Paras nan anggun, lekuk tubuh yang sensual, dan mata  bernanarkan keeksotisan cukup mampu  memikat mata lensa untuk menjadikan perempuan sebagai objek estetis. Bahkan tubuh perempuan seakan telah menjadi komoditas pasar yang terus dinantikan. Seperti yang dikatakan oleh teman akrab Sarte dan sekaligus pemikir feminisme, Simone De Beuvoir dalam bukunya Malafide.

De Beuvoir mengatakan bahwa banyak perempuan yang telah sadar akan penampilannya sehingga mereka berusaha untuk memperbaiki penampilannya yang sesungguhnya merupakan jalan agar perempuan menjadi indah untuk dilihat oleh laki-laki.

Beuvoir seolah berasumsi bahwa laki-laki akan lebih terpuaskan jika menjadikan perempuan sebagai objeknya. Industri periklanan dan media massa saat ini sudah cukup membuktikan pernyataan Simone De Beuvoir bahwa perempuan hanya mampu sebagai objek bukan subjek. Begitu juga dalam dunia fotografi, perempuan hanya mendapat stigma sebagai aktor yang terlihat dalam view finder kamera bukan orang yang berada di baliknya.   

Dalam lensa kamera, perempuan hanya dapat tergambarkan sebagai objek yang eksotis, erotis, dan tragis. Misalnya dalam dunia foto model perempuan mampu menjelma sebagai mahluk yang menawarkan keindahan lekuk tubuh sesuai keinginan pasar dan fotografer tersebut. Namun di foto jurnalistik, perempuan juga mampu menjadi objek tragis yang juga teramat begitu menjual.

Pameran foto yang tengah berlangsung di Komunitas Utan Kayu misalnya. Sang fotografer Adrian Mulya mencoba menyelami kelam sejarah 65 melalui foto series perempuan-perempuan mantan Gerwani. Raut perempuan dalam foto tersebut  seakan mampu membawa haru sekaligus getir waktu kelam yang mereka telah lalui.

Begitu juga pameran foto Solilokui yang di gelar di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Tema dan objek perempuan begitu masih teramat menohok dalam setiap foto yang dipamerkan.

Di tengah maskulinitas fotografi, perempuan hari ini telah bertansformasi dari objek menjadi subjek fotografi. Sebagai contoh kita bisa melihat wartawan foto dalam negeri seperti Adek Berry dan fotografer perempuan lainnya yang berani menohok untuk menceraikan perempuan dari stigma hanya menjadi objek kamera. Gerak postif tersebut menjadi langkah awal bagaimana perempuan bisa menjadi aktor intelektual penting dalam dunia fotografi.

Hal ini juga adalah upaya merawat semangat feminisme. Terlepas apakah kesetaraan gender menjadi salah satu isu yang kerap mewarnai perbincangan pelbagai aspek dewasa ini, fotografer wanita tetap merambah dan berkembang untuk memajukan eksistensi salah satu bidang jurnalistik, yaitu fotografi. Karena Salah satu bentuk manifestasi dari kesetaraan gender ialah bebasnya perempuan untuk memilih prefensi hidup.

Keterwakilan perempuan mampu membuat cara pandang baru dalam setiap bidang, termasuk dalam dunia fotografi. Keterwakilan perempuan sangat dibutuhkan agar jurnalisme dan fotografi  memiliki sudut pandang baru.

Pada akhrinya, kita harus menilai perempuan tidak hanya dari seberapa besar buah dadanya, tetapi perempuan harus ternilai dari seberapa besar buah pengalamannya. Perempuan tidak hanya bisa tereksploitasi melalui keindahannya, namun juga pada karya dan  pencapaiannya.

Selebihnya saya dedikasikan tulisan ini untuk fotografer perempuan Indonesia yang telah membangun jembatan baru antara fotografi dan perempuan. Di tengah maskulinitas budaya dan keterdesakan fotografer perempuan mampu untuk memnuhi tantangan global dan bersaing.