Pada hakikatnya, perempuan adalah makhluk yang diciptakan setara dengan laki-laki. Bisa saja ada beberapa perbedaan secara natur dan pola pikir. Tetapi negara harus menjamin bahwa mereka memiliki hak yang sama dengan laki-laki. 

Sayangnya, ada hal-hal yang menutupi potensi perempuan. Hal-hal yang dianggap publik sebagai “suara langit” mengenai tekanan terhadap kaum perempuan belakangan ini beredar masif dan nyaris tidak terkontrol.

Akan tetapi, mari kita lihat potensi perempuan yang sekarang ini muncul. Khususnya yang terlihat di PSI, ternyata gender perempuan ini memiliki potensi besar. Mari kita simak ulasannya.

Terkadang stigma perempuan yang dianggap rendahan di dalam negara yang menganut paham patrilineal alias garis machoisme menjadi sebuah hal yang terjadi secara lumrah di Indonesia.

Inilah yang harus kita tempuh bersama, sebagai perjuangan untuk meningkatkan harkat dan memuliakan perempuan: memosisikan gender pada tempat yang sebenarnya dan sepatutnya. 

Kita tahu bahwa memang banyak pandangan yang menganggap bahwa perempuan adalah sosok yang hanya menjadi pabrik dan mesin penghasil keturunan.

Pandangan itu tidak sepenuhnya salah, tetapi terlalu banyak cacatnya. Apalagi di dalam dunia modern, ketika peranan perempuan itu jauh sudah direvolusi sebelumnya oleh R.A. Kartini. Kartini menjadi pelopor gerakan kesetaraan gender.

Mulai dari sini, kita harus pahami bahwa kesetaraan gender bukanlah feminisme. Feminisme adalah sebuah gerakan yang lahir dari Barat, untuk bertujuan untuk mendominasi. Gerakan-gerakan feminisme banyak yang justru melenceng dari semangat Kartini.

Kartini, sebagai putri Indonesia, sadar betul bahwa peranan perempuan di Indonesia ini masih terlalu rendah. Pada zamannya, mereka tidak boleh sekolah tinggi-tinggi. Mereka harus ada di dapur dan hanya urus anak.

Dengan demikian, justru banyak sekali kekecewaan-kekecewaan yang terjadi. Para perempuan sering kali dianggap mesin. Mereka dianggap sebagai pabrik. Inilah yang direvolusi oleh Kartini.

Salah satu partai yang terinspirasi dari gerakan “kesetaraan gender” yang dipelopori oleh Kartini adalah Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

PSI adalah partai yang memiliki ketua umum partai perempuan. Selain ketua umum perempuan, PSI juga menjadi salah satu partai yang sangat menjunjung tinggi kesetaraan gender.

Terkadang kita merasa bahwa sebuah organisasi atau perusahaan yang dipimpin oleh perempuan biasanya tidak mudah maju. Tetapi ternyata, sebelum Grace Natalie, ada seorang perempuan yang muda pada saatnya, mendirikan partai yang juga menggebrak. Sejarah mereka, kalau mau dikata, sebelas dua belas.

Grace Natalie adalah Ketua Umum PSI, yang kadernya memiliki persentase 45% caleg perempuan. Ini adalah sebuah dorongan yang cukup besar bagi pemberdayaan perempuan di dalam kancah perpolitikan nasional.

"Dalam UU, syarat keterwakilan minimal perempuan adalah 30 persen. Tetapi kita jauh melebihi syarat itu," kata Ketua Umum PSI Grace Natalie saat mendaftarkan calegnya ke KPU.

Kader-kader PSI perempuan juga tidak asal comot. Mereka adalah kader yang sudah teruji. Bahkan beberapa di antara mereka diuji langsung oleh Mahfud MD.

Beberapa di antara mereka bahkan mampu mengimbangi perdebatan, dan mampu menguasai alur perdebatan dengan lawan politik senior.

Bicara tentang perempuan, tentu kita bicara tentang sosok yang mengayomi. Terkadang stigma perempuan didominasi oleh emosi dan perasaan sering menjadi pandangan para kaum Adam ketika berdebat dengan perempuan.

Terlihat sekali ketika Dini Purwono, salah serang caleg PSI, sedang semangat-semangatnya menjelaskan dan membantah satu per satu argumen yang dilakukan oleh kubu oposisi. Dini Purwono malah dianggap sebagai perempuan yang marah-marah.

Faldo Maldini menceletuki semangat Dini Purwono dengan mengatakan, “Jangan marah-marah dong.”

Ternyata bukan Faldo Maldini, caleg PAN, saja yang memiliki pandangan demikian terhadap perempuan. Jika kita mau jujur, para kaum Adam, khususnya yang terpengaruh paham patrilineal alias garis kebapakan, sering menganggap kata-kata wanita sebagai marah-marah belaka. 

Padahal ada makna di balik kata-kata. Ada pesan di balik semangat. Manusia harus saling menghargai.

Peranan perempuan dalam PSI sangat besar dalam memengaruhi media. Dini Purwono salah satu orang yang memiliki latar belakang pendidikan hukum yang sangat baik. Selain itu, Grace Natalie juga memiliki keberanian dalam menyetir arah partai yang belum genap berusia satu windu itu.

Selain Dini Purwono dan Grace Natalie, masih banyak sekali perempuan yang berkontribusi di sana. Namun sayangnya, mereka malah dikomentari dengan tidak pantas oleh netizen dan politisi, apalagi dari mereka yang menganggap dirinya pria-pria tulen.

Saya, sebagai laki-laki, justru menganggap rendah para politisi lelaki dan netizen yang menganggap diri laki-laki ketika mereka mengomentari “penampilan” ketimbang “esensi”.

Bayangkan saja, Tsamara Amany yang memiliki pemikiran idealis dan cemerlang itu malah dikomentari lipstiknya. Apa? Lipstiknya? Tidak ada yang lebih bagus apa komentarnya? Komentar lipstik? Astaga. 

Memang sih perempuan harus tampil cantik. Tetapi ingatlah, yang kelihatan itu tidak lebih penting dari yang tidak kelihatan.

Sesuatu yang bersifat esensi akan jauh lebih dipandang ketimbang sesuatu yang bersifat appearance. Jangan sampai opini publik digiring untuk menilai fisik ketimbang psikis. Psikis jauh lebih bermakna. Makna itu timbul dari sesuatu yang tidak kelihatan.

Maju terus, PSI! Perempuan berbakat ada di PSI! Jalankan apa yang kalian anggap sebagai idealisme kalian. Karena pangkal dari sebuah perubahan ada di idealisme.