Penulis
3 tahun lalu · 334 view · 5 min baca menit baca · Cerpen the_knitting_woman_painting_by_william-adolphe_bouguereau.jpg
Lukisan William Adolphe [Foto: wikipedia.org]

Perempuan dalam Lukisan

Ia mendapat kiriman paket. Sebuah lukisan perempuan cantik berbingkai pigura warna emas. Tanpa nama pengirim, hanya namanya sebagai penerima.

Ingin ia mencari tahu siapa yang menghadiahkan padanya. Tapi  kemana pula bisa dicari? Sementara menolak  atau membuang lukisan itu pun dirasa merugi. Lukisan yang alangkah indah, membuatnya terpesona. 

Tengah malam, sambil berbaring di ranjang, dipandanginya lukisan yang sudah digantung pada dinding kamar. Tiba-tiba alangkah terkejut ia, perempuan dalam lukisan keluar dari pigura, hidup layaknya manusia.

Seorang perempuan dengan kulit kuning pualam, bibir merah, mata besar bertatapan lembut. Rambut panjangnya bergelombang hingga akhir punggung. Perempuan bertubuh seperti yang diidamkan kebanyakan orang, kecil di bagian yang diinginkan, sintal di bagian yang diinginkan pula. Ia disergap pesona.

Tercekam rasa terkejut dan takut, tak bisa ia bergerak dari pembaringan. Hanya mampu terpana memandangi perempuan itu perlahan mendekat. Amat perlahan, anggun dan tenang, hingga seolah melayang.

Perempuan itu lalu berbaring di sampingnya, memeluknya. Nyaman. Ia merasa telah beroleh teman, kekasih, sahabat pada malam buta. Siapa yang  tahan berperang terus menerus dengan amukan sepi? Tak ada yang perlu ditakutkan, tak ada yang perlu dipertanyakan. Begitulah ia akhirnya berdamai dengan diri sendiri.

“Beristirahatlah jiwamu, biar kujaga malam,” bisik perempuan itu. Lembut. Hangat.  Merdu.

Ingin ia menurut. Tapi baginya kantuk adalah kutukan. Tidur adalah siksaan rutin berkepanjangan yang tak akan pernah bisa dielakkan. Meneror dan menyakitkan.

Semua karena mimpi-mimpi buruk yang tak pernah mangkir menghampirinya dalam lelap. Ah, selama ini tak pernah bisa ia menang melawan kantuk, tidur dan mimpi buruk. Walau dengan bergelas kopi atau kekasih paling mempesona sekalipun.

Ia selalu bermimpi tentang bayi mungil di semak belukar. Bayi yang masih menyisakan lengket darah pada sekujur tubuhnya. Bayi yang tangisannya melengking, memekakkan telinga. Seolah menyampaikan rasa sedih, ngeri, amarah atau dendam?

Bayi yang bergigi dan bertaring, dengan mulut belepotan darah. Apa yang ia kunyah? Apakah ular berwarna emas? Bayi itu lalu berubah menjadi serigala, berlari cepat seperti terbang, melesat, memburunya. Tak peduli betapa ia lelah dan hampir kehilangan napas. Mengapa? Apakah karena memang beringas atau dendam? Sungguh mimpi yang terasa begitu nyata. Sangat meneror, sangat melelahkan.

Sudah bertahun lamanya mimpi buruk itu menjadi bagian malam. Berulang-ulang. Muncul di malam-malam yang tak terduga. Bukan sebagai hiasan tidur, tapi seperti borok yang bernanah, beracun. Merusak jiwanya, tanpa ampun.

Sudah sekian lama pula ia ketakutan. Akan segala kemungkinan yang mungkin saja benar-benar terjadi di malam yang entah kapan. Saat mimpi buruk menculik jiwanya,  Membuatnya terjebak dalam labirin teror ngeri tiada berujung. Tak pernah lagi terbangun. Tak pernah kembali.

“Jangan meragu, lepaskan saja jiwamu pada malam. Ada aku mengikatnya dengan benang,” bisik perempuan dalam lukisan itu lagi. Seperti bisa mendengar suara pikirannya. Seperti bisa merasakan ketakutannya.

Benarkah perempuan itu akan mengikat jiwanya dengan benang? Hingga tak perlu takut ia tersesat dalam labirin teror mimpi buruk? Benarkah perempuan dalam lukisan akan menjaga malam? Sehingga tak akan ada mimpi buruk datang merasuk?

Perlahan ia dengar perempuan itu bersenandung, gumaman yang terdengar sungguh-sungguh merdu. Menenangkan. Seolah senandung itu telah mewujud selimut yang melingkupinya dari gigil ketakutan dan kelelahan pada hidup, pada mimpi buruk. Merdu, sangat merdu. Syahdu. Sejuk. Membuatnya damai. Membuatnya mengantuk.

