“Nanti malam saya akan menyabotase gudang senjata di Tapah Sari. Saya butuh sembilan orang untuk menemani saya. Sisanya tetap berjaga-jaga di Bukit Harapan. Siapa yang bersedia?” tanya Panglima Affan. Beberapa tangan terangkat menyatakan kesediaannya.

Bang, apo idak urungkan sajo niat abang malam ko. Raso hati awak dak nyaman. Takut terjadi apo-apo.” Hannah membujuk Affan untuk tidak keluar malam ini, walaupun dia tahu percuma saja membujuk Affan yang teguh hatinya.

“Dak apo Dik. Galonyo lah ado yang mengatur, lah ado yang Kuaso. Allah tuhan kito Maha Tahu, dak perlu risau. Abang selamonyo tetap akan mencintai kau,” ucap Affan sembari mengelus rambut Hannah yang tidur di pangkuannya lalu mencium keningnya. Affan selalu tahu kelemahan istrinya itu supaya diam dan tenang.

Affan dan Hannah adalah sepasang kekasih yang berjuang untuk merebut kembali tanah mereka. Bersama segelintir pengikut kecilnya, mereka berusaha mengusir Belanda. Sudah dua bulan berlalu sejak kedatangan Belanda di pelosok negeri mereka.

Tepat saat mereka berdua merayakan pesta pernikahan, tamu tak diundang datang. Bukan untuk memberi selamat dan doa, melainkan merusak acara perkawinan mereka. Belanda datang merampas semua pangan dan hasil bumi. Tak sedikit yang melawan nyawanya melayang, termasuk orang tua dan mertua Affan. Affan dan Hannah berhasil melarikan diri dan bersembunyi di Bukit Harapan. Malam yang seharusnya penuh dengan kebahagiaan dan tawa, malah penuh dengan kesedihan dan lara.

***

Tengah malam, Panglima Affan bersama beberapa pengikutnya mendekat ke gudang senjata. Tetapi ada yang aneh, gudang senjata itu sepi tak ada seorang pun yang menjaga. Tak ada juga mobil patroli yang biasa terparkir di bawah beringin. Affan mengendap-endap sendiri dengan bambu runcing teracung siaga. Pintu berderik saat didorong. Kosong. Ruangan itu kosong tak ada senjata satupun di sana. Tiba-tiba.

DOR. DOR. DOR.

Terdengar bunyi letusan senapan di luar. Affan berlari keluar saat seluruh senapan mengarah padanya. Semua pengikutnya telah tergeletak bersimbah darah dan ditumpuk menjadi satu.

“Panglima Affan. Maaf telah membuat Anda terkejut. Gara-gara ulahmu akhir-akhir ini, kami mengalami banyak kerugian. Saya akui kamu memang benar-benar licin untuk di tangkap,” ucap seorang Belanda berbahasa Indonesia.

“Oh ya. Alangkah baiknya jika Anda mengetahui nama saya sebelum peluru ini menembus kepala Anda. Perkenalkan nama saya Van De Moor,” lanjutnya sambil tersenyum licik.

“Pantas saja”, gumam Affan setelah melihat orang yang berdiri di samping Van De Moor.

DOR

***

“Nyai...Nyai...Panglima Affan, Panglima Affan meninggal tertembak Belanda!” teriak Milzam, salah satu anggota pasukan gerilya. Pasukan beranggotakan sepuluh orang itu berencana menyerbu gudang senjata milik Belanda. Belum teratur napasnya setelah berlari dari lereng bukit dengan membawa kabar buruk.

“Affan?” tanya perempuan yang dipanggil Nyai. Raut wajahnya tak berubah, tetap terlihat teguh walaupun matanya mulai sembab. Hatinya menangis tatkala mendengar raga kekasihnya tak bisa kembali.

“Mereka semua meninggal Nyai. Termasuk Panglima Affan,” jelas Milzam.

“Lalu, bagaimana kau bisa selamat sendiri? Mengapa kau tinggalkan teman-temanmu?” tanya Hannah menyelidik.

“Hmm.... Tadi saya terpisah dengan mereka. Ketika saya kembali, mayat mereka telah bergeletakan di depan gudang senjata. Hamba mohon maaf Nyai,” ucap Milzam menundukkan kepala.

