Saat berbicara kasus narkoba yang ada dalam pikiran sebagian orang adalah kejahatan luar biasa, dan negara menguatkan itu dengan menerapkan hukuman mati. Tentu, tidak ada yang salah dari menganggap kasus narkoba adalah kejahatan, karena itu memang adalah sebuah kejahatan sistematis, bisnis yang dibangun atas darah dan air mata manusia.

Namun, dalam jaringan narkoba ternyata ada begitu banyak kerumitan di dalamnya yang tidak semua orang tahu ataupun bersedia untuk mengetahui. Menilik kasus di Indonesia, seperti MU yang eksekusi matinya ditangguhkan ada banyak kerumitan yang kalau bisa dilihat secara utuh, sesungguhnya ia adalah korban.

Menyebut terpidana kasus narkoba sebagai ‘korban’ akan mendapat reaksi yang amat keras dari masyarakat dan pemerintah yang disebabkan karena keengganan untuk melihat suatu kasus secara utuh dan keengganan untuk memberikan psoses hukum yang adil terutama pada orang-orang yang terlibat kasus narkoba.

Stigma-stigma yang ditempelkan secara otomatis terhadap para terpidana membuat siapa pun yang terlibat di dalam proses tersebut tidak bersedia untuk melihat lebih dalam.

Dalam kasus MU, ia dibohongi oleh seorang laki-laki yang mengaku bernama J. Laki-laki itu mendekatinya dan memanjakannya baik secara materi maupun secara emosional. Lalu, MU diajak untuk liburan ke Nepal dan sesampainya di sana mereka berjalan-jalan selama beberapa hari.

Saat menjelang pulang, J meminta MU untuk tetap di sana selama beberapa hari karena akan ada orang yang mengantarkan tas tangan baru untuk MU dan contoh-contoh barang yang akan dibawa ke Indonesia untuk dijual – J mengaku bekerja di bidang perdagangan. Ternyata MU harus menunggu lebih dari seminggu dan ia kemudian dihubungi untuk bertemu dengan teman-teman J di sebuah kelab.

Di situlah MU diserahi tas tangan yang agak berat dan oleh teman J dikatakan tas itu berat karena dari kulit asli. Sesampainya di Indonesia, di bandara Soekarno Hatta, MU yang lupa mengambil kopernya saat sudah berada di luar bandara, sementara tas tangan hadiah dari J ia bawa di kabin, sebagaimana kita membawa tas jinjing biasa.

Setelah mengambil koper, petugas meminata untuk memeriksa tas tersebut dan karena tidak merasa apa-apa maka MU menyerahkannya, dan ternyata saat diperiksa di dalam lapisan dalam tas tersebut terdapat kokain seberat 1, 1 kg.

Sebelum menghakimi MU dengan pertanyaan kok mau aja dipacarin sama orang gak dikenal atau kok mau aja sih diajak liburan ke luar negeri sama orang yang baru dipacarin ada baiknya kita bersedia membuka mata kita mengenai kehidupan masa lalunya. Siapakah MU sebelum ia ditempeli label oleh para media yang provokatif sebagai ‘ratu heroin’?

MU adalah seorang perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang terpaksa bekerja ke luar negeri untuk menghidupi keluarganya. Suaminya yang senang berjudi dan mabuk, selalu menghabiskan uang yang dikirimi oleh MU dari hasil kerja kerasnya di negara lain. Tidak sanggup menjalani rumah tangga dengan kekerasan baik secara fisik, psikis dan ekonomi, MU akhirnya memilih untuk berpisah dengan suaminya.

Sampai di sini bisa ditarik informasi kalau MU adalah korban kekerasan, tidak mendapat kasih sayang dan cinta dari seseorang yang seharusnya mencintai dan menyayanginya serta harus jauh dari anak-anaknya saat bekerja di luar negeri. Kerentanannya secara emosi dimanfaatkan oleh orang-orang yang berada dalam jaringan sindikat narkoba. Itu bukan hal baru dan sasarannya mayoritas adalah perempuan.

Dengan memanfaatkan kerentanan emosi, orang-orang seperti J mendekati perempuan-perempuan seperti MU dan berlagak seperti pahlawan. Mari bicara kenyataan, penipuan dengan menggunakan kerentanan emosi orang, bukan hanya di kasus narkoba tetapi juga di kasus penipuan uang seperti banyak terjadi di sosial media (penipu biasanya menggunakan foto curian dan mengaku sedang mencari pasangan).

