Membicarakan toleransi di Indonesia itu bagi saya ibarat jedhing bagi sebuah rumah. Setiap rumah pasti memilikinya. Ia mempunyai peran yang signifikan, namun keberadaannya hanya disadari ketika diperlukan saja. Ketika penghuni rumah sedang kebelet pipis barulah dia ingat akan toiletnya. Begitu juga toleransi di Indonesia yang baru disadari pentingnya ketika kasus-kasus intoleransi sedang marak terjadi.

Seperti jedhing yang ada di setiap rumah, demikian pula toleransi. Nilai-nilai tepa slira atau tenggang rasa telah menjadi kearifan lokal di hampir semua daerah di Nusantara. Coba saja lihat tradisi pela gandong di Maluku, sebuah tradisi untuk mengikat tali persaudaraan antara warga yang berbeda agama. Suatu local wisdom yang telah ada sebelum Indonesia merdeka.

Bukti bahwa toleransi telah menjadi nilai-nilai lokal sejak lama bisa kita lihat dari Candi Sumberawan. Candi yang terletak di Singosari Kabupaten Malang tersebut merupakan candi Budha yang dibangun pada abad 14 Masehi. Masa dimana Majapahit yang notabene merupakan kerajaan Hindu sedang berkuasa. Bukankah itu contoh toleransi beragama yang paling paripurna?

Ada lagi sebuah bukti yang tak terbantahkan. Cobalah tengok lambang Negara kita, Garuda Pancasila. Di situ ada sesanti berbunyi ‘Bhinneka Tunggal Ika’. Semua dari kita telah memahami artinya. Semboyan tersebut berasal dari kitab Sutasoma karya Mpu Tantular pada abad 14 Masehi. Ini menjadi bukti tak terbantahkan bahwa toleransi telah mengaliri urat nadi kita sejak era Nusantara lama.

Masalah Intoleransi di Segala Lini Kehidupan

Entah mengapa di kehidupan bangsa yang kian modern ini isu intoleransi malah kian marak. Banyak sekali contoh kasus yang menunukkan hal itu. Di ranah agama bisa kita lihat dari kasus pengusiran warga Syiah di Madura. Ada juga persekusi terhadap warga Ahmadiyah di Jawa Barat.

Atau cobalah lihat survey yang dilakukan oleh Setara Institute belum lama ini. Hasil survey tersebut menunjukkan bahwa kota-kota dengan masyarakat yang religius justru menempati top 10 kota paling intoleran. Maka wajar jika muncul pertanyaan apakah ada yang salah dengan cara beragama kita.

Dalam ranah politik juga tidak bisa disebut bagus-bagus amat. Sejak Pilpres 2014 masyarakat seperti terpolarisasi dalam 2 kubu yang saling bersebrangan. Di level elit politik mungkin tak nampak adanya virus intoleransi. Namun jangan tanya lagi apakah pendukung akar rumput kedua kubu tersebut bisa bersikap toleran, saling menghargai.

Pemilihan Presiden yang mestinya selesai begitu pemenang diumumkan justru berbuntut panjang. Acara silang pendapat hingga berujung ujaran kebencian bisa kita lihat bertebaran di mana-mana. Jika mau jujur, jejak kebenciannya masih bisa kita rasakan hingga sekarang. Hal ini jelas bisa menjadi bibit perilaku intoleran.

Wabah intoleransi tersebut tampaknya menjalar ke semua lini kehidupan kita. Di ranah pendidikan banyak kasus intoleransi berupa perundungan dengan bumbu kekerasan. Dalam ranah sosial kemasyarakatan juga tak luput dari virus intoleransi ini. Salah satu indikasinya adalah masyarakat yang cenderung cuek, hanya mementingkan keperluannya sendiri.

Perilaku Intoleran di Jalan Raya

Okelah, mungkin ada yang menganggap masalah intoleransi di ranah agama dan politik tersebut terlalu jauh dari jangkauan. Mari bergeser ke ranah yang lebih dekat. Ranah yang dijumpai oleh mayoritas kelas menengah perkotaan, yakni masalah intoleransi di jalan raya.

