Lelaki paruh baya berbaju dinas menghampiri, perempuan bergincu merah menerima dan sekali transaksi kesepakatan pun terjadi. Karena dua bilik yang disediakan warung remang itu sesak, keduanya pergi ke semak belukar belakang warung nan sepi.

"Ah, hari ini kau payah!" lelaki paruh baya berbaju dinas kecewa.

"Bukankah saban kau kesini aku melayanimu seperti ini, Juragan?" bela perempuan bergincu merah sambil merapikan atasan ruffled top tak berlengannya.

Indah Delilah namanya. Ia salah satu kupu-kupu malam di bilangan Pantura Tengah yang operasinya di warung remang pinggir jalan. Customer warung remang situ umumnya driver-kernet truk karena itu area persinggahan mobil-mobil besar dari timur atau barat yang melewati jalur arteri pantura.

Namun, Indah Delilah punya pelanggan yang berbeda. Ia biasa dimahari lelaki paruh baya berbaju dinas salah satu instansi negara di dekat sana. 

Pengakuan pelanggannya, Indah Delilah high quality, ia pantas bertengger di lokalisasi bintang lima. Maka, yang kuat membayarnya hanyalah lelaki berdompet tebal. Yang kasat mata berdompet tebal di bilangan Pantura Tengah adalah lelaki berbaju dinas. 

Dan pengakuannya di lain waktu, Indah Delilah punya daya pikat utama di sektor bibir, lebih spesifik pada bagian gincunya.

Itu terjadi lantaran Indah Delilah selalu mengenakan gincu warna merah atau yang menyerupainya; merah merona, merah muda, merah muda salmon, merah muda karang laut, merah pigmen, merah karat, merah maron, dan merah ruby. Bahkan sesekali ia kenakan gincu spanish red, fire engine red, chili red, dan chocolate cosmos.

Indah Delilah meyakini bahwa pesona bibir bisa memancarkan aura kewibawaan melalui guratan gincu yang dikenakan jika tepat menghiasnya. Indah Delilah merasa warna merah cocok baginya karena melambangkan kegembiraan, energi, cinta, percaya diri, dan membangkitkan gairah.

 “Merah adalah seksualitas!” yakinnya mantap di depan cermin sembari membuat adegan sebuah kecupan.

"Kali ini kau berbeda, kau payah, Indah!"

"Apa yang kau anggap beda dan payah, Juragan?"

"Pokoknya kau tidak memuaskanku!" ucap lelaki paruh baya berbaju dinas lalu meninggalkannya.

Sesampainya di rumah pukul 04.00 dini hari, seusai menengok Lintangwati putri semata wayang dan menyelimutinya, ia bercermin dengan seksama. Menggerayangi pipi dan sebagian tubuhnya. Mengamati lengkuk tubuh yang ia jajakan setiap malam sejak sangat muda.

Yakinnya yang ia punya masih mempesona. Yakinnya aset yang dikaruniakan padanya masih jauh dari kata kendur dan payah seperti dugaan si juragan pelanggan tetapnya. Lalu ia merebah dan kembali melamunkan gairah profesinya.

Beberapa hari belakangan ini memang Indah Delilah merasa kehilangan fokusnya bekerja. Gairahnya menjajakan diri surut seperti gelombang air laut saat senja. Pendapatan yang ia banggakan dan ia gunakan untuk menafkahi putrinya terkesan kotor dan mengganggu jiwa.

Sesuatu yang ia panaskan dan desahkan untuk kepuasan pelanggan pun belakangan ini tak ia rasa. Passionnya meredup lantaran anak tunggalnya, Lintangwati (12th), penasaran dan selalu bertanya setiap sarapan apa pekerjaannya.

Tentu Indah Delilah tidak menjawab apa adanya. Tentu ia tidak ingin anak semata wayangnya mewarisi profesinya. Dan atas dasar itulah, Indah Delilah berkeinginan kuat berhenti saja.

***

Usaha Indah Delilah pensiun dini begitu serius dan temenanan. Sudah seminggu ia tidak berangkat dinas. Godaan yang saban hari menghampiri ia tolak mentah-mentah. Ada yang secara halus dan ada pula yang harus melibatkan tajamnya lidah.

Teman sekantor saban hari menelpon dan mengirimkan pesan singkat menanyakan perihal absennya, menawari proyek-proyek besar yang membuat Indah Delilah pusing kepala, dan beberapa kali pelanggan tetapnya mengirim pesan singkat nakal mengajaknya.

Semuanya, syukur ia lalui dengan usaha mengekang diri yang ekstra tinggi. Indah Delilah kini fokus dan berusaha keras membiasakan pola hidup barunya sebagai ibu rumah tangga biasa.

"Mamah kena PHK, Cah Ayu." Ucap Indah Delilah suatu pagi, "kenapa, Bu?"

"Pihak kantor lebih memilih tenaga berpendidikan tinggi katimbang ibu, Nak." Indah Delilah mengelabuhi. Lintangwati menatap ibunya kasihan. Keduanya berpelukan.

"Makanya kamu harus sekolah yang tinggi ya Nak!" "Iya, Bu."

"Biar tidak jadi seperti ibu!" ada raut harapan menggelantung di tulus kelopak mata Indah Delilah.

Pasokan beras dan rempah dapur menipis. Tabungannya menyisakan beberapa lembar dua puluh ribuan. Awal bulan menjadi agenda rutin membayar beberapa tagihan; SPP Lintangwati, tagihan listrik, PAM, dan lainnya.

Indah Delilah diam dalam hening, pening. Lalu ia putuskan mencari pekerjaan secepat dan sekilat-kilatnya.

Ia beranjak dan melamar menjadi buruh laundry di tetangga jauhnya –yang tidak tahu profesi lamanya. “Kau terlalu cantik untuk menjadi buruh cuci, Jeng!” ucap juragan laundy menolak.

Ia melamar menjadi penjaga atau pelayan di toko kelontong orang kaya kampungnya, ditolak lantaran pemilik toko mengenal dan mengetahui latar belakang Indah Delilah. “Khawatir jika kuterima kau, tokoku jadi tak laku!” tolaknya mentah-mentah.

Di bawah terik surya yang menyengat, Indah Delilah melamar menjadi penjaga atau pelayan photo copy dekat lembaga pendidikan, tak ada lowongan.

“Adanya lowongan menjadi istriku, berkenankah kau?” ucap pemilik photo copy memberi tawaran lain, ia sudah menduda lima bulan. Indah Delilah berlalu tanpa membalikkan badan.

Indah Delilah memberanikan diri menghampiri tempat jagal kambing dan sapi, “Ini pekerjaan lelaki!” kata sang juragan jagal sembari menatapnya nakal

Indah Delilah beranjak ke pasar mencari celah kesempatan dan lowongan, justru yang ia dapatkan adalah gojlokan (bully) yang menyudutkan mantan pekerjaan.

Lalu ia sowan seorang ustadz. Apa yang terjadi? Indah Delilah berjalan keluar rumahnya dengan lunglai seolah tak berdaya. Seorang ustadz telah memberinya predikat ahli neraka.

"Ah lelah nian jiwa raga hamba, Tuhan." Sambatnya sambil melangkah pulang.

***

Bintang berhamburan berkerlip menghiasi langit. Bulan sabit bertengger gagah menyipitkan pandangan dan tersenyum cantik. Lelaki paruh baya berbaju dinas tampak sumringah dan terus menyunggingkan bibirnya isyarat ada yang menarik. Rupanya ada perempuan bergincu merah yang ia lirik.

"Selamat datang, Indah Delilahku sayang!" sapanya hormat sambil mencolekkan jemari telunjuknya ke dagu Indah Delilah. Indah Delilah risi, jijik, dan ada segumpal keinginan untuk segera pergi.

"Mari, Sayang!" ajak lelaki paruh baya berbaju dinas sambil menggandeng Indah Delilah ke kamar. Indah Delilah berusaha menolak dengan mengibaskan tangan.

Gejolak perasaan Indah Delilah antara tidak jadi menjajakan diri tapi tidak memperoleh uang yang ia harapkan dan mengiyakan ajakan lelaki paruh baya berbaju dinas tapi ia sendiri merasa risi dan jijik, membuncah bak rebusan air mendidih.

Kemudian, Indah Delilah melemas dan dalam sekejap pasrah berbaring dalam dekap lelaki paruh baya berbaju dinas (lagi).