Penipuan seperti itu terjadi, nyata dan memang ada. Jadi tidak perlu bingung atau menghakimi MU yang karena kerentanan dan ketidak berdayaannya akhirnya bersedia menjadi ‘teman dekat’ J. Bahkan dikatakan oleh MU bahwa J bukan hanya memanjakan MU tetapi juga orangtua MU dengan hadiah-hadiah.

Untuk kasus lain terjadi di Colombia pada 2013, seorang perempuan berinisial TR, warna negara Kanada, tertangkap di Bandara Bogota karena membawa dua kilogram kokain yang disembunyikan di dalam perut palsunya. Setelah diusut ternyata ada kenyataan pahit yang dialami oleh TR sampai ia bersedia menjadi kurir narkoba. TR kemudian ditipu dan ditahan oleh sekelompok laki-laki yang terlibat dalam jaringan narkoba.

Saat ditahan ia dipaksa terus-terusan untuk mengantarkan narkoba, ia nyaris tidak diberi makan selama satu minggu dan hanya minum air putih. Saat memohon untuk meminta makanan ia diberikan minuman seperti jus yang ternyata sudah diisi obat yang membuatnya tidak sadarkan diri. TR terbangun dan mendapatkan dirinya diperkosa.

Salah satu penculiknya kemudian kembali memaksanya untuk mengantarkan narkoba dan kali ini ancamannya adalah ia akan menjadikan TR sebagai pekerja seks dan TR tidak akan pernah kembali ke Kanada dan tidak akan pernah bertemu lagi dengan anak-anaknya.

Dalam keadaan putus asa, TR akhirnya menyetujui untuk membawa narkoba tersebut melalui bandara. Sekarang TR menjalani hukuman berupa tahanan rumah di sebuah gereja di Kolombia setelah delapan bulan di penjara, ia akan tetap di Colombia sampai 2017.

Dua contoh kasus di atas menunjukkan betapa kita tidak bisa melihat suatu kasus narkoba terutama penangkapan kurir-kurir narkoba ini sebagai kasus yang sederhana. Perempuan adalah pihak yang selalu rentan tereksploitasi dan hal ini sayang ya diketahui dengan amat baik oleh satu pihak, yaitu oleh jaringan sindikat narkoba.

Kerentanan seperti ini ditambah ancaman hukuman yang amat berat kemudian dimanfaatkan oleh oknum aparat penegak hukum berupa pemerasan, penyiksaan fisik dan juga pelecehan seksual dan pemerkosaan. MU mendapat kekerasan seksual pada proses pemeriksaan berupa pelecehan dan percobaan perkosaan, ia juga dipukuli dan dipaksa untuk mengaku bahwa heroin itu adalah milikinya.

Tidak berhenti sampai sana, penasihat hukum yang disediakan oleh kepolisian sangat tidak kredibel. Penasihat hukum itu hanya datang saat persidangan, tidak pernah mendiskusikan pembelaan dan malah meminta MU untuk mengakui bahwa heroin itu miliknya.

Penasihat hukum dari kepolisian ini mendampingi MU pada saat di pengadilan tingkat pertama, di mana MU dijatuhi hukuman mati (Putusan No.140/Pid.B/2002/PN.Tng. Saat mengajukan banding dan kasasi, MU didampingi penasihat hukum yang berbeda.

Ketidakmautahuan aparat, masyarakat dan pemerintah akan kerentanan eksploitasi perempuan dalam jaringan narkoba akan menghantarkan banyak nyawa dengan sia-sia. Mereka harus menghadapi hukuman mati padahal dalam kasusnya banyak fakta-fakta yang enggan dilihat bahkan oleh para penasehat hukumnya sendiri.

Stigma masyarakat karena lomba-lomba media untuk memberitakan dengan judul yang bombastis dan isi berita yang memuat stigma dan penghakiman, menambah kondisi buruk mereka. Tidak ada yang mau peduli bahwa mereka adalah korban, korban eksploitas. Tidak ada yang bersedia melihat kisah sebenarnya dari pada terpidana ini. Jilid-jilid hukuman mati dikeluarkan, proses hukum yang adil dan bebas kekerasan diabaikan.

Tulisan ini dibuat untuk mengajak masyarakat dan pemerintah mau melihat kasus dengan tidak hitam putih karena pada kenyataannya memang tidak pernah ada yang hitam putih di dunia ini. Sebelum kepala membuat penghakiman, ada baiknya telusuri dan ketahui dahulu apa yang terjadi sebenarnya, sebelum nyawa para orang-orang yang sebetulnya adalah korban meregang dan tidak akan pernah bisa dikembalikan dengan cara apa pun.