan seperti pembagian kerja yang menempatkan laki-laki di publik dan perempuan pada ranah privat, berubah ke arah superioritas laki-laki karena dianggap lebih banyak tampil dibanding perempuan. Sehingga para perempuan dan dianggap sebagai manusia kelas dua.

       Sebagai anak yang lahir di kalangan masyarakat Timor. Saya sendiri banyak menjumpai ketidakadilan bagi kaum perempuan. Seperti pelarangan keluar terlalu malam karena dianggap tidak sopan, perempuan harus tahu bekerja kalau tidak akan dikatakan melawan kodratnya, atau yang lebih parah lagi jika terjadi peristiwa pemerkosaan, perempuanlah yang akan dipandang paling bersalah. Perempuan yang mengalami pemerkosaan akan dianggap “aib” keluarga.

      Di lihat di wilayah NTT secara keseluruhan. Polda NTT mencatat kasus kekerasan perempuan merupakan kasus yang paling sering terjadi. Pada tahun 2016 Polda NTT telah menangani 912 kasus, 659 telah selesai dan 274 sedang dalam proses penyeleisaian. Menurut berita yang dilansir Pos Kupang, surat kabar NTT. Nusa Tenggara Timur masuk ke dalam provinsi nomor 5 dengan kasus perkosaan terbanyak (http://kupang.tribunnews.com/2016/05/12/ntt-urutan-kelima-kasus-perkosaan-terbanyak.) Kondisi ini menempatan kaum perempuan pada zona yang sangat tidak aman dan nyaman.

Mengupayakan Kembali Keadilan Bagi Kaum Perempuan

      Masyarakat Atoni TIDAK PERNAH mengkonsepsikan paham ketidakadilan bagi kaum perempuan. Sebenarnya secara tradisional, pembagian laki-laki dan perempuan dengan maksud keseimbangaan, perempuan bertanggungjawab untuk urusan domestik dan laki-laki untuk urusan publik (Mery Kolimon, STFK Ledalero, hal.43). Konsepsi gender masyarakat di Timor Barat mengedepankan tanggungjawab, kesetaraan, serta saling menghormati. Sebagaimana terpancar pada konsep  feto-mone yang sedari awal digagas demi keseimbangan pada segala lini kehidupan masyarakat Atoni.

      Demi terwujudnya keadilan bagi kaum perempuan, konsepsi pemahaman gender pada masyarakat di tanah Timor sekarang ini harus dibongkar dan dibentuk kembali. Diskriminasi kepada kaum perempuan sama dengan diskriminasi pada kehidupan. Relasi antar ciptaan ditarik dari konsep keseimbangan pola hidup, seks laki-laki dan perempuan. Konsep keadilan gender di Timor harus diwujudnyatakan.

      Agar ketidakseimbangan yang lahir dari diskriminasi kaum perempuan dapat dihentikan dan tidak merambat ke berbagai lini kehidupan. Dengan demikian  kelestarian nilai keadilan, kemanusiaan serta kehidupan pada masyarakat Atoni dapat dibangun serta ikut membangun keseimbangan kehidupan di NTT dan bahkan Indonesia secara keseluruhan.