Banyak orang mengagumi keindahan perempuan sebagai ‘karya seni’ terindah di dunia. Kekuatan keindahan perempuan mengalahkan keindahan apa pun di dunia ini, karena justru di dalam keindahan itu ada kehidupan yang menjadi pusat interaktif antara objek keindahan dan subjeknya.

Keindahan perempuan menjadi stereotip dan membawa mereka ke sifat-sifat di sekitar keindahan itu, seperti perempuan harus tampil menawan, pandai mengurus rumah tangga, memasak, tampil prima untuk menyenangkan suami, dan pantas diajak ke berbagai acara, cerdas, serta sumber pengetahuan dan moral keluarga.

Stereotip ini kemudian berkembang menjadi ide dan citra perempuan yang dikemas dalam berbagai iklan di media massa sekaligus menjadi sumber protes terhadap iklan-iklan yang dianggap ‘meremehkan’ citra itu. 

Namun sebenarnya dominasi perempuan dalam iklan, tidak sekedar karena stereotip di atas, lantas lelaki lebih suka menonton iklan dengan dominasi informasi tentang perempuan, akan tetapi karena umumnya iklan di media massa adalah perempuan dan barang-barang yang diiklankan juga adalah barang-barang di sekitar perempuan atau yang berhubungan dengan perempuan.

Stereotip perempuan tersebut di atas menjadi wacana dalam rancangan iklan, seperti iklan televisi. Salah satu contohnya, perempuan harus mampu tampil menyenangkan suami, menjadi wacana terhadap posisi perempuan dalam iklan. Beberapa iklan menampilkan perempuan yang dimarah-marahi oleh atasannya, karena atasan sedang sakit batuk. 

Seorang pimpinan juga marah-marah kepada karyawatinya, karena dinilai kurang beres melaksanakan tugasnya, lagi-lagi karena atasan sedang sakit darah tinggi. Entah kenapa hanya karyawati itu saja yang dimarahi, padahal ada karyawan lainnya. Kembali bahwa stereotip perempuan harus tampil memuaskan dan menyenangkan suami menguasai iklan-iklan itu.

Dalam berbagai iklan televisi ditayangkan, stereotip perempuan juga digambarkan secara bebas, di mana ia bisa menjadi penindas (iklan sabun Omo serial bawang putih dan bawang merah). Perempuan juga digambarkan dalam iklan sebagai kaum pinggiran. 

Umumnya kehadiran perempuan dalam banyak iklan hanya sebagai pelengkap dan sumber legitimasi terhadap realitas yang diungkapkan, seperti iklan Extra Joss (serial di pengeboran minyak), peran utama iklan adalah lelaki; gagah, kuat perkasa, dan tampan, sedangkan perempuan hanya tokoh yang hadir untuk mengagumi sifat-sifat itu.

Iklan juga umumnya menempatkan perempuan sebagai pemuas seks laki-laki; iklan permen Pindi Mint ‘dingin-dingin empuk’, iklan Torabika ‘pas susunya’, iklan Sidomuncul ‘puasss rasanya’, iklan Axe ‘astronot’ dan ‘bidadari’, dan lainnya. Seks dalam masyarakat, selalu digambarkan sebagai kekuasaan laki-laki terhadap wanita.

Dalam banyak hal, iklan merupakan rekonstruksi terhadap dunia realitas sebenarnya. Dalam kehidupan sosial, dalam hubungan perempuan dan laki-laki, posisi perempuan selalu ditempatkan dalam posisi ‘wengking’, ‘orang belakang’, ‘subordinasi’, perempuan selalu yang kalah, namun sebagai pemuas pria, pelengkap dunia laki-laki. 

Hal-hal inilah yang terlihat dalam iklan televisi sebagaimana yang disebut rekonstruksi sosial, bahwa iklan hanya merekonstruksi apa yang ada sekitarnya, apa yang menjadi realitas sosial di masyarakat. Sehingga iklan televisi juga disebut sebagai refleksi dunia nyata, refleksi alam di sekitarnya.

Iklan televisi yang banyak mengundang stereotip perempuan menjadi ‘orang belakang’ merupakan bentuk dari eksploitasi keindahan yang dimiliki oleh perempuan itu sendiri. Keindahan yang ‘hilang’ begitu saja akibat pengaruh media massa yang memasang posisi perempuan secara berlebihan untuk menarik minat pemirsa televisi adalah bentuk dari ketidakberdayaan perempuan memendung arus budaya populer yang berlaku di masyarakat.

Selain iklan di televisi, bias gender antara laki-laki dan perempuan juga merambah acara televisi. Perempuan selalu dijadikan objek dalam rangka pemenuhan kebutuhan promosi acara-acara televisi terbaru. 

