Gender equality atau kesetaraan gender bukan hal yang asing ditelinga generasi milenial, tetapi pemaknaan "kesetaraan" yang masih sering diabaikan oleh masyarakat sekitar menjadi

perdebatan panjang dan masih menjadi perbincangan hangat. Mengapa demikian? Kesetaraan yang artinya sama rata atau sepadan sering dianggap hal sepele , terlebih lagi dalam hal gender yang mana masyarakat  memiliki 

stigma bahwa kaum perempuan  adalah kaum yang lemah, tunduk , pandai bergelut di dapur, mengurus anak dan pekerjaan rumah lainya.

Sedangkan laki -  laki harus bekerja dan tidak perlu campur tangan dalam hal rumah tangga karena itu merupakan tugas wanita sebagai seorang ibu rumah tangga. 

Stigma tersebut membuat perempuan memiliki keterbatasan dalam segala aspek, maka dari itu keterbatasan ini menjadi patokan untuk berbagai nilai dan norma dimasyarakat.

Kemudian yang membatasi ruang gerak perempuan dibandingkan laki-laki, yang mana seharusnya perempuan itu setara dan  bebas 

dalam  menentukan apa yang mereka impikan terlebih dalam hal pendidikan dan karier .

Menurut riset BPS (Badan Pusat Statistik ) Jumlah ibu rumah tangga di Indonesia pada tahun 2010 mencapai 1,980,365 jiwa . 

Yang mana seharusnya mereka bisa bekerja, berkarir dan mengejar pendidikan setinggi mungkin.

Tetapi karena banyak nya norma masyarakat di beberapa daerah di Indonesia yang masih berpacu dalam tradisi menekankan adanya stigma bahwa "Perempuan tidak  perlu pendidikan terlalu tinggi karena jika sudah menikah nanti tempat nya akan di dapur".

Yang artinya bahwa perempuan akan menjadi ibu rumah tangga saja tanpa perlu memikirkan pendidikan dan karier.

Hal tersebut kerap dijadikan acuan pada masyarakat yang masih menekankan stigma tersebut, contohnya perempuan harus pandai memasak, harus pandai mengurus anak, harus mahir dalam hal yang berkaitan dengan rumah. 

Yang mana hal tersebut sebenarnya bisa dilakukan oleh laki- laki . Maka dari itu, perempuan harus cerdas harus berani dan membawa perubahan dalam kaumnya.

Selanjutnya tidak hanya perihal karier saja, perempuan juga kerap di jadikan tokoh yang mudah dibodohi bagi sebagian kaum lelaki, dibodohi yang dimaksud ialah bisa dilecehkan, bisa digoda, dan mudah ditipu.

Karena memang sejatinya perempuan itu mudah terlena jika sudah jatuh cinta . Tetapi sebagian laki- laki menganggap hal itu menjadi kebiasaan yang sudah awam. 

Tidak cukup itu saja, sekarang maraknya toxic relationship atau bisa disebut dengan hubungan tidak sehat, sudah menjadi hal yang biasa bagi kaum

remaja, tentang perempuan yang tidak menurut sebagai pasangan lalu mereka dipukul, ditendang, ditampar dan juga diancam. 

Hal ini marak sekali di era mahasiswa bahkan siswa - siswi sekolah menengah akhir (SMA). Ketidakberanian perempuan untuk melawan menjadi sasaran utama bagi laki-laki dan munculah stigma bagi bahwa perempuan itu lemah dan penurut.

Karena hal toxic tersebut sudah marak di kalangan remaja zaman sekarang, maka hal tersebut lama- lama menjadi stigma yang negatif terhadap perempuan .

Menjadi perempuan tidak sebebas itu, Tidak cukup pada hal- hal di atas tadi. Sekarang juga marak sekali  catcalling atau biasa disebut dengan pelecehan verbal berupa sapaan atau pujian bernuansa seksual.

Biasanya hal ini marak terjadi di fasilitas umum seperti pinggir jalan, taman, toilet umum, dan tempat umum lainya.

Tetapi beberapa kali dilakukannya riset kepada laki- laki mengapa hal itu dilakukan , pihak laki- laki pun menjawab bahwa hal tersebut dilontarkan karena keisengan spontan dan menyanjung orang.

Tapi tidak sedikit pula para catcaller menginginkan respon negatif dari korban seperti cemas, takut, dan marah.

Dari penjabaran di atas kejadian pelecehan secara verbal maupun non verbal menurut riset Komnas perempuan tahun 2021, pelecehan terjadi mencapai 2.363 kasus. 

Hal tersebut bukan kasus yang sedikit dan bukan kasus yang biasa saja, maka kita harus melakukan gerakan yang dapat menanggulangi hal tersebut agar berkurang bahkan tidak ada lagi kasus pelecehan yang terjadi.

Jika kejadian-kejadian pelecehan terjadi pada kita, kita  berhak melaporkan atas tindakan pelecehan tersebut tidak hanya itu kita juga bisa melaporkan kasus kdrt yang terjadi, karena kasus- kasus

tersebut memiliki pasal undang- undang yang mana bisa terkena sanksi bagi pelakunya. Lalu, yang harus kita lakukan sebagai perempuan adalah bersikap berani, tegas, dan open minded

Tidak boleh stigma mereka bahwa perempuan itu lemah berdiri lagi, Kita harus memutus stigma tersebut demi kesejahteraan kaum perempuan di Indonesia.

Karena kami juga ingin pergi dan beranjak ke manapun tanpa rasa takut, risih dan tidak lagi memiliki rasa waspada yang tinggi akan hal yang berbau pelecehan, karena kita sebagai wanita ingin freedom.

Dan juga agar  stigma- stigma di atas hilang, maka para perempuan juga harus berani speak up dan bergerak . Menyatakan bahwa perempuan tidak harus di menjadi ibu rumah tangga, mereka bisa menjadi wanita karier yang hebat dan juga menjadi ibu yang cerdas.

Dan perempuan harus  berani menepis apabila terjadi kekasaran pada perempuan, harus terbiasa  menolak dan juga melawan. 

Menunjukan bahwa sebenarnya wanita itu bukan makhluk yang lemah dan mudah diinjak.