Perempuan adalah perwujudan keburukan laki-laki. Tubuhnya dinisbahkan penciptaan atas tulang rusuk laki-laki. Menempatkannya dalam posisi tersubordinasi pada tatanan sosial kemasyarakatan.

Sejak lahir ke dunia, perempuan terkadang mendapatkan perlakuan diskriminatif. Seorang ayah akan berbahagia jika memiliki anak laki-laki. Sebaliknya, jika anak yang lahir adalah perempuan, maka kebahagiaan akan meredup dari wajah sang ayah. Terlebih lagi jika dari semua anak yang lahir dalam keluarga adalah perempuan.

Laki-laki adalah harapan bagi keberlanjutan garis darah. Sementara perempuan tidak terlalu penting dalam mewariskan garis darah pada sebuah keluarga.

Hierarki kekuasaan laki-laki yang dipatenkan melalui institusi sosial membawa pikiran dan tubuh perempuan dalam posisi inferior di tengah masyarakat. Institusi sosial pertama yang melanggengkan praktik ini adalah keluarga.

Melalui keluarga, ditanamkan pemahaman dan pemikiran seseorang tentang tradisi dan adat istiadat dalam masyarakat. Proses internalisasi yang berlangsung lama dan terus-menerus dalam diri individu sampai ia mengenal institusi sosial sekunder lainnya, yaitu sekolah maupun organisasi sosial lainnya.

Patriarka sudah jauh mengakar dalam tubuh masyarakat dewasa ini. Bahkan ia adalah bentuk status quo tertua di dunia.

Filsafat sebagai dasar dari seluruh ilmu pengetahuan, menempati posisi tersendiri sebagai skop penentu pencapaian kebenaran dalam berbagai perspektif.

Banyak orang berbicara filsafat, berbicara pula tentang keadilan. Sebab berfilsafat akan mengantarkan kita pada kebijaksanaan. Kebijaksanaan yang membawa pada sikap yang egaliter, inklusif, apriori, dan relativitas dalam pemikiran.

Jika kita selalu membayangkan filsafat sebagai jalan pencarian kebenaran yang deduktif dan ideal, maka kita bisa membayangkan betapa kehadiran filsafat akan mampu mendudukan berbagai permasalahan dalam posisi yang berkeadilan.

Tapi, pernahkah kita membayangkan bagaimana jika filsafat sebagai jalan pencarian kebenaran turut berkontribusi dalam melanggengkan ketidakadilan terhadap perempuan?

Misoginisme dalam Filsafat

Dalam filsafat sendiri, kita bisa menjumpai gagasan para filsuf yang berbau misoginis. Gagasan ini didasarkan oleh pandangan para filsuf yang berangkat dari pengalaman mereka (filsuf berjenis kelamin laki-laki) lalu digeneralisasikan menjadi pengetahuan dan pengalaman kemanusiaan.

Posisi perempuan dalam filsafat yang cenderung dianggap sepele dan dipinggirkan dari sejarah panjang pergumulan filsafat dunia mengantarkan perempuan pada posisi termarginalkan dalam filsafat dan ilmu pengetahuan.

Misoginisme filsuf dalam berfilsafat ini bisa kita bagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok implisit dan eksplisit.

Filsuf yang secara implisit memosisikan perempuan misoginis dalam filsafat, di antaranya: Pertama, Aristoteles menyebutkan perempuan sederajat dengan budak atau hamba sahaya. 

Kedua, Quraish Shihab menyebutkan bahwa Plato sendiri menempatkan kehormatan laki-laki pada kemampuannya memerintah, sementara kehormatan perempuan terletak pada kemampuannya melakukan pekerjaan sederhana/hina dengan terdiam tanpa bicara.

Ketiga, Nietzsche oleh Ali Syariati dalam tugas cendekiawan muslim mengatakan bahwa perempuan berasal dari dua hal yang berbeda dengan laki-laki. Yang membuat mereka memiliki kesamaan adalah karena mereka hidup bersama dalam suatu wilayah dan saling berinteraksi dalam waktu yang lama.

Manusia besar setingkat Nietzsche sekalipun masih memosisikan perempuan dalam pandangan yang kerdil.

Keempat, Hegel mengatakan bahwa perempuan tidak dapat berpikir universal. Oleh karena demikian, ia (perempuan) tidak bisa memimpin sebuah negara, sebab perempuan hanya cocok pada pekerjaan domestik semata.

Kelima, Schopenhauer menempatkan perempuan pada kualitas makhluk inferior (baik secara kodrati maupun secara kemampuan).

Gadis Arivia menukilkan, oleh para feminisme abad-20, Schopenhauer dianggap sebagai tokoh misoginisme klasik. Di mana ia mengombinasikan hampir semua aspek negatif perempuan dari pemikir-pemikir terdahulu dan menambahkan ide-idenya sendiri tentang perempuan.

