“No one is more arrogant toward women, more aggressive or scornful, than the man who is anxious about his virility.” ~Simone De Beauvoir (The Second Sex, 1949).

Sebenarnya saya agak enggan menulis sesuatu yang memperlawankan perempuan dan laki-laki. Maksud saya, kita sekarang hidup (atau sudah semestinya hidup) dalam dunia yang tidak lagi dipengaruhi kerangka pikir oposisi biner, dalam hal ini laki-laki versus perempuan. Segala persoalan dan penyelesaiannya harus didudukkan dalam konteks yang berlaku secara umum.

Saya juga tidak begitu suka dengan suara-suara yang, saking bersemangatnya mengampanyekan keadilan bagi perempuan, sampai mendorong kita untuk memaknainya dengan cara membenci dan menyalahkan laki-laki (meski harus dimaklumi jika suara-suara seperti ini masih akan ada selama berbagai ketimpangan terus berlangsung).

Dan lagi, saya orang yang percaya bahwa semangat masyarakat modern adalah semangat kebersamaan dan kedamaian, bukan perlawanan.

Itulah sebabnya saya lebih bergairah ketika menulis tentang manusia secara umum. Saya ingin mengajak kita memosisikan diri sebagai manusia, bukan sebagai perempuan atau laki-laki. Simone De Beauvoir sendiri nampak kesal ketika perempuan pada masanya dibentuk untuk selalu mengindentifikasi dirinya terlebih dulu sebagai perempuan. Maka mucullah pandangannya yang sangat terkenal: “One is not born, but rather becomes, a woman.” Saya mengira kita semua sudah cukup dewasa untuk memahaminya.

Tetapi, apa yang semestinya berlaku memang tak selalu benar-benar berlaku. Maksud saya, ada semacam paradoks dalam hal ini. Dunia memang semakin melek akan konsep kesetaraan dan keadilan jender. Ini bisa dibuktikan dengan menguatnya wacana tersebut di lingkungan akademis.

Bahkan, di beberapa negara Eropa dan Skandinavia, ia berhasil diaplikasikan dalam pelbagai kebijakan. Tetapi pada sisi berbeda, banyak fenomena yang menunjukkan betapa sulitnya kita melepaskan diri dari sisa-sisa pola pikir patriarkal yang telah berabad-abad meresap di alam bawah sadar.

Jangankan hal-hal yang dianggap kecil terkait gaya berpakaian, bahkan di beberapa tempat, persoalan yang lebih besar seperti pemberlakuan kebijakan yang tidak sensitif jender, masih saja semarak. Terutama di Indonesia.

Negara kita tercinta ini, seringkali terjebak dalam seremonial atau peresmian belaka ketika mengekspresikan keikutsertaanya dalam wacana keadilan jender. Contoh: peringatan Hari Kartini, kuota 30% untuk perempuan di parlemen, pembentukan Kementerian Pemberdayaan Perempuan.

Sudah, sampai di sana. Seolah negara telah cukup berjasa dengan peresmian-peresmian tersebut.

Adapun persoalan substansi? Silakan urus sendiri-sendiri. Saking absurdnya cara negara dalam mengapresiasi perempuan, terkadang kesemua peresmian, yang semula mungkin diawali dengan niat baik, pada praktiknya malah menegaskan pembedaan antara perempuan dan laki-laki. Alih-alih menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kesetaraan dan keadilan jender, negara menuntun masyarakat pada pemaknaan yang keliru tentangnya.

Dampaknya? Banyak sekali. Dalam hal kuota 30%, kita semua sudah tahu apa akibatnya. Asal penuh. Tidak lantas disertai upaya-upaya yang lebih praktis dan substansial seperti pendidikan politik bagi perempuan atau fokus pada penerapan konsep kesetaraan dan keadilan jender di level kebijakan. Lebih parah lagi, sistem ini dimanipulasi partai-partai, yang asal comot kader supaya tidak didiskualifikasi saat pemilu. Itu saja sudah merupakan contoh yang bikin kita nyinyir.

Tapi sudahlah ya, soal itu. Jika negara tak bisa diandalkan untuk mengawal kemajuan dan kesetaraan bagi perempuan, mau diapain lagi? Soal korupsi saja, yang dikutuk dan diserang sebagian besar masyarakat, tidak pernah jelas penyelesaiannya. Apalagi mengurus persoalan perempuan, yang dalam hal ini pandangan masyarakat bukan lagi terbelah menjadi dua, tapi berceceran tak tentu bentuk.

Jadi, di sini saya tidak akan bicara dalam konteks negara lagi (capek ah!). Tidak pula bermaksud membahas isu-isu besar sebagaimana disinggung di atas. Saya ingin membahas persoalan keseharian yang erat kaitannya dengan perempuan dan beragam cara masyarakat bersikap atasnya. Persoalan yang begitu dekat dengan kita.

Kali ini saya ingin menyinggung soal pandangan-pandangan nyinyir terhadap ekspresi perempuan dalam mencintai diri dan tubuhnya. Begini ya, belakangan ini banyak sekali status-status Facebook yang nyinyir terhadap perempuan. Terutama dari mereka yang, apakah itu mengkritisi atau sekedar iri, dengan beragam cara perempuan mengekpresikan ketubuhannya. Ada yang sinis sama bentuk alis, gaya rambut, gaya berpakaian, kebiasaan berselfie dan seterusnya.

Sikap sinis tersebut bukan hanya muncul dari laki-laki, banyak juga perempuan yang mencetuskan komentar yang tak kalah nyinyir. Berbagai penilaian dan alasan yang menunjukkan kenyinyirannya itu diungkapkan begitu percaya dirinya. Mulai dari alasan: cantik sesungguhnya adalah yang alami, yang tanpa make-up.

Lha, terus apa masalahnya? Apakah dengan dia memilih cantik tidak alami bisa merugikan orang lain? Kalau Anda lebih menyukai kecantikan yang tanpa make-up, silakan tidak usah bersolek. Bagi laki-laki yang lebih menyukai perempuan tanpa make-up, silakan mencari pasangan yang sesuai selera Anda. Tidak usah mengusili orang lain dengan pandangan nyinyir Anda. Selesai kan?

Ada juga yang mengungkapkan alasan lebih elegan. Misalnya mengkritisi budaya konsumerisme di balik para pesolek. Betul, ada kaitannya di sini. Tapi lagi-lagi, ini persoalan kesadaran dan pilihan, bukan? Selagi kita percaya bahwa setiap orang berhak atas pilihan bebasnya, selama tak merugikan kebebasan orang lain, saya kira tak ada persoalan.

Menurut saya, adalah sebuah perilaku tak sehat ketika seseorang tergiring untuk mengomentari dan menilai tubuh orang lain yang merupakan hak mutlak dirinya. Artinya, apapun yang dilakukan seseorang atas tubuhnya adalah hak dan tanggung jawabnya sendiri. Jika ia melakukan sesuatu yang besar kemungkinan akan merusak tubuhnya, maka kerusakan adalah konsekuensi yang akan ditanggungnya sendiri. Apa sih urusan kita sama tubuhnya dia?

Beragam kenyinyiran yang bukan hanya ditujukan terhadap tubuh perempuan bertebaran juga di sosial media. Termasuk misalnya sikap sebagian orang atas pemberitaan selebritis perempuan yang terjerat prostitusi. Ramai-ramai mereka memposting berita tersebut di halaman Facebooknya; ramai-ramai mengomentarinya dengan pandangan yang, lagi-lagi, nyinyir. Ada yang menanggapi dengan nada bercanda, sinis, hingga bawa-bawa agama.

Apa bedanya ini dengan sikap menyebalkan para pengangguran yang mengomentari (mengusili) setiap perempuan yang melewati tempat nongkrongnya? Hanya beda tempat saja, saya kira.

Maka, di sini saya merujuk pandangan Simone De Beauvoir: bahwa orang yang paling nyinyir terhadap perempuan adalah ia (dalam hal ini Beauvoir menyebutnya laki-laki) yang lagi galau akan kejantanannya. Tentu ujaran feminis eksistensialis ini beda konteks dengan persoalan yang saya bicarakan. Tapi sebuah gagasan, sebagaimana kitab suci, selalu bisa diaplikasikan dalam konteks kekinian sepanjang itu untuk kebaikan bersama, terutama bila ia berguna untuk menghalau laku kekerasan. Dan bagi saya, pandangan nyinyir terhadap perempuan merupakan bentuk kekerasan baru yang bisa saja memicu akibat buruk.

Juga, karena saya terlanjur mendapati sikap nyinyir bukan berasal dari laki-laki semata, maka saya akan menafsirkan pandangan De Beauvoir sebagai berikut: manusia yang paling nyinyir terhadap ekspresi seorang perempuan, adalah ia (baik laki-laki maupun perempuan) yang amat galau dengan kediriannya. Ia yang tidak cukup memahami cara seperti apa untuk memuaskan hasrat, keinginan, gairah atau apapun yang dibutuhkannya, sehingga selalu terdorong untuk menilai dan menghakimi orang lain.