Mpu artinya tuan. Dalam bahasa Sansekerta, istilah perempuan berasal dari kata mpu, artinya tuan. Karena itu, saya tidak sepakat dengan istilah wanita dalam pengertian feminisme.

Saya lebih sepakat dengan istilah perempuan dalam pengertian feminisme. Perempuan dalam pengertian feminisme, sebagaimana dalam bahasa Sansekerta, yaitu mpu, artinya tuan. 

Perempuan harus menjadi tuan atas dirinya. Perempuan harus menjadi kemudi tunggal atas dirinya. Perempuan harus menjadi otoritas tunggal atas dirinya. Karena itu, perempuan dalam pengertian ini, mentalnya feminis.

Berbeda dengan pengertian wanita dalam feminisme. Wanita dalam pengertian bahasa Jawa dikenal dengan istilah wani di toto. Artinya, wanita ingin ditata, wanita ingin diatur, wanita ingin dituntun, wanita ingin disayangi, wanita ingin dicintai, dll. 

Wanita dalam pengertian ini, mentalnya masih patriarki. Wanita berada dalam genggaman patriarki. Karena itu, untuk sampai pada feminisme yang murni, istilah wanita harus dibersihkan dari feminisme.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah perempuan mengalami reduksi. Perempuan dimaknai secara pejoratif sebagai perempuan nakal dan sebagai perempuan pelacur. Karena itu, banyak dari berbagai kalangan feminisme yang mengkritik pengertian perempuan dalam KBBI untuk diubah.

Dalam sejarah filsafat manusia, misalnya, Aristoteles melihat perempuan sebagai orang yang belum dewasa, cacat, lemah dan inferior. Jika kita melihat ini, sejak dari awal sejarah filsafat dan peradaban manusia sudah menempatkan perempuan inferior dan laki-laki superior.

Kontruksi sejarah filsafat dan peradaban manusia, kontruksi agama dan kontruksi sosial budaya masyarakat menempatkan laki-laki sebagai superior dan perempuan inferior.

Kalau perempuan ingin keluar dari jebakan patriarki, maka perempuan harus membersihkan kontruksi filsafat dan peradaban manusia, kontruksi agama dan kontruksi sosial budaya masyarakat ini, baik dalam bidang pendidikan, bidang ekonomi dan bidang politik. 

Syaratnya ada dua: perempuan harus sadar dan perempuan harus menjadi manusia intelektual. Kalau keduanya ini belum ada pada perempuan, jangan bicara feminisme.

Di sinilah perempuan bisa bertarung untuk memperjuangkan hak-haknya, kesetaraan gender, baik dalam bidang pendidikan, bidang ekonomi dan bidang politik.

Dalam beberapa kesempatan, saya pernah berdiskusi dengan teman saya, yang tergabung dengan aliansi gerakan perempuan Indonesia. Saya menemukan, ada yang belum selesai dengan teori feminismenya. 

Ia memulai pembicaraannya dengan berangkat dari teori Karl Marx tentang masyarakat tampa kelas bahwa dalam sejarahnya perempuan memiliki peran yang sama dengan laki-laki.

Laki-laki bisa berburu, perempuan bisa berburu. Laki-laki bisa mengumpulkan biji-bijian, perempuan bisa mengumpulkan biji-bijian. 

Bahkan dalam sejarahnya, yang pertama kali menemukan cara bercocok tanam adalah perempuan. Jadi, perempuanlah yang menyumbangsih peradaban manusia untuk bercocok tanam dan bertani, hingga pertanian modern hari ini.

Lalu, ia mulai masuk berbicara kasus-kasus pelecehan seksual yang dialami oleh perempuan di dunia kerja yang belum terselesaikan dan dibiarkan begitu saja.

Tapi, saya menemukan kelemahan, ia sepertinya belum selesai dengan teori feminisme. Pikiran saya, ini perempuan bicara feminisme, tapi belum selesai dengan teori feminisme, bagaimana memperjuangkan feminisme?

Ada juga yang berbicara feminisme yang berangkat dari agama, padahal agama adalah penyumbang terbesar dalam patriarki.

Dalam masyarakat tampa kelasnya Karl Marx, perempuan didomestifikasi perannya karena ada peristiwa biologis. Perempuan hamil, mulailah dibatasi perannya untuk berburu, bercocok tanam dan seterusnya.

Peran perempuan dibatasi di rumah saja, hingga terbentuk perubahan organ fisik dan etika kehidupan berkeluarga dalam bermasyarakat, dll. Di sinilah laki-laki mengambil peran banyak, terbentuk organ fisik dan superior.

Bagaimana feminisme di Indonesia? Feminisme di Indonesia sangat sulit untuk eksis. Membutuhkan waktu yang panjang untuk melakukan penyadaran. 

Dengan melihat corak masyarakat Indonesia yang religius dan agamais, sulit bagi feminisme untuk menebarkan pengaruhnya. Feminisme hanya dan bisa eksis di masyarakat yang corak masyarakatnya liberal. Tarik-menarik antara agama dengan feminisme ini sangat sulit bagi feminisme untuk eksis di Indonesia.

Dalam politik, kaukus perempuan di politik Indonesia hanya 30 persen. Berbeda dengan laki-laki 70 persen. Angka ini tidak imbang dalam pertarungan politik Indonesia perempuan menguasai jabatan publik.

Karena konstruksi filsafat dan peradaban manusia kuat, kontruksi agama di Indonesia kuat, konstruksi sosial budaya masyarakat Indonesia kuat dan pertarungan politik tidak imbang. 

Jalan satu-satunya, perempuan harus sadar dan menjadi manusia intelektual, pelan-pelan memberi pengaruh, merubah kontruksi dan peradaban manusia, minimal untuk keluarga dan keluar dari jebakan patriarki.

Perempuan tidak cukup dengan modal cantik, make up, dll. Dan, kalau perempuan kritis, cantik itu proyeksi laki-laki, kepentingan laki-laki. Bagi saya, cantik itu soal jarak dan pembeda. Kalau sudah nempel, itu bukan soal cantik lagi, tapi soal rasa.

Bagi industri, cantik itu industri. Cantik dijadikan standar industri, maka lakulah produk industri, lakulah lipstick, lakulah pakaian-pakain syar'i, dll.

Kacantikan yang sesungguhnya adalah kecantikan perempuan yang sadar dan kecantikan perempuan menjadi manusia intelektual untuk manusia dan perempuan lain.