Pemikiran Schopenhauer tentang perempuan ia tuangkan dalam esainya yang berjudul Of Women (1851).

Sementara filsuf yang secara eksplisit memosisikan perempuan misoginis dalam filsafat, di antaranya adalah Immanuel Kant.

Kant, dalam kacamata Gadis Arivia, menilai ada beberapa hal yang tidak jelas dalam tulisan Kant ketika ia berbicara tentang perempuan. Misalnya, Kant tidak menjelaskan secara gamblang sejauhmana perempuan tidak bisa menjadi rasional layaknya laki-laki.

Terkadang Kant menyebutkan bahwa perempuan memiliki ciri yang adil. Tapi pada saat bersamaan, ia menuturkan jika perempuan mengisi kepalanya dengan mempelajari bahasa latin dan mekanika, maka lebih baik perempuan itu berjanggut saja.

Dalam hal ini, Kant tidak mengutarakan maksudnya dengan jelas. Apakah maksudnya perempuan tidak memiliki kemampuan untuk belajar? Atau dengan belajar, maka ia dapat merusak feminitasnya.

Dalam etika Kant bertolak dari pengertian bahwa bertindak moral dasarnya adalah rasa kewajiban. Dari Gadis Arivia, ia menukilkan yang menjadi masalah dari teks Kant bahwa bertindak moral dengan kewajiban memuat karakter maskulin.

Perempuan yang Melawan

Solanas dalam filsafatnya menjelaskan bahwa perempuan harus merekonstruksi kembali produk filsafat yang diperkenalkan oleh filsuf laki-laki. Produk filsafat yang cenderung maskulin dan tidak berperspektif feminis ini harus didekonstruksi dan didudukkan kembali menjadi filsafat yang berkeadilan.

Gadis Arivia menukilkan bahwa para feminis, dalam melihat hubungan feminisme dan filsafat, memiliki dua argumen yang berbeda. Pertama, mereka secara ekstrem menolak hubungan feminisme dan filsafat. Bagi mereka, feminisme adalah murni hal yang praksis. Bila feminisme diteorikan, maka ia akan masuk dalam diagram maskulinitas.

Kedua, mereka melihat filsafat sebagai produk maskulin yang melempar feminis keluar dari pintu-pintu filsafat. Untuk mendapatkan keadilan dalam berfilsafat, meludahi Hegel adalah langkah awal yang harus ditempuh. Lalu memulai kembali semua dari awal.

Perjalanan sejarah filsafat itu sendiri memiliki hubungan represif terhadap perempuan. Menempatkan makna yang filosofis pada kadar rasionalitas dan objektivisme. Kemudian mereduksi perempuan dalam filsafat dengan bersandar pada konsep perempuan adalah makhluk emosional yang subjektif. Sementara filsafat sendiri tidak bermuatan emosional ataupun subjektif.

Definisi manusia yang dipersepsikan oleh para filsuf laki-laki, harus direkonstruksi dan dibangun dengan gagasan yang egaliter. Sebab melalui pendefinisian tentang manusia ini, menempatkan perempuan pada posisi tersubordinasi dalam filsafat dan ilmu pengetahuan.

Perempuan dianggap tidak memiliki kemampuan yang sepadan dengan laki-laki dalam kemapanan gagasan. Olehnya demikian Rene Descartes mendefinisikan perempuan sebagai mahluk irrasional dan laki-laki adalah mahluk rasional. Seseorang layak dikatakan sebagai manusia jika ia mampu menyelesaikan suatu persoalan (dibaca: mengaktualkan akalnya secara sempurna).

Dalam pendefinisian manusia secara partikuler dan tidak universal inilah timbul perlakuan tidak adil terhadap perempuan. Seseorang yang alam gagasannya keliru tentang perempuan, maka ia akan keliru pula dalam memperlakukan perempuan.

Gagasan kita tentang sesuatu akan membawa pada cara kita memperlakukan sesuatu itu sendiri, begitu pula dengan perempuan. Berbicara perempuan, maka kita akan berbicara tentang ideologi kita dalam memahami perempuan.

Perempuan sebagai sebuah ideologi sering kali disalah persepsikan. Ideologi laki-laki tentang perempuan yang cenderung misoginis, membawa pada perlakuan yang diskriminatif terhadap perempuan. Bahkan perempuan dianggap sebagai pelengkap bagi kehidupan laki-laki dialam materiil.

Gadis Arivia dalam bukunya yang berjudul filsafat berperspektif feminis menuturkan, Le Doeuff salah satu filsuf perempuan berpendapat bahwa ada pengekslusian (pengeluaran) karya-karya filsuf perempuan dalam tradisi filsafat barat. Lebih jauh dari itu, ia juga menuduh ada banyak pendapat misoginis terhadap perempuan dalam karya-karya besar filsafat.

