Hai wanita kaum pekerja, pernah punya rasa tidak nyaman dan disisihkan di dunia kerja? Kalau pernah, jangan khawatir Anda tidak sendirian. Sehebat dan setinggi apapun posisinya, saya kira pasti sangatlah tidak nyaman bila hal ini terjadi. Buat para pria yang baca artikel ini jangan baper dulu, ini memang artikel mengenai wanita tetapi bukan berarti tidak boleh dibaca oleh kaum pria siapa tahu artikel ini bisa membuat Anda mengenal lebih banyak tentang wanita.

Paling susah kalau kerja di dunia pria apa ya sebagai perempuan? Dunia apa dulu nih? Bukan dunia lain pastinya.

Contoh, Martha ( bukan nama sebenarnya ), bekerja sebagai Kepala Pabrik di salah satu Kawasan pinggiran Jakarta. Meskipun karyawan yang dipimpinnya cukup beragam gendernya, tetapi terkadang Martha merasa karyawan lelaki tidak sepenuhnya mempercayai kepemimpinannya.

Contoh lain, Citra ( juga bukan nama sebenarnya ), kerja di dunia sales B2B istilah kerennya, artinya Business to Business. Di mana barang yang dijajakan atau tawarkan untuk usaha pelanggan akan diteruskan lagi ke pihak berikut baik dengan tambahan pengolahan maupun tidak. Pelaku bisnis di bidang yang digeluti Citra mayoritas didominasi oleh laki-laki, dari atasan langsung, teman sejawat sesama kepala penjualan maupun pembeli atau distributor yang mereka miliki.

Lalu sulitnya di mana? Ok sabar. Sulitnya tuh, karena perempuan pada saat menjabat sebagai pimpinan, apakah itu kepala pabrik, kepala sales, maupun yang lainnya, ada kalanya merasa disisihkan oleh lingkungannya.

Hal kecil misalnya, dalam kasus Martha maupun Citra, mereka tidak bisa dengan leluasa makan siang dengan rekan sejawat pria. Ada kecenderungan kelompok lelaki memilih untuk selalu bersama tanpa ada rekan peremuan. Ya sekali-kali boleh, tetapi tidak setiap hari.

Jadi  kalau berpapasan dengan mereka di kantin, selalu ada tanya di dalam hati “ apa ya yang mereka bicarakan?, apakah project baru? Atau cara dapatkan target bulan ini?” pokoknya macam-macam pertanyaan bisa muncul di benak. Ada juga rasa tidak menyenangkan karena merasa disisihkan dalam kelompok.

Masa cuma  gara-gara tidak diajak makan siang bareng saja sudah ngambek? Apa lagi gak enaknya? Tenang, masih ada lagi. Kalau sedang dinas keluar kota bersama, nongkrong bareng itu basa basi banget rasanya. Bisa sih ngobrol sebentar setelah makan malam, tapi setelah itu mereka pasti akan sibuk sendiri. Kembali rasa tidak nyaman akan terasa.

Adakah cara untuk mengatasi ini semua? Tentu saja ada. Pertama, jangan focus dengan perlakuan yang tidak menyenangkan tersebut, tapi bagaimana menghadapinya. Sepertinya itu yang paling penting. Seperti kata kebanyakan orang pintar, sebagai perempuan usaha lebih keras itu harus kalau di dunia laki-laki. Bukan berarti kerja lebih keras mati-matian, lembur sana sini dan semua pekerjaan diterima. Tidak, kita harus lebih pintar memanfaatkan waktu supaya tidak terjebak dengan hal – hal kecil.

Perempuan suka dengan details atau hal kecil yang njelimet, itu kekuatan tapi bukan berarti kita harus terus berkutat di dalamnya dan akhirnya ketinggalan jauh dari rekan kerja pria kita yang sudah melesat jauh karena berhasil mengambil “big picture”nya.

Gunakan kekuatan dalam hal details untuk menganalisa tapi selalu ingat objective atau tujuan awal dan tenggat waktu. Disiplin dalam hal tersebut. Menguasai details tapi tidak terjebak di dalamnya, maka akan memberikan nilai lebih.

Kedua, karyawan perempuan biasanya punya empati tinggi, mau mendengarkan. Jadi pergunakan hal ini juga sebagai kekuatan di dunia kerja kita. Banyak mendengar mengumpulkan informasi, mencerna di dalam kepala sebagai proses berpikir. Mendengarkan dengan empati maka ada dua hal yang menurut saya bisa didapatkan, yaitu informasi yang lebih mengalir dan bisa jadi info kecil tambahan juga diperoleh yang bisa digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan kita. Ditambah hubungan yang lebih dekat akan terbentuk karena ada rasa dihargai.

Ketiga, ini saya kutip dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Caliper, firma konsultasi yang berada di New Jersey Amerika Serikat, bahwa pemimpin perempuan cenderung lebih persuasive dibandingkan pemimpin pria. Artinya, perempuan memiliki kekuatan untuk berbicara dengan pihak lain, berkoordinasi dan menjembatani antar pihak guna menyelesaikan satu pekerjaan atau masalah.

Keempat, multi tasking. Kaum Perempuan berbahagialah karena memang dilahirkan dengan keahlian yang luar biasa ini. Sebagai ibu kita harus berpikir dan mengatur keuangan keluarga, mendidik anak dan memastikan bahwa mereka tumbuh dengan sehat, termasuk menu makanan yang harus tersedia setiap hari di meja makan, belum lagi memastikan pendidikan yang harus anak anak lalui.

Di kantor, sebagai pekerja kita harus memastikan pekerjaan kita berjalan dengan baik, kalau punya anak buah harus memastikan performa semua karyawan yang dipimpin juga mempunyai performa yang baik. Jadi kemampuan untuk memikirkan berbagai hal di kepala dan mengerjakannya dalam waktu yang bersamaan bukanlah hal yang sulit.

Sebagai kesimpulan, meskipun masih ada beberapa lagi kekuatan yang menurut saya ada, dengan empat kekuatan di atas saja sebetulnya perempuan bisa menghasilkan banyak karya dan performa.

Sehingga, tidak perlu berkecil hati atau terbawa perasaan pada saat bekerja. Fokus pada kekuatan yang kita miliki dan hasilkan kinerja yang lebih baik setiap saat. Semangat!