Ia rasakan tubuhnya yang terlarut nikmat dalam pelukan seolah mengawang-awang. Terbuai dalam ayunan senandung yang lembut meninabobokkan. Apakah ia telah tertidur?

Ia tersenyum.  Ia rasakan dirinya mengawang-awang. Terbuai.  Ia larut. Semenit. Dua menit. Lima menit. Delapan. Sembilan. Sepuluh. Waktu meluruh. Damai.

Ia percaya. Perempuan dalam lukisan itu telah menepati janjinya. Telah dijaganya malam hingga tak ada mimpi buruk merasuk. Maka ia larut dalam tidur yang nyenyak. Bermimpi tentang melayang-layang. Terbuai. Merasa damai dalam lelap.

Lama kelamaan ia menyadari tidur itu bukanlah tidur yang biasa. Sebuah lelap yang tetap membuatnya merasa tersadar. Ia merasa dirinya tidur, tapi tetap ia bisa berpikir dan merasa.

Dalam buai lelap, ia rasakan dirinya mempercayai bahwa perempuan dalam lukisan itu sedang menunaikan janjinya. Bahwa  perempuan itu telah mengikat jiwanya dengan benang. Hingga tak perlu ia takut jiwanya tak kembali  dari buaian lelap. Walaupun memang tak ada mimpi buruk yang menyergap.

Masih didengarnya perempuan itu bersenandung, syahdu. Begitu lama dalam lelapnya, terasa berjam-jam lamanya. Lama yang terasa berharga.

Hingga tiba-tiba ia tercekat. Ada sakit yang menyergap. Sakit yang menggila. Perutnya seolah dikoyak-koyak. Seolah ususnya sedang dicerai burai.

Dalam sakit, ia menyadari, entah kapan senandung telah berubah jadi pekikan tak tentu arah. Berhimpit-himpit seolah ada jutaan suara perempuan yang berteriak padanya. Pekikan yang menyakitkan telinga. Terasa memojokkan jiwa.

Dalam sakit. Dalam heran. Dalam ngeri. Dalam cemas. Ia lihat perempuan lukisan itu muncul dalam mimpinya. Dengan kecantikan yang dingin dan beku. Perempuan dalam lukisan itu tersenyum. Menatapnya dingin. Tajam dan menusuk. Apakah dendam atau amarah?

Dipeganginya perutnya, ia lihat darah menetes tak henti dari sana. Seolah ada mata air darah dari perutnya, dari rahimnya. Sakit yang tak terperi pada perut dan pekikan  pada telinga. Ia tersiksa.

Perempuan dalam lukisan mendekatinya, lalu memegangi perutnya. Mencerabut sesuatu dari perutnya. Melahapnya dengan darah menetes pada bibir dan tangan. Begitu lahap seolah menikmati makanan paling nikmat. Ia berteriak, melolongkan rasa sakit.

Lalu seketika didapatinya dirinya terbaring di ranjang kamar yang sudah amat ia kenal. Kamar tidurnya sendiri. Lukisan perempuan cantik berpigura emas masih tergantung pada dinding. Tak ada siapa-siapa disampingnya. Tak ada yang memeluknya. Tak ada perempuan lukisan yang hidup dan keluar dari pigura. Ia seorang diri.

Tapi rasa sakit itu masih menyiksa. Ia lihat tangannya yang basah oleh darah. Baju dan ranjang yang memerah karena darah dari perutnya. Rasa sakit merajam hebat. Lagi-lagi ia memekikkan teriakan sekuat tenaga. Lagi dan lagi. Seolah ingin melepaskan perih. Seolah ingin meluapkan ngeri.

Tiba-tiba ia teringat:  Seorang perempuan muda. Dengan rasa takut melangkah gontai ke sebuah lahan bersemak-semak di malam buta. Tanganya membawa sebuah bungkusan hitam.

Diletakannya hati-hati bungkusan itu pada semak-semak. Dipandanginya dengan tatapan dan raut wajah tak terbaca. Apakah iba? Marah? Benci?

Ketika sesuatu dalam bungkusan itu bergerak. Ketika sesuatu dalam bungkusan itu mengeluarkan bunyi tangis yang melengking, perempuan itu berlari menjauh ketakutan dengan sekuat tenaga. Tak dipedulikannya perutnya yang masih perih. Tak diacuhkannya darah yang mengalir pada kedua pahanya.

Perempuan yang selalu ia ingat adalah dirinya. Perempuan yang mirip dengan perempuan dalam lukisan yang masih tergantung di dinding kamar.

Artikel Terkait