Pada abad pertengahan, ada beberapa perempuan yang diperkenalkan mendengarkan kuliah-kuliah filsafat, dan statusnya hanya sebagai pendengar bukan peserta aktif dalam kuliah.

Pada awal abad ke 17, ada Anna Maria Van Schurman yang mengikuti kuliah filsafat. Namun ia mengikutinya bukan dalam bangku perkuliahan tetapi dibalik tirai salah satu kelas di Universitas Utrect.

Pada pertengahan abad ke 17, tercatat nama Elena Cornaro Piscopia sebagai perempuan pertama peraih gelar doktor filsafat di Universitas Venecia.

Kejadian yang membuat heboh kota venesia pada tahun 1678 silam, membawa 20.000 orang menonton acara pengukuhan doktor perempuan pertama dalam bidang filsafat ini. 

Setelah kejadian menghebohkan ini, pihak universitas kemudian memutuskan untuk tidak menerima mahasiswa perempuan. 54 tahun setelah itu, seorang perempuan bernama Laura Bassi meraih gelar doktor dalam bidang filsafat, setelah mempertahankan 49 tesis tentang filsafat alam didepan publik dan berdebat dengan lima profesor.

Perjuangannya tidak berhenti sampai di sana. Ia tidak pernah menjadi pengajar utama di universitas. Sepanjang kariernya, ia hanya diperkenankan mengajar bila ada profesor laki-laki yang berhalangan hadir.

Lagi-lagi superioritas laki-laki atas gagasan dan pengetahuan memang sudah dilanggengkan sejak berabad-abad silam. Memaksa perempuan hadir sebagai mahluk inferior dalam pergumulan intelektual.

Merekonstruksi alur Sejarah

Kata rekonstruksi menurut KBBI (Kamus besar bahasa Indonesia) memiliki makna sebagai pengembalian seperti semula, atau penyusunan (penggambaran) kembali.

Merekonstruksi alur sejarah filsafat adalah suatu bentuk penyusunan atau penggambaran kembali filsafat itu tanpa meniadakan filsafat yang telah ada.

Berangkat dari gagasan filsafat yang misoginis, kita membangun gagasan yang berkeadilan dengan memadukan filsafat dari para filsuf laki-laki dan filsuf perempuan lalu menjadinya sebagai sebuah grand teori yang berkeseimbangan.

Sehingga tidak ada kesalahpahaman dalam memperlakukan perempuan karena kekeliruan definisi kemanusiaan itu sendiri.

Dalam merekonstruksi alur sejarah, kita harus mengembalikan nama-nama filsuf perempuan yang telah dikaburkan dalam sejarah. Sebab sejauh ini, sejarah filsafat dibangun atas ego laki-laki dengan meniadakan konsep kebijaksanaan dalam filsafat itu sendiri.

Pertama, kita berangkat dari periode keemasan (Athen's Golden Age) yang dalam masa awal banyak melahirkan filsuf perempuan beraliran pythagoreans (528-400 SM) diantaranya yaitu Theano, Damo dan Myia.

Aliran pythagoreans telah memberikan filsafat sebuah nama yang identik dengan dunia filsafat sampai hari ini yaitu "love of wisdom" (cinta kebijaksanaan). Fokus aliran ini dalam bidang matematika, mistisisme, dan sains.

Dalam periode Athena klasik ini diwarnai pula oleh pemikiran dari Perticone I dan Phynties dari Sparta. Perticone I sendiri diduga adalah ibu dari Plato, ia menulis tentang keharmonisan perempuan. Sedangkan Phynties dari Sparta terkenal dengan tulisan-tulisannya tentang moderasi, perempuan dan teks-teks etika awal.

Pada tahun 470 muncul nama Aspasia dari Miletus yang berada dalam aliran kaum sofis terdahulu (Older Sophists). Aspasia dikenal sebagai pemikir yang kuat pada bidang retorika.

Sementara itu, ada Diotema dari Montinea yang hidup pada tahun 450 dalam era pra-Platonism, ia terkenal dengan teori-teorinya tentang cinta, keindahan dan jiwa manusia.

Kedua, dalam periode filsafat Romawi (Roman Philosophy) muncul nama Mary the Jewes (200 M) seorang filsuf alam yang beraliran Platonism. Ia dikenal karena penemuannya terhadap alat-alat kimia yang masih digunakan sampai dengan saat ini. Dalam berfilsafat, ia sangat tertarik dalam perubahan masalah.

Pun demikian pada tahun 170 M muncul seorang Pythagoreanism bernama Julia Domma. Ia adalah permaisuri Roma yang berdedikasi dalam menempatkan filsafat pada posisi yang terhormat di negaranya. Dalam masanya, ia banyak melindungi para filsuf dan astrolog.

