Allah menciptakan makhluk paling sempurna di muka bumi dengan rasa cinta dan kasih sayang-Nya, makhluk tersebut bernama manusia, laki-laki dan perempuan. Allah memberikan keadilan untuk makhluk-Nya, dalam Alquran disebutkan bahwa Allah Al-Ahkam atau Al-Hakim yang artinya Hakim Yang Paling Adil (QS.95:8).

Perempuan juga diberikan kemuliaan dan kehormatan yang dianugerahkan Allah, tersimpan dalam jati dirinya bahwa perempuan adalah makhluk istimewa, sosok yang mempunyai kelembutan dan kasih sayang serta dibalik kelembutannya ada kekuatan yang tak pernah lekang oleh waktu, ketika menjadi seorang ibu.

Laki-laki dan perempuan juga saling melengkapi dalam kehidupan, kedudukannya sama di hadapan Allah tidak ada perbedaan antara keduanya, namun yang terlihat di bumi perempuan mengalami pemarjinalan dan ketidakadilan yang diaktori oleh laki-laki yang merasa paling berkuasa di hadapan perempuan.

Allah Maha Pencipta adil kepada makhluk ciptaan-Nya, sementara makhluk Allah bernama laki-laki bin pria menciptakan ketidakadilan kepada perempuan. Ketika perempuan mengalami ketidakadilan, dimarjinalkan, dan perannya tak dikucilkan, goresan pena pun tergores dari jari-jemari bertintakan air mata dan darah.

Kondisi perempuan di belahan timur maupun di barat sama-sama mengenaskan, pergerakannya dibelenggu oleh otoritas laki-laki yang bersikap paling berkuasa atas perempuan atau dikarenakan warisan budaya leluhur.

Di dunia Barat, kedudukan perempuan dianggap sebagai makhluk lembah dan tak berdaya telah terjadi sejak 1560-1648. Begitu juga dengan bangsa India dalam aturan Manu, perempuan diposisikan sebagai pelayan bagi suami dan ayahnya.

Di Timur, Islam memberikan keistimewaan bagi kaum perempuan maupun laki-laki sebagai makhluk yang berpasangan dan mempunyai tanggung jawab sebagai khalifah di bumi, tapi kondisi perempuan ada yang tersandung adat dan budaya di beberapa negara Islam; diskriminasi hadir yang merugikan perempuan.

Peran perempuan ditutup ruangnya untuk bersuara dan tidak bisa melawan atas kehendak laki-laki yang paling berkuasa. Selain itu juga adat budaya membawa perempuan pada ketertindasan yang menyedihkan dan hilang fitrahnya sebagai manusia normal.

Ketika perempuan mengalami ketidakadilan, lahir pejuang yang membela hak-hak perempuan, seperti Nawal el-Saadawi dari Mesir yang terkenal dengan karyanya “Perempuan di Titik Nol” dan di Indonesia ada Kartini dengan karya masyhurnya “Habis Gelap Terbitlah Terang.”

El-Saadawi bersuara di jalan raya hingga usia senja menghampirinya, perempuan pemberani ini menggoreskan penanya bagaikan peluru yang keluar dari moncong senjata, mematikan. Para penguasa pun tak enak mendengar goresan pena dari El-Saadawi dan ia dimasukkan ke jeruji besi akibat suara-suara yang ditulisnya.

El-Saadawi, ikon perempuan dalam perjuangan bagi perempuan dunia lainnya, ia menulis untuk menentang ketidakadilan kepada kaum perempuan di negerinya sendiri, dan umumnya seruan untuk perempuan secara global. Baginya menulis adalah nafas, bersuara, dan ekspresi diri.

Di Indonesia juga ada pada sosok Kartini, seorang gadis berdarah Jawa keturunan terhormat yang memegang teguh adat memingit. Kisah perjuangannya tersimpan dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang dicetak pertama kali pada 1945.

Kartini, sosok yang peduli terhadap pendidikan, suka belajar, gemar membaca dan menulis, suka maju dan dia tahu masih banyak pengetahuan yang dapat dipelajari namun keadaan masyarakat ketika itu masih memegang adat istiadat yang tidak membolehkan perempuan berpelajaran dan tidak boleh bekerja di luar rumah.

Hati seorang Kartini sakit dan merasa kesepian ketika dipingit oleh keluarganya. Dari itu, ia membuka jalan dan merombak adat kebiasaan serta memperjuangkan kedudukan perempuan supaya mendapat pengajaran dan mendapat pekerjaan di luar rumah tangga.

Bagi Kartini perempuan harus diberi akses untuk belajar dan punya pendidikan, ketika perempuan berpendidikan maka bisa mendidik anak dan mengurus rumah tangga dengan baik. Hal yang perlu diketahui ialah mendobrak tradisi tidaklah mudah,  Kartini melakukan itu dengan perjuangan, walaupun hanya dengan pena.

Sosok perempuan satu ini menjadi pahlawan bagi perempuan Indonesia dan setiap 21 April diperingati hari Kartini sesuai dengan tanggal kelahirannya. Kartini telah berjuang membebaskan perempuan dari kungkungan tradisi.

Wanita Abad ke-20

Buku menarik ditulis oleh Ready Susanto dengan judul “Para Perempuan Perkasa: Tokoh-tokoh Wanita Berpengaruh Abad ke-20” Buku ini membawa kita kepada kisah-kisah hidup perempuan abad ke-20. Abad ini perempuan memperlihatkan peran yang jauh lebih besar dibandingkan dengan abad-abad sebelumnya.

Hal ini antara lain terlihat dari semakin luasnya lapangan kegiatan yang dimasuki para perempuan pada abad ke-20. Bidang-bidang yang dimasuki para perempuan dalam buku ini, seperti seni, hiburan (akting), sastra, ilmu pengetahuan, reformasi sosial hingga bidang politik.

Dari 250 perempuan dalam buku ini, nama-nama familiar seperti Virgina Woolf, Hannah Arendt (filsuf politik), Margaret Teacher yang dijuluki tangan besi, Helen Keller (perempuan buta-tuli yang mengguncangkan dunia), Cut Nyak Dhien, RA Kartini, dan penerima hadiah Nobel perdamaian pada 1931, Jane Adams.

Ada juga perempuan pertama Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat semasa Presiden Bill Clinton. Kemudian ada Anna Akmhmatova, penyair terbesar dalam kesusastraan Rusia yang tema dan 1965 menerima doktor kehormatan dari Universitas Oxford, dan Maya Angelou penulis berkulit hitam Amerika Serikat yang menjadi ikon nasional.

Perempuan abad ke-20 terus memperlihatkan perannya yang benar-benar berperan dalam kehidupan yang sebelumnya ditutup ruangnya dan perannya tak dianggap sama sekali oleh laki-laki. Dewasa ini perempuan terus mengepakkan sayapnya di berbagai juru, baik itu di luar rumah maupun di dalam rumah.

Walaupun begitu, angka kekerasan seksual maupun fisik yang dialami perempuan masih tinggi di beberapa daerah yang ada di Indonesia. Dari itu, kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HAKTP) 25 November-10 Desember agar kiranya terus dikampanyekan sebagai pencegahan dan penghapusan kekerasan terhadap perempuan.