Saya sering kali benci dengan banyaknya fakta yang mengarahkan pendapat bahwa perempuan adalah makhluk nomor dua. 

Oke, bersyukurnya kita bahwa beberapa bidang telah menghilangkan adanya tingkatan antara laki-laki dan perempuan. Beberapa aspek masih memberi penghargaan bagi siapa pun manusia (di luar gendernya) yang berkompeten dalam suatu bidang untuk memandu manusia lainnya, karier, pendidikan, kepemimpinan, politik, dan lain-lain. 

Bersyukurnya kita berkat perjuangan perempuan terdahulu membuat perempuan zaman sekarang mampu menyelami dunia yang disebut di atas. Meski masih ada saja yang memandang sebelah mata perempuan-perempuan yang independen, aktif, serta sukses mencapai mimpinya, baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan itu sendiri.

Namun, beberapa ternyata masih kemakan stigma. Beberapa masih membuat standar-standar keperempuanan yang begitu memuakkan. Ada aspek yang sulit sekali ditembus perempuan untuk menjadi apa pun yang mereka inginkan. Seakan jika tidak memenuhi standar (yang dibuat masyarakat) tersebut, kita tidak pantas dikatakan perempuan dan dihindari oleh laki-laki kebanyakan.

Perempuan yang identik dengan 'tulang rusuk Adam' seakan makhluk yang harus bertutur kata lembut dan halus, duduk dengan ayu, jaga imej di depan laki-laki, jangan menyapa duluan/mengajak kenalan laki-laki lebih dulu, harus jaga kulit supaya bersih, bla, bla, bla. 

Dan saya pun meyakini bahwa ada standar-standar pula yang ditetapkan untuk para laki-laki, seperti harus kuat, tidak boleh nangis, pengecut kalau tidak bisa mengungkapkan cinta, dan lain-lain. Tipikal budaya patriarkilah!

Saya ingin membahas satu aspek, yaitu posisi perempuan ketika dihadapi persoalan memilih pasangan.

Standar yang sering kali ditetapkan adalah, "Perempuan jangan pernah mengungkapkan perasaannya kepada laki-laki. Jangan pernah melakukan pendekatan, mengajak kenalan lebih dulu laki-laki."

Alasan di balik pelarangan di atas masih membuat saya banyak berasumsi. Dan standar tersebut sebenarnya memengaruhi apa yang akhirnya kaum kita lakukan, seakan-akan kita menjadi patuh pada standar itu. 

Karena ada narasi tersebut, maka perempuan yang hendak melakukan hal yang dilarang di atas secara otomatis menjadi tidak melakukannya karena berpikir "Ah, gue perempuan. Perempuan nggak seharusnya melakukan itu" tanpa bertanya lebih dalam kenapa hal tersebut tidak seharusnya dilakukan.

Asumsi saya tentang sebab adanya standar keperempuanan tersebut adalah bahwa perempuan seakan memang diciptakan untuk menunggu. Menunggu ditembak, menunggu dilamar, menunggu dipinang. Perempuan seakan diciptakan memang untuk menjadi pemilih kedua. 

Artinya, laki-laki akan memilih perempuan mana yang mau mereka dekati yang menurut mereka menarik. Kemudian, kami kaum perempuan akan memilih apakah laki-laki ini kita terima, atau dirasa kurang cocok berhubungan dengan dia dan memutuskan mengakhiri hubungan. Jadi, kita memilih setelah dipilih oleh laki-laki. Mengerti, kan?

Pemahaman-pemahaman seperti itu akan membuat perempuan menjadi malu untuk berkata, menjadi malu untuk menyampaikan apa yang ada di hati dan pikirannya kepada lawan jenisnya. Kita menjadi tidak merdeka hanya karena takut tidak dipandang sebagaimana perempuan pada umumnya.

Saya muak ketika akhirnya menyadari bahwa perempuan tidak bisa memilih laki-laki mana yang ingin mereka dekati, karena sudah buruk duluan imej kita ketika kita berusaha mendekati seorang lelaki untuk menjadi pasangan kita. Label perempuan genit akan menempel terus.

Laki-laki dengan sedikitnya mempergunakan emosi lebih mudah untuk mencari perempuan lain untuk mereka dekati jika ditolak oleh satu perempuan. Sedangkan, perempuan ketika sudah putus hubungan dengan satu laki-laki harus menunggu adanya laki-laki lain yang mendekati dirinya. Itu pun jika ada yang mau mendekati.

Menjadi pemilih kedua pun menyebabkan kita yang memiliki rupa tidak seberapa akan dilihat paling terakhir oleh mereka yang fokus utama matanya adalah keindahan yang terlihat. 

Saya tahu tak semua laki-laki memilih mendekati perempuan karena fisik. Tapi, perempuan yang berparas indah berpotensi besar akan dipilih lebih dulu ketimbang yang hatinya baik atau otaknya cerdas.

Maka, apakah kehidupan yang maju ini membuat perempuan dan laki-laki sudah sepenuhnya setara? Tentu saja tidak. 

Tak apalah. Kita memang tidak bisa memaksa semua orang untuk berpandangan sama dengan kita perihal perempuan dan laki-laki. Pun tidak bisa memaksa mereka untuk tidak mempersempit definisi keduanya. Yang bisa kita perbuat adalah jalani saja prinsip yang kamu percayai di kehidupan. