Seksisme yang selama ini seolah-olah terpendam, muncul beruntun seiring dengan kemajuan teknologi informasi.  Betul memang kekuatan media saat ini bisa memberi ruang pada perempuan untuk menuliskan dirinya, memberi perspektif pada kejadian yang dilihat dan dialaminya melalui blog, misalnya, atau kolom-kolom media dalam jaringan internet. Tapi, dengan tujuan menarik pembaca, media-media arus utama makin sengit menurunkan berita-berita seksis.

Di dalam banyak laporan jurnalistik di media massa yang dikendalikan oleh sejumlah awak redaksi yang semestinya peka terhadap ketidakadilan, perempuan belum bergeser dari hanya sekadar objek yang leluasa dinilai dan dihakimi oleh pandangan maskulin. Mereka mengampanyekan keadilan gender sambil memainkan stigma-stigma terhadap perempuan dalam sejumlah laporan jurnalistiknya.

Dalam kasus korupsi, misalnya, dimana perempuan ditempatkan sebagai biang masalah, kadangkala saya berpikir, ini sesungguhnya kegagalan wartawan dalam mengungkap motif korupsi. Semua fokus pada pelaku, sedangkan motifnya tak terbaca. Akhirnya, yang paling gampang adalah menyudutkan perempuan yang sudah kepalang dipandang sebagai pemuja uang.

Ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Di negara maju, semacam Amerika Serikat pun, pandangan maskulin dalam laporan jurnalistik menjadi keresahan sejumlah pengamat media dan aktivis perempuan. Kenapa bisa terjadi? Para peneliti di Universitas McGill dan Universitas Stony Brook, Amerika Serikat menyimpulkan, ketidakadilan dalam laporan media terutama di Amerika Serikat disebabkan oleh realitas sosial dan ketimpangan sosial sehari-hari. 

Utamanya, keterwakilan perempuan dalam berita sangat kecil, karena hanya sedikit dari mereka menduduki posisi kekuasaan kunci di tubuh media itu sendiri, maupun di bidang-bidang seperti politik, bisnis, hiburan dan olahraga, yang jadi makanan media. Penelitian itu dipublikasikan pada Oktober 2015 di jurnal American Sociological Review.

Di Indonesia, dengan mudah kita akan temukan berita dengan judul semacam, Bripda Ismi, Polisi cantik di Tengah Serangan Bom Bandung oleh Antara atau Wanita Cantik Jadi Kanal Aliran Korupsi oleh Sindonews, ada juga Sasa, Pelayan Warteg Cantik di Majalengka  oleh Tempo.co hanya contoh kecil dari berita-berita yang berseliweran di jagad digital. Di media hiburan, lebih parah dari ini.

Judul mengarahkan kemana si penulis ingin menggiring pikiran kita. Judul memang tak selalu gamblang, bisa saja menyembunyikan maksud penulis dengan kekuatan mempengaruhi, menekankan dan mengendalikan pemaknaan sesuai kehendak penulis.

Kira-kira apa yang ingin disampaikan oleh si penulis dengan tema semacam itu?

Mari kita ulas satu-satu.

Berita pertama, Bripda Ismi, Polisi cantik di Tengah Serangan Bom Bandung. Berita itu terbit 27 Februari 2017di www.antaranews.com

Penyebutan pangkat kepolisian di badan kalimat menegaskan bahwa Ismi milik Polri, bukan individu yang berdiri sendiri. Sementara “cantik” merupakan penilaian yang tidak bisa ditakar, biasanya penilaian laki-laki terhadap perempuan. Penulis membuat kontradiksi makna dalam kalimat itu bahwa cantik identik dengan keadaan serba terawat, bersih, manja tidak pantas ada di tengah kebisingan peluru. 

Perempuan cantik tidak boleh kerja kasar, apalagi yang mengancam nyawanya. Perempuan cantik hanya pantas mempertontonkan dirinya untuk mendapat uang. Makanya, tak pernah ada berita yang mempersoalkan keberadaan perempuan yang dianggap tidak cantik di medan apapun.

"Yang pasti saya bangga sebagai anggota Polri, karena dapat turut serta dalam penanganan terorisme,..” kata Ismi yang dikutip Antara. “Saya bangga, bahwa kami polisi wanita mempunyai keberanian yang tinggi berkaitan dengan tugas kami sebagai anggota Polri,” ucap dia.