Bahkan yang lebih mirisnya, perempuan yang masih berusia kanak-kanak pun dieksploitasi dalam sebuah acara televisi yang berjudul ‘Princess’. Dengan bungkusan ajang mencari bakat penyanyi cilik, namun dengan pakaian minim. Ajaran memakai pakaian minim sejak kecil sudah merupakan bentuk ‘dukungan’ terhadap eksploitasi perempuan alias pelecehan perempuan.

Kemajuan teknologi yang dibarengi dengan bermunculannya teknologi terbaru, serta media pendukungnya membuat kehidupan manusia menjadi lebih berkembang. Perkembangan hidup manusia secara otomatis memerlukan media untuk menjadi penghubung antara manusia yang satu dengan yang lainnya. 

Media penghubung pun bermunculan seiring dengan kebutuhan manusia. Maka koran, majalah, tabloid, internet, televisi, radio, dan media cetak atau elektronik lainnya berlomba sebagai media penghubung, atau lebih tepatnya sebagai media hiburan sekaligus promosi barang dan jasa.

Namun, perkembangan itu berimplikasi terhadap kebutuhan manusia yang semakin lama semakin banyak. Nah, objek agar kebutuhan ini semakin diminati adalah dengan menempatkan perempuan sebagai aktor utama, baik dalam acara televisi, radio, atau iklan di media cetak dan elektronik. 

Media cetak dan elektronik sebagai salah satu bentuk budaya populer yang berkembang pesat hingga saat ini telah mengakibatkan posisi perempuan menjadi sangat lemah dan hanya sebagai bahan ‘hiburan’ bagi industrialisme produk agar produk mereka laku di pasaran.

Menurut Henry Subiakto dan Rachmah Ida (2012), pengertian budaya populer adalah seperangkat ide, perspektif, sikap, gambaran dan fenomena lain, yang menurut konsesus umum berada dalam lingkaran maninstream (arus utama) dari budaya yang ada (given culture). 

Budaya populer mulai dikenal dalam konteks budaya Barat di awal pertengahan abad ke-20, ketika kemunculan budaya mainstream global yang begitu marak di abad ke-20 hingga 21. Budaya populer menjadi hadir di mana-mana, dipengaruhi oleh kehadiran media massa. Budaya populer kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat di dunia.

Budaya populer sering kali didekatkan dengan istilah ‘mass culture’ atau budaya massa, yang diproduksi secara masal dan dikonsumsi secara masal juga. Dengan kata lain, budaya populer adalah produk budaya yang bersifat pabrikan, yang ada di mana-mana dan tidak memerlukan usaha untuk mengonsumsinya (Henry Subiakto dan Rachmah Ida, 2012).

Konsumsi budaya populer masyarakat dewasa ini telah membuat terjadinya pergeseran nilai-nilai gender yang berlaku. Budaya populer yang menjangkiti masyarakat mengakibatkan peran perempuan atau wanita menjadi lebih tak seimbang dibanding laki-laki. 

Realitas yang ada memperilhatkan bahwa zaman sekarang sudah hampir sama dengan zaman jahiliyah dahulu bahwa perempuan tak lagi dihargai, dan laki-laki pun dalam berbagai iklan dan kesempatan sangat mengeksploitasi keindahan yang dimiliki oleh perempuan.

 Keindahan perempuan sebagai sebuah karya seni hasil ciptaan tuhan seharusnya tetap kita jaga. Keindahan perempuan dengan berbagai ciri khas yang melekat pada diri mereka harus tetap utuh selamanya. Semua itu dilakukan agar keindahan perempuan tak lagi dieksploitasi oleh tangan-tangan ‘jahat’ mereka yang menjual produk melalui tontonan dan gambar yang tak patut untuk dilihat, dicontoh, dan ditiru.

Sampai kapan pun perempuan itu tetap indah, karena perempuan hadir untuk menyempurnakan kehidupan di muka bumi. Kehadiran perempuan sudah seharusnya kita apresiasi di tengah peradaban manusia. 

Kelahiran perempuan yang digambarkan dari tulang rusuk laki-laki yang bengkok mencerminkan bahwa perempuan sebenarnya merupakan bagian dari laki-laki. Maka, sudah seharusnya bagian dari laki-laki ini kita jaga selamanya agar keindahan itu tetap menjadi permata yang indah dan dapat dinikmati oleh laki-laki yang telah ‘mengorbankan’ tulang rusuknya itu, bukan semua orang yang berhak untuk menikmatinya.

Kehadiran perempuan di tengah-tengah budaya populer tak seharusnya menggerus keindahan perempuan itu sendiri. Budaya populer dengan berbagai kemajuan yang mengikutinya sudah seharusnya menjadikan keindahan perempuan tetap indah selamanya. Bukan dengan memperlihatkan keindahannya, tapi menyimpan keindahan itu sebagai pigura yang akan memancarkan sinar keindahan dari dalam diri mereka tanpa harus dinikmati oleh laki-laki dengan wujud yang nyata.