“Kumpulkan semua anggota kita di sini, Milzam!” perintah perempuan yang mengenakan tudung manto merah di kepalanya. Milzam mengangguk lalu beranjak melaksanakan instruksi Hannah.

“Seperti kita ketahui bahwa ketua kita, Panglima Affan dan pasukan gerilya gugur tadi malam. Oleh karena itu, kepemimpinan gerakan ini saya ambil alih. Saya Hannah Putri Alam bersumpah akan meneruskan perjuangan Panglima Affan, mengusir Belanda dari tanah kita. Gugurnya satu bunga akan menumbuhkan seribu lainnya. Hidup ini tidak lepas dari namanya perjuangan. Jangan menyerah, ayo kerahkan kekuatan bersama untuk menunjukkan bahwa marwah kita masih ada dan masih diperhitungkan,” teriak Hannah membangkitkan api semangat yang membara.

“MERDEKA, MERDEKA, MERDEKA!”

***

“Fahmi, saya ada tugas untukmu,” ucap Hannah pada seorang pengikutnya.

“Apa yang harus saya lakukan, Nyai?” tanya Fahmi. Lalu, mengangguk paham setelah Hannah membisikkan sesuatu padanya.

“Bagaimana Fahmi?” tanya hannah memastikan.

“Siap Nyai. Saya akan menjaga kepercayaan Anda Nyai”, jawab fahmi menyanggupi.

Malam tiba, Fahmi pergi mengintai gudang senjata di Tapah Sari. Benar dugaan Hannah selama ini bahwa ada pengkhianat dalam gerakan mereka. Seseorang yang sangat dekat dengan Fahmi, sekarang berada di pihak Belanda.

“Bagaimana Tuan Milzam? Apakah gerakan mereka masih memiliki kekuatan?” tanya Van De Moor.

“Tanpa Panglima Affan mereka tidak ada apa-apanya, Tuan. Besok pagi langsung saja habisi mereka. Tapi Tuan, Anda ingatkan perjanjian kita bahwa jangan sampai Anda lukai Hannah sedikitpun,” jawab Milzam sembari mengingatkan perjanjian yang telah mereka sepakati.

“Tenang saja, wanita idamanmu itu akan menjadi milikmu. Baiklah kita istirahat dahulu. Besok akan kita bantai tikus-tikus pengganggu itu. Ha ha ha,” ucap Van De Moor sambil tertawa.

Mendengar hal itu, Fahmi segera melapor pada Hannah di Bukit Harapan. Hannah yang sudah menduga langsung mengerahkan kekuatan untuk menggempur gudang senjata tersebut. Di gudang senjata para tentara Belanda lengah karena mengira ancaman mereka telah berhasil diatasi. Milzam dan Van De Moor juga sedang tidur. 

Keadaan ini dimanfaatkan untuk melucuti senjata Belanda. Satu persatu tentara Belanda diringkus hingga menyisakan Van De Moor, dua orang bawahannya dan Milzam yang kaget bukan kepalang. Dua puluh senapan hasil rampasan teracung pada mereka berempat.

DOR. DOR. DOR

Van De Moor dan dua bawahannya meregang nyawa, tepat saat mereka akan berbicara. Milzam mengangkat tangan ketakutan di hadapan Hannah yang menatapnya.

“Bicaralah! Mengapa kau tega, ha?” teriak Hannah menggema.

“Am. Ampun Hannah. Aku sebenarnya hanya cemburu pada Affan, dari kecil aku menyukaimu. Namun kau malah menikah dengan Affan,” jawab milzam. Keringat dingin keluar dari sekujur tubuhnya yang diselimuti ketakutan.

“Masalah seperti itu kau jadikan alasan. Dimana hati nuranimu? Bisa-bisanya kau lakukan itu padanya. Andai kau tahu Milzam. Aku dahulu menunggumu untuk melamarku. Kau tak datang-datang hingga Affan melamarku. Kini seenaknya kau bicara begitu, kau renggut sandaran hidupku, berharap aku menjadi milikmu. Omong kosong,” ucap Hannah sembari menarik pelatuk senapannya.

DOR