Sepulangnya dari perantauan, perempuan itu kembali mengisi kekosongan seperti yang sudah-sudah. Walau sebenarnya Ia tak yakin kosong itu benar-benar kosong. Karena menurutnya, hakikat kosong adalah isi. Baginya, kosong yang terjadi ini pada relung hati dan isi yang memenuhi ini pada ingatan kenangannya. 

Di kamar indekos yang sempit, ia sedang memungut serpihan-serpihan kenangan untuk dijadikan mosaik indah di ingatannya. Sambil mengucap, “Ah, Aku tak bisa begini terus!” Mosaik yang baru saja disusun hancur seketika.

Perempuan itu tidak seberapa tinggi, panjang tubuhnya hemat seperti aksi pemerintah pada kebakaran hutan. Warna kulitnya coklat legit. Pada pipi yang padat berisi,  terdapat lekuk kecil jika ia tersenyum. Parasnya ayu, tapi tatapannya sungguh buruk.  

Amat teramat buruk - bagi siapa saja yang dilihat tajam hingga masuk pada kedalaman jiwa. Dari gerak-geriknya perempuan ini ditugaskan Tuhan di bumi untuk menakluk. Perpaduan pas antara perempuan, cantik, dan penakluk: Perempuan Cantik Sang Penakluk.

Di negerinya yang sudah kebanyakan bersistem patriarki ini, perempuan sangat-sangat dilarang untuk menaklukkan hal apa saja yang baginya mudah saja untuk ia taklukkan. Perempuan akan dikutuk jika hendak berbuat takluk. Perempuan akan sangat dikecam jika berhasil menaklukkan apa yang biasa ditaklukkan oleh laki-laki. 

Dengan berbagai dalih dogma agama, sistem sosial, dan adat budaya, para laki-laki dengan lantang berteriak, “Tidak sepantasnya perempuan melakukan hal tersebut! Tuhan saja melarang perempuan berbuat banyak aksi dibanding laki-laki. Adat kita mengajarkan perempuan harus berada pada ‘tempatnya’. Terkutuklah perempuan yang berbuat takluk pada apapun!” 

Dilemparkannya berbagai pembelaan atas ajaran Tuhan dan adat-budaya, namun itu semua hanyalah “bungkus” dari apa yang sebenarnya berisi: iri dan dengki.

Semua itu tidak berlaku bagi Perempuan Cantik Sang Penakluk. Habis merenungi kenangannya yang baru saja terjadi di perantauan tersebut, ia bangkit dari kasur tipis dan kempis. Ia memikirkan bagaimana cara menaklukkan satu hal yang mebuatnya merenungi terus. 

Perempuan tetaplah perempuan. Secara universal identitasnya tetap sebagai manusia. Manusia mempunyai orientasi seks, tidak hanya laki-laki saja yang lebih dikenal pada umumnya. Perempuan juga berorientasi pada seks! Sebenarnya, sebab laki-lakilah ia menjadi perenung dan pesakitan rindu begini.

Bukan Perempuan Cantik Sang Penakluk kalau tidak bisa menembus kebuntuan. Ia memberanikan diri menghubungi laki-laki tersebut. Ia mampu menghancurkan tembok tebal stigma negatif tentang perempuan yang memulai terlebih dahulu. Ia hanya mondar-mandir di kamar indekos yang tak seberapa besar itu. Sambil memainkan kedua tangannya yang basah karna berekeringat. Tanda ia gerogi menunggu balasan laki-laki tersebut. 

Handphone-nya bergetar, ia membuka dan melihat, “Ada apa, Ntik?” Perempuan Cantik Sang Penakluk bersemangat, ia menyusun kata satu per satu sambil dipungut idenya yang berjatuhan di lantai karena kaget terlonjak melihat balasan laki-laki tersebut. Ia begitu khusyuk melihat handphone-nya, sedikit tersenyum, dan larutlah Perempuan Cantik Sang Penakluk dalam percakapan bersama laki-laki tersebut.

