Perempuan dibesarkan oleh orang tuanya dengan penuh kasih. Apalagi jika anak perempuan satu-satunya atau bungsu (dan saya keduanya), tentu dia akan "kebanjiran" kasih sayang, baik materi maupun non-materi.

Lalu, kenapa perempuan harus menikah meskipun sudah "banjir" kasih sayang? Menurut saya, jawabannya sama seperti 'kenapa perempuan harus menjadi seorang anak dari orang tuanya'.

Namun, perbedaannya jelas terlihat. Jika menjadi seorang anak, kita tidak pernah bisa memilih. Maka menjadi perempuan tentu bisa memilih laki-laki. Laki-laki yang bagaimana?

Masalahnya, apakah bisa mendapatkan kasih dari seorang laki-laki yang sepadan dengan orang tua kita? Saya rasa, untuk menandingi, tidak mungkin, setidaknya bisa setara.

Jika fokusnya pada "menikah", maka objeknya (laki-laki) bisa siapa saja. Tetapi, jika fokusnya "laki-laki", maka menikah tidak bisa sembarang saja.

Tak bisa dimungkiri, perempuan bisa memilih atau terjebak pada kedua pilihan tersebut. Perempuan yang "mengabdi" pada pernikahan cenderung diburu waktu, umur, dan faktor lingkungan masyarakat. Menjadi penerus mitos-mitos pernikahan.

Dan, yang dilakukan adalah menerima siapa saja laki-laki yang meminangnya. Iya, karena menuruti sederatan mitos pernikahan yang telah berakar di masyarakat.

Perempuan pada pilihan 1 biasanya menjadi mayoritas dan pilihan 2 sudah tentu minoritas. Bukan isu belaka jika mayoritas selalu berkuasa atas minoritas. Kenyataannya memang begitu.

Perempuan yang fokus pada pencarian terhadap laki-laki terbaik sering dianggap "hina", tidak laku, dan perawan tua. Padahal, tidak ada kadar kedaluwarsanya bagi seorang perempuan. Mau menikah atau tidak, memangnya kenapa?

Begitu kejamnya "lidah" masyarakat yang selalu merasa paling benar. Bukankah menikah bukan konsumsi publik? Karena itu, jangan sampai menikah hanya untuk menjadi penerus mitos. Jangan sampai menikah untuk menyenangkan masyarakat. Jangan sampai!

Bagi para feminis, tentu menjadi kaum minoritas. Memperjuangkan kebahagiaan diri sendiri terkadang memang banyak rintangan. Terutama berjuang untuk mendapatkan pernikahan yang bahagia.

Sudah biasa dipandang seperti anak itik di antara anak ayam. Dianak-tirikan dalam masyarakat. Ya tidak apa-apa, karena fokus kita berbeda.

Feminis bukan anti-laki-laki dan anti-menikah. Bukan! Justru kaum minoritas ini ingin membuktikan ada laki-laki yang menghargai hak-hak perempuan.

Ketakutan demi ketakutan saya jadikan sebagai "payung". Sedia payung sebelum hujan. Karena pernikahan akan berubah menjadi "penjajahan" bagi perempuan jika tidak hati-hati.

Seperti halnya emansipasi kaum perempuan di Indonesia yang dipelopori oleh R.A Kartini, sampai saat ini perempuan tidak benar-benar "merdeka". Dalam kehidupan umum, sekaligus pribadi.

Saya sebagai perempuan harus bertanggung jawab atas kebahagiaan saya sendiri. Saya tidak ingin "menghamba" pada laki-laki. Saya memiliki privasi sebagai perempuan.

Upaya mengantisipasi bentuk-bentuk penjajahan yang bisa menimpa pernikahan kapan saja, saya menjadi terlalu pemilih terhadap laki-laki. Dan itu sah-sah saja. Wong laki-laki saja bebas memilih perempuan, kok. Masa iya perempuan tidak boleh. Kan lucu!

Meskipun saya menjadi minoritas dan sering tertindas, tidak menjadi alasan untuk berubah pikiran ke pilihan 1. Semua itu kan tergantung pilihan masing-masing. Mau bahagia, ya kudu mau usaha dan bersabar. Perempuan berhak bahagia sebagaimana laki-laki juga bahagia!

Apakah bahagia jika mendapatkan laki-laki yang selingkuh, KDRT, dan lain-lain? Perempuan terlalu berharga untuk diperlakukan demikian. Sedangkan Alquran yang Karim saja menghormati perempuan dalam surah An-Nisa.

Laki-laki tidak akan bisa "menjajah" jika perempuan tidak mengizinkannya. Berdasarkan YouTube Kuliah Psikologi, perempuan kadang-kadang bandel. Sudah tahu bahwa si laki-laki kasar, masih saja melanjutkan menikah. Dengan alasan cinta.

Kata psikolog Dedy Susanto, "Kalo buta, jangan buta-buta banget dong, Mbak."

Benar juga, sih. Apalagi menikah nanti akan menghadirkan buah hati. Egois namanya kalau cuma memikirkan diri sendiri atas nama "cinta".

Yang namanya penyesalan pasti di akhir. Jangan sampai menyesal tidak mengupayakan yang terbaik untuk sisa hidup nantinya, wahai perempuan. Jangan minder jadi orang yang pemilih dan minoritas. Setiap orang memiliki prioritas masing-masing.

Yang merasakan bahagia juga diri sendiri. Masyarakat hanya melihat sekilas saja. Toh, tidak sedikit yang kelihatannya baik-baik saja, tiba-tiba cerai. Yang menikah duluan, juga tiba-tiba cerai.

Untuk perempuan-perempuan yang berjuang melawan arus mitos pernikahan, jangan menyerah. Hak-hak pribadi perempuan sudah selayaknya diperjuangkan. Tiap perempuan berhak mendapatkan laki-laki seperti yang diimpikan, mau menikah atau tidak, kapan menikah, dan sebagainya. Dan, itu sah-sah saja!

Tidak akan lari gunung dikejar. Seperti apa pun memburu waktu demi target menikah, kalau belum ada yang terbaik lalu mau apa.

Menikah bukan tentang waktu, tetapi tentang segala yang terbaik. Baik terbaik diri sendiri, maupun pasangan terbaik.

Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud menyudutkan patriarki. Hanya saja, saya ingin perempuan tidak menjadi "kelas kedua".

"Penjajahan" bernama pernikahan akan benar-benar terbukti jika tidak berhati-hati. Itu artinya akan terjajah seumur hidup (untuk yang berharap menikah hanya 1 kali).

Wahai perempuan, sudahkah berhati-hati untuk menjatuhkan hati?