Perempuan bak bunga yang selalu memancarkan kecantikannya. Semua perempuan cantik karena dia perempuan. Bukan karena alasan apa pun.

Mirisnya, tidak semua orang—laki-laki dan perempuan itu sendiri—mengerti bahwa perempuan selalu cantik. Kenapa? Karena definisi “cantik” sudah menjadi racun pikiran yang terfokus pada bentuk fisik.

Selama ini, saya mendengarkan dari teman laki-laki dan perempuan bahwa yang menjadikan “cantik” seorang perempuan adalah fisiknya. Ya, dari 10, kira-kira 7 yang mengamini demikian.

Faktanya adalah laki-laki menggoda perempuan aduhai yang lewat di depan mereka dan perempuan yang mengunggah foto selfie dengan editan efek percantik. Fenomena ini seakan menegaskan: Perempuan cantik adalah mereka yang berfisik menarik.

Mengutip dari kompas.com, berdasarkan sebuah riset pemasaran Sigma Research yang melibatkan 1200 responden, diketahui bahwa lebih dari 40% mendefinisikan kecantikan berdasarkan kondisi fisik. Menurut Direktur Sigma Research, Nurjannah Adi Lemmung, hal ini dilatarbelakangi kesan pertama yang ditangkap oleh otak adalah tampilan fisik.

Sementara itu, menurut pendapat pribadi saya, persoalan cantik dan menarik sebagai kesan pertama ialah relatif atau sesuai selera masing-masing. Misalnya, ada orang yang suka makanan pedas dan ada yang tidak, ada yang suka warna hijau dan ada yang suka warna biru. Kurang-lebih seperti itulah selera.

Namun tak dapat dimungkiri, persoalan “cantik” identik dengan fisik sudah berdomisili di pikiran secara umum. Seperti yang dikatakan Lemmung di atas, tampilan fisik menjadi kesan pertama di otak. Ditambah pula iklan-iklan produk kecantikan “kilat” untuk menunjang tampilan fisik.

Upaya melanggenggkan mitos yang diwakili iklan pemutih kulit instan yang beredar di media sosial maupun elektronik cukup menjadi bukti barometer kecantikan perempuan adalah yang berkulit putih. Dibuktikan oleh riset Sigma Research, sebanyak 41,8% responden menyepakati wanita dengan kulit putih bersih adalah wanita cantik (kompas.com).

Memangnya kenapa kalau kulit saya sawo matang? Memangnya kenapa kalau kulit saya kuning langsat? Toh, tidak ada undang-undang yang mengharuskan kulit putih, bukan?

Ini baru persoalan kulit. Belum ke berat badan, tinggi badan, alis mata, bulu mata, warna kornea mata, hidung, payudara, dan lain-lain. Memangnya harus dipermak semua itu? Lalu, apa dong yang asli dari perempuan?

Apakah ada standar baku fisik perempuan dengan “cantik” itu sendiri? Apakah ada poin-poin terurut yang menjelaskan perempuan harus ini-itu lho biar cantik? Ataukah ada kitab tentang kaitan fisik-perempuan-cantik yang wajib dipedomani?

Saya hanya mengetahui ajang-ajang kontes kecantikan. Dan pemenangnya secara umum memang seperti yang dilanggengkan mitos: berkulit putih, tinggi, berbadan kurus, dan sebagainya. Mungkin itu dasar standar baku atau kitab yang dipedomani? Ataukah itu juga upaya melanggengkan mitos?

Tulisan ini bukan untuk menghakimi pihak tertentu. Bukan! Tujuan saya tidak lain supaya jangan “menghakimi” cantik dari fisik saja. Misalnya, pilih-pilih teman dengan alasan tampilan fisik.

Yang terpenting adalah mengurangi upaya pelanggengan mitos cantik berdasarkan tampilan fisik. Secara logika, yang namanya fisik itu sudah pemberian dari Pencipta. Sudah takdirnya begitu. 

Kenapa saya katakan takdir? Karena sebelum lahir, Tuhan tidak pernah bertanya kepada perempuan mau dilahirkan dalam kondisi fisik seperti apa. Pemberian Pencipta Yang Mahasempurna adalah yang terbaik. Lantas kenapa harus permak sana-sini kalau yang terbaik saja sudah dimiliki?

Mari menyayangi diri sendiri wahai perempuan-perempuan cantik. Kita—saya, kamu, dan semua perempuan—cantik tanpa embel-embel apa pun. Sebab kecantikan terletak pada penerimaan terhadap diri sendiri.

Sebuah penerimaan bukan hal yang mudah. Wajar saja jika kekurangan rasa nrimo bisa berubah menghasut diri untuk menelan mentah-mentah pandangan umum yang barangkali tidak sesuai dengan diri sendiri.

Keadaan diri menjadi chaos karena tidak menyaring apa pun yang ada. Misalnya, membeli semua produk pemutih kulit instan supaya “diterima” umum. Apakah ini terlalu biasa-biasa saja?

Rasa nyaman akan diri sendiri lebih berharga dari mengejar pandangan umum. Perempuan yang membudidayakan nyaman akan menerima pemberian Pencipta atas tubuhnya dengan rasa syukur yang berlimpah. Perempuan cantik karena perempuan.

Laiknya bunga yang selalu memesona bagaimanapun tampilannya. Karena bunga cantik karena bunga. Dan tiap-tiap bunga istimewa tanpa perbandingan. Begitulah perempuan, cantik tanpa perbandingan.

Merasa cantik perlu dipupuk dan dirawat dalam diri perempuan agar menyuburkan rasa syukur terhadap pemberian Tuhan. Bukan melulu melakukan perbandingan dan mewujudkan fisik yang diinginkan. Tapi, berbahagia atas yang sudah dimiliki.

Begitulah secuil fenomena “cantik” yang apa adanya. Mari meyakini jika perempuan akan selalu cantik. Terlebih jika di dalam diri ditumbuhkan rasa penerimaan, nyaman, dan rasa syukur berlimpah atas pemberian Pencipta. 

Mari menjadi "bunga" yang tidak pernah membandingkan dengan siapa pun. Mari berhenti ikut-ikutan melanggengkan mitos jika perempuan cantik karena tampilan fisik. Mari menyayangi diri sendiri, cantik. Mari selalu merayakan kecantikan!