Sudah berhari-hari, Perempuan Cantik Sang Penakluk terlihat lebih “hidup”, mungkin karena sebagian nyawa yang diberi laki-laki tersebut dalam tubuh Perempuan. Ia sudah begitu dekat dengan laki-laki impiannya. Seperti abu dengan asap rokok, pagi hari dengan segelas susu, dan malam hari dengan secangkir kopi. Nanti malam, Perempuan Cantik Sang Penakluk akan bertemu dengan laki-laki tersebut. Ia sangat senang karna si laki-lakilah yang mengajaknya untuk bertemu. Memang Perempuan Cantik benar-benar Sang Penakluk!

Bintang-gemintang telah bergantung pada langit gelap. Semilir angin membawa dingin lautan mengelus halus kulit pekerja gorong-gorong yang tetap bekerja walau hari sudah tampak gelap. Demi tuntutan pemerintah daerah yang katanya, “Agar tidak terjadi kemacatan dan air hujan yang sebentar lagi datang pada musimnya tidak tergenang di daerah pemukiman.” 

Di kamar indekos kecil, bau wangi parfum sudah memenuhi ruangan. Perempuan Cantik Sang Penakluk sudah selesai berselok. Laki-laki impiannya akan datang menengok.

Sekarang, di atas motor, Perempuan Cantik Sang Penakluk membuka percakapan dengan bercerita masa lalunya. Katanya, dulu ia pernah ditinggalkan oleh seorang lelaki sampai harus dilarikan ke rumah sakit. Merasa sakit hati yang mendalam, sampai berakibat pada kesehatan fisiknya. 

Tapi, laki-laki tersebut tidak ingin menceritakan masa lalunya, ia lebih suka bertanya kepada Perempaun Cantik Sang Penakluk. Baginya, Perempuan tersebut seperti buku dongeng yang berjalan. Ada saja cerita yang ia punya. Perempuan Cantik Sang Penakluk bertanya,

“Menurutmu, aku ini apa?” Perempuan mendahului.

“Kamu itu puisi,” kata laki-laki tersebut.

“Kok bisa puisi?” Perempuan bingung.

“Puisi itu, sebelum ditulis harus dipikirkan, dibayangkan, diimajinasikan. Saat ditulis harus khusyuk. Selesai ditulis, ditemukan intonasi yang pas untuk pembacaannya. Sudah semua itu, sampailah penyairnya pada titik klimaksnya.”

Perempuan Cantik Sang Penakluk tak mampu menjawab penjelasan laki-laki tersebut. Ia tersenyum dan memalingkan wajahnya malu, takut terlihat laki-laki dari kaca spion.

“Tapi..,” lanjut laki-laki tersebut, “puisi itu kalau ibarat makanan, setelah dimakan tidak bikin kenyang. Ada yang membuat lebih kenyang dari puisi yaitu, cerpen.”

“Lalu kenapa aku bukan cerpen?” kebingungan Perempuan sambil bertanya.

“Karena sudah ada yang mengambil peran cerpen dalam hidup dan kehidupanku, Ntik.” Singkat dan jelas penutup dari laki-laki tersebut.

Perempuan Cantik Sang Penakluk lagi-lagi memalingkan wajahnya dari kaca spion. Bedanya kali ini bukan karena senyumnya, melainkan karna tangisnya!

Kejadian semalam masih terngiang di kepala Perempuan Cantik Sang Penakluk. Ia bangun kesiangan karna capai menangis sepanjang malam. Ia tidak menanyangka laki-laki impiannya bisa berkata seperti itu. Pandangannya kosong, tidak lagi buruk kalau dilihat siapa saja yang sampai kedalaman jiwanya. 

Air mukanya tak berseri. Rambutnya ke sana ke mari seperti perempuan-perempuan adu jambak. Ia tidak terlihat seperti perempuan pagi ini. Kecantikannya juga sirna dari parasnya. Jiwa penakluknya tak lagi tampak. Seperti singa hutan yang habis digunduli.

Kemarin, ia memang Perempuan Cantik Sang Penakluk yang hanya sebentar saja berhasil menaklukkan laki-laki impiannya. Sekarang, Perempuan Cantik Sang Penakluk juga berhasil ditaklukkan oleh kenyataan pahit laki-laki impiannya. Ia tanggalkan semua nama dan julukan pada dirinya.  

Sekarang, ia tak lagi cantik, juga tak lagi berjiwa penakluk. Tapi, bagaimanapun, ia tetap perempuan! Segala hormat harus tetap diberi kepadanya: Perempuan, hanya itu namanya sekarang.