Mengutip salah satu pengertian dari seorang akademisi, Tillman, toleransi adalah ‘sebuah sikap untuk saling menghargai, melalui pengertian dengan tujuan untuk kedamaian’. Bertolak dari pengertian toleransi menurut Tillman maka yang disebut tindakan intoleran di jalan raya adalah tindakan yang tidak menghargai pengguna jalan yang lain.

Saya sendiri menghabiskan sekira dua jam per hari, lima hari per minggu di jalan raya. Jika ditotal bisa mencapai 300 jam waktu yang saya habiskan untuk pergi-pulang dari rumah ke tempat kerja, di jalan raya. Dalam waktu sebanyak itu telah banyak saya jumpai perilaku intoleran dari para pengguna jalan. Entah itu pemotor, pengemudi mobil (pribadi maupun angkutan umum), maupun pejalan kaki.

Ada banyak sekali tindakan pengguna jalan raya yang bisa dikategorikan sebagai intoleransi. Sebut saja penggunaan knalpot brong, pemakaian lampu yang berlebihan, berkendara melawan arah, berkendara sambil mengoperasikan gawai, berlaku ugal-ugalan, dan sebagainya. Yang baku pakai saja tolak ukur ‘tidak menghargai pengguna jalan yang lain’ sebagai patokan.

Tindakan-tindakan intoleran di jalan raya tersebut tentu bisa membahayakan orang lain. Atau dampak paling minimalnya adalah mengganggu kedamaian pengguna jalan. Contohnya penggunaan knalpot brong sangat mengganggu pendengaran. Pemakaian lampu yang berlebihan bisa mengganggu pandangan pengendara lain. Apalagi jika sampai berkendara melawan arah dan berlaku ugal-ugalan, bisa membahayakan keselamatan orang lain.

Perempuan Bisa Berdiri di Garis Depan untuk Memberantasnya

Semua perilaku intoleran yang tersebut di atas tentu harus dihilangkan. Minimal dikurangi sedikit demi sedikit. Aparat pemerintah (polisi lalu-lintas) telah melakukannya secara rutin melalui mekanisme razia dan tilang. Namun jika melihat pertumbuhan jumlah pengguna jalan raya di Indonesia, tampaknya polantas akan kesulitan memberantas tindakan intoleran tersebut.

Jika demikian, kenapa tidak memberdayakan peran perempuan? Para perempuan bisa menjadi avant garde dalam mengatasi masalah tersebut. Yakni dengan melakukan pengawasan terhadap perilaku keluarganya di jalan raya. Jika ada anggota keluarganya yang bertindak intoleran di jalan raya, maka para perempuan wajib menegur mereka dengan keras.

Seorang Ibu harus mengawasi perilaku suami dan anak-anaknya dalam berkendara, jangan sampai bertindak membahayakan orang lain. Bukankah seorang Ibu adalah ‘pusat semesta’ bagi suami dan anak-anaknya? Jadi besar kemungkinan teguran mereka akan didengar, melebihi teguran dari aparat kepolisian.

Demikian juga para perempuan muda harus mau menegur teman atau kekasihnya yang berperilaku tidak patut di jalan raya. Mereka seharusnya mengharamkan diri dibonceng kekasih (misalnya) yang menggunakan knalpot brong. Jika kekasih tersebut ngeyel, lebih suka pada knalpot brengseknya ya tinggalkan saja. Lelaki semacam itu tidak akan layak menjadi seorang suami dan Bapak bagi anak-anak.

Begitulah, ada baiknya jika sekarang para perempuan menampakkan wajah aslinya sebagai tiang Negara. Menggunakan powernya untuk mengurangi dan memberantas perilaku intoleran di jalan raya. Demi kebaikan dan keamanan bersama, di jalan raya.