Kebebasan adalah puncak dari kehidupan manusia. Dengan memiliki kebebasan, manusia tampak lebih bahagia dan sempurna.

Benarkah demikian?

Topik kebebasan perempuan memang menarik dibicarakan. Bahkan, tidak tanggung-tanggung tema-tema semacam ini sering dibahas di hotel-hotel berbintang lengkap dengan narasumber yang kompeten di bidangnya.

Kaum perempuan Indonesia pun tak luput untuk mendatanginya. Mulai dari sosialita hingga ibu rumah tangga biasa.

Berbagai seminar, forum diskusi, pertemuan aktivis perempuan lintas negara serta beragam bentuk kegiatan bertema wanita rutin digelar. Tujuannya cuma satu; memperjuangkan dan mewujudkan Kebebasan bagi perempuan.

Menengok kebelakang, perjuangan permpuan Indonesia tidak kering akan sejarah tokohnya. Sebut saja misalnya yang paling ajib yaitu RA Kartini.

Kartini kita kenali sebagai pejuang hak dan kesetaraan kaum perempuan.

Melalui surat-surat yang Kartini tulis, kaum perempuan Indonesia di masa itu dibangkitkan dari kelelapan tidur untuk menggapai kesetaraan sebagai puncak dari keadilan hidup.

Kartini mengusung tema “emansipasi kaum perempuan” untuk turut andil berperan bagi kehidupan masyarakat.

Bagi Kartini, peran perempuan tidak hanya di “dapur, sumur dan Kasur”.  Peran itu memang kodrat bagi perempuan, lanjut Kartini.

Tetapi ada peran yang jauh lebih besar yang dapat dikerjakan oleh kaum perempuan apabila diberi kesempatan, tegasnya.

Namun, tambah Kartini, tidak akan ada kesetaraan tanpa mengutamakan kebebasan dalam kehidupan perempuan.

Sebab, tulisnya, ditengah hegemoni budaya patriarki (kuasa laki-laki) yang menggejala di bumi nusantara saat itu, mustahil rasanya untuk menyuarakan kebebasan apalagi kesetaraan yang diidamkan perempuan.

Kartini mengemukakan bahwa hegemoni laki-laki kerap dibungkus serta berlindung dibalik ajaran agama.

Sehingga, imaji untuk mendapatkan kebebasan di masa itu sungguh sesuatu yang tidak mungkin terjadi.

Dengan sikap teguh dan percaya diri, Kartini mantap mendobrak kekakuaan itu. Kebekuaan yang selama berabad-abad mengendap dalam tubuh perempuan Indonesia, perlahan dibongkar olehnya.

Gagasan yang Kartini sampaikan terus menyambung dalam sejarah Bangsa Indonesia hingga kini. Dan setiap tanggal 21 April diperingati sebagai hari Kartini yang substansinya berupa peringatan akan perjuangan kesetaraan perempuan Indonesia.

Perjuangan Kartini lantas bersambut. Para aktivis perempuan di era kini terus mengelaborasi pikiran Kartini dengan paham-paham yang tumbuh subur di dunia barat.

Gagasan feminisme dan kesetaraan gender lalu mengemuka sebagai bentuk dari penterjemahan kesetaraan yang Kartini maksudkan di masa lampau.

Hak-hak kaum perempuan yang diusung oleh aktivis perempuan saat ini lebih luas dan lebih jauh lagi.

Tidak hanya dalam urusan rumah tangga, kesetaraan bagi perempuan juga diperjuangkan saat di tempat kerja, ruang publik, pimpinan perusahaan dan negara.

Semua bentuk perjuangan hak-hak kaum perempuan itu merupakan implementasi dari kesadaran akan kebutuhan kebebasan bagi kaum perempuan, khususnya perempuan Indonesia.

Imbasnya dapat dirasakan sendiri. Peran istri dalam rumah kini tidak berkutat dalam urusan dapur semata.

Seorang istri meskipun ia sudah memiliki anak, dapat menjadi wanita karier pada waktu yang bersamaan. Tidak lagi terjadi pengekangan oleh suami atau orang tua mereka.

Untuk menjalankan karirnya, kaum perempuan dilindungi dengan berbagai UU dan aturan yang tegas berpihak pada mereka.

Misalnya saja UU Tenaga Kerja yang memberikan hak cuti hamil bagi perempuan yang sedang berbahagia menunggu lahirnya anak mereka.

Begitupula di ruang publik. Perjuangan akan hak kesetaraan juga bisa dilihat dari adanya beberapa kekhususan bagi kaum perempuan untuk mendapat fasilitas.

Jika anda sering berpergian dengan KRL Jabodetabek, pasti familiar dengan desing pengumuman dari kondektur bahwa gerbong pertama dan terakhir KRL diperuntukkan bagi kaum perempuan. Begitu juga dengan prioritas kursi penumpang. Wanita hamil merupakan prioritas untuk diberikan kursi.

Masih banyak lagi fasilitas publik yang makin berpihak pada perempuan. Tentu saja, semua itu tidak datang secara gratis. 

Apa yang dirasakan sekarang merupakan buah perjuangan selama ratusan tahun. Meskipun masih banyak kekurangan yang dirasakan, namun melihat perkembangan yang begitu luar biasa, sudah sepatutnya disyukuri.

Begitupula dalam konteks rumah tangga pasangan Indonesia. Posisi istri kini tidak dapat lagi dipandang sebelah mata.

Bahkan, salah satu trend yang kini digandrungi oleh pasangan muda di kota-kota besar Indonesia adalah “perjanjian pra nikah”.

Perjanjian pra nikah adalah kesepatakan antara calon suami dan istri. Isi perjanjian itu umumnya soal harta, hak dan kewajiban, tentang anak dan poin-poin lain yang dianggap penting.

Perjanjian pra nikah ini merupakan “kemenangan kaum perempuan” dalam konteks kesetaraan.  

Sebab, berbagai fakta di lapangan menunjukkan bahwa setiap perpisahan antara suami-istri, hak-hak seorang istri sering diabaikan bahkan dirampas begitu saja oleh mantan suami mereka.

Maka adanya perjanjian pra nikah tersebut, hak-hak perempuan/istri setidaknya semakin terlindungi. Sehingga jika terjadi suatu hal yang tidak diinginkan, hak istri dapat dipertanggungjawabkan melalui perjanjian tersebut.

Di negara barat, perjanjian pra nikah sudah umum dilakukan. Hanya saja di Indonesia, bagi sebagian orang, perjanjian pra nikah kadung dianggap sebagai sesuatu yang masih “asing” dilakukan.

Namun, melihat perkembangannya dewasa ini, nampaknya trend perjanjian pra nikah di kalangan anak muda makin menunjukkan trend yang positif.

Berkaca dari berbagai pengalaman yang ada, nampaknya kebebasan perempuan sudah mulai dirasakan manfaatnya.

Kini, perempuan Indonesia dapat memilih karir dan masa depannya secara bebas dan apa adanya tanpa merasa takut serta dihantui stigma negatif.

Tentu saja perlu diingat bahwa kodrat perempuan tidak bisa diubah.

Dengan adanya kodrat itulah membuat wanita menjadi istimewa dan berbeda. Apakah kodrat itu, tentu melahirkan.

Bebas memilih bukan berarti tanpa aturan. Sikap bijaksana harus menjadi panglima dalam berinteraksi.

Jika tidak bijak menggunakan kebebasan, maka kebebasan itu malah merugikan kaum perempuan.

Disinilah titik keseimbangan itu mesti dimainkan secara utuh.

Berkarir bagus, namun menjadi ibu bagi anak-anak yang menyediakan waktu untuk mendidik, jauh lebih bagus. Memiliki pangkat dan jabatan tinggi di kantor memang baik, namun jauh lebih baik memberikan perhatian setiap hari bagi anak dan suami di rumah.

Bisakah kaum perempuan memainkan peran “dwi fungsi” nya? Mari kita cermati.