Ketiga, periode pertengahan (The Middle Ages) yaitu antara abad ke-5 sampai abad ke-16. Periode ini berfokus untuk memadukan filsafat klasik dengan pemikiran kristen yang terlupakan.

Periode ini memunculkan nama Hypatia of Alexandria (375 SM) seorang Neoplatonism, yang menjadi simbol perlawanan terhadap agama katolik. Ia adalah seorang filsuf, astronom dan matematikawan helenistik perempuan pertama yang dengan mudah ditemui dalam catatan sejarah.

Muncul pula Boethius (375-526 M), ia adalah seorang neoplatonism yang mengedepankan penghormatan terhadap nalar dan kebenaran platonis yang dipadukan dengan alegori kristen.

Periode ini pun melahirkan seorang Dhouda of Gascony (804 M) yang merupakan penulis perempuan pertama dari Eropa. Ia menuliskan sebuah buku tentang etika untuk anak laki-lakinya.

Aliran selanjutnya adalah Monastic Tradition yang berkembang antara tahun 600-1.000 M. Dalam aliran ini muncul nama Hilda dari Withby, Hroswitha dari Gandersheim, dan Herrad dari Hoehenbourg. 

Monastic Tradition atau tradisi biara menjadi pusat-pusat pembelajaran selama zaman kegelapan, laki-laki dan perempuan memimpin pusat pengajaran dan kesarjanaan pada saat itu.

Sementara 200 tahun kemudian, pada tahun 1200 M muncul nama Beatrice dari Nazareth yang beraliran Monastik Tradition.

Keempat, periode Renaissance (Abad ke-14 sampai abad ke-17) muncul nama Isotta Nogorola yang beraliran Humanism (1304-1536). Ia adalah penulis dan intelektual Italia yang menjadi seorang humanis terpenting dalam sejarah renaissance Italia.

Setelah itu muncul filsuf perempuan bernama Olivia Sabuco dan Margareth Lucas Cavendish yang beraliran filsafat alam baru (New Natural Philosophies) yang berkembang sekitar tahun 1473-1639 M.

Fokus aliran ini adalah dengan adanya penolakan terhadap sains aristotelian dan adanya upaya penyelidikan ilmiah yang lebih objektif dalam ilmu alam.

Kelima, Periode filsafat modern yang berkembang antara abad ke-17 sampai abad ke-20 ditandai dengan lahirnya seorang doktor pertama dalam bidang filsafat yang bernama Helena Lucretia Cornara Piscopia pada tahun 1646.

Abad ke-17 sampai abad ke-19 ditandai dengan berkembangnya aliran filsafat feminisme awal yang melahirkan banyak filsuf perempuan diantaranya ; Gabrielle Suchon, Mary Astel, Sophya, Catherine Macaulay, Olympe de Gouges, Anna Doyle Wheeler, Mary Wollstonercraft, Judith Sargent Murray, Jenny Poinsard d'Hericourt.

Aliran feminisme ini lahir karena hanya sebagian kecil perempuan yang diizinkan untuk memperoleh pendidikan, dan perempuan pada masa itu hidup secara semi-otonom. Aliran ini hadir sebagai kritik terhadap politik dan struktur kekuasaan pada masa itu. Kritik ini kemudian dituliskan oleh para perempuan saat itu.

Sementara itu, dua orang filsuf perempuan lainnya muncul dalam aliran filsafat politik yaitu Hannah Arendt dan seorang lainnya yang tidak akrab ditelinga pembaca yaitu Eleanor Marx.

Aliran filsafat politik berfokus pada perlunya struktur politik, membahas tentang hal-hal yang mengarahkan pemerintahan menjadi lebih baik, tentang hak dan kebebasan serta kewajiban yang dimiliki oleh warga negara.

Dalam tahun 1860 muncul filsuf perempuan yang beraliran ST. Louis Hegelian yaitu Grace C. Bibb, Susan Blow, dan Marietta Kies. 

Aliran hegelian merupakan kelompok filosofis pertama di Amerika yang meneliti tentang idealisme Jerman. Aliran pemikiran ini berisi sejumlah profesor perempuan pertama di Amerika.

Sementara dalam periode filsafat kontemporer tidak ada nama filsuf perempuan yang hadir di permukaan.

Referensi

  • Gadis Arivia, "Filsafat Berperspektif Feminis", Cetakan I (Jakarta : YJP, 2003)
  • Ali Syariati, "Tugas Cendekiawan Muslim",  Cetakan II, (Jakarta : Cv. Rajawali, 1984)
  • Quraish Shihab, "Perempuan", Cetakan I, (Tangerang : Penerbit Lentera Hati, 2018)
  • www.superscholar.org, "A Comprehensive History of Philosophy" diakses pada tanggal 30 Januari 2020.