Lihat, bahkan Ismi sendiri mengatakan kebanggaannya bukan karena penampilan fisiknya, tapi karena dia terlibat dalam pengamanan warga yang dibebankan kepadanya sebagai polisi. Ismi ingin menunjukkan bahwa polisi perempuan tak beda dengan polisi laki-laki dalam hal keberanian. Judul berita itu telah mereduksi tanggungjawab profesi yang ingin ditunjukkan oleh Ismi dan upaya-upaya seorang perempuan untuk mendobrak stigma.

Di berita-berita selanjutnya tentang Ismi yang mendadak tenar itu, media mempertanyakan apakah Ismi ditawari main sinetron atau model? Ini menunjukkan, hanya perempuan cantik berdasarkan penilaian laki-laki yang didukung oleh bangunan budaya yang dibentuk oleh industri kecantikan yang layak jadi model dan aktris. Sekaligus menancapkan stigma perempuan cantik tidak bisa bekerja di sembarang tempat dan profesi. Wanita cantik diarahkan untuk menempati etalase-etalase hiburan untuk memuaskan kaum laki-laki.

Kita beralih ke berita Sindonews, 15 Februari 2014 dengan judul “Wanita Cantik Jadi Kanal Aliran Korupsi.”

Judul itu tidak menyebut siapa wanita yang menjadi kanal aliran korupsi. Dengan demikian, semua wanita cantik menurut berita ini menjadi kanal korupsi. Wanita cantik seperti dalam ulasan di atas, identik dengan mahal, bukan pekerja keras dan hanya menunggu aliran uang.

"Ini merupakan modus. Membuka kanal-kanal baru (wanita) jelita-jelita itu di luar keluarga," ujar Direktur Pemeriksaan dan Riset PPATK Ivan Yustiavandana dalam Polemik SINDO Radio bertema "Aliran dana buat rakyat jelita" di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (15/2/2014).

Mengapa mereka menekankan uang curian itu mengalir ke perempuan cantik? Bukankah sama nilai kejahatannya jika dialirkan ke pihak yang menurut mereka tidak termasuk wanita cantik, demikian pun jika aliran itu menggelontor kepada laki-laki atau lembaga atau partai politik. Berita ini sedang menggiring pembaca untuk melihat bahwa kejahatan pencurian uang atau korupsi itu bermula dari perempuan. Singkatnya, berita itu ingin mengatakan bahwa perempuan jelita sumber masalah atas prilaku korupsi para pejabat itu.

Bagaimana berita Tempo.co yang ini, Sasa, Pelayan Warteg Cantik di Majalengka. Berita yang dimuat, 2 Februari 2015 ini bukan hanya digarap oleh Tempo, tapi sejumlah media juga memuatnya dengan tendensi yang sama.

Pertanyaan paling dasar, apa masalahnya kalau pelayan warteg cantik? Dari sekian banyak warteg (warung tegal) yang tersebar di Pulau Jawa, kenapa cuma Sasa yang istimewa hingga jadi berita di media-media? Sasa sendiri dalam sebuah wawancara merasa tidak ada yang aneh dengan apa yang dikerjakannya. Media menganggapnya aneh, karena mereka berpikir perempuan cantik seperti Sasa tidak pantas berada di warteg, tempat makan orang-orang miskin. 

Nah, kalau perempuan cantik yang bekerja di mall-mall tidak pernah dipermasalahkan, bukan? Artinya, bangunan sosial telah membentuk gambaran perempuan cantik identik dengan uang atau dengan industri hiburan. Salah satu yang membantu berdirinya bangunan itu adalah media. Sebab itu, perempuan berlomba-lomba ingin cantik supaya bisa menempati kelas sosial tertentu, atau untuk terkenal. Caranya, banyak perempuan mengkonsumsi berbagai anjuran produk kecantikan. Jelas sudah siapa yang diuntungkan.

Bagaimana jika seorang perempuan memang ingin berkarya dan bekerja bukan di industri hiburan, bukan untuk ditonton? Ada banyak perempuan yang tak ingin menjadi pusat perhatian. Lantas karena rupanya dianggap cantik ia jadi sorotan kamera, ditonton orang di mana-mana. Saya membayangkannya persis burung langka yang karena warnanya dianggap bagus, jadi tontonan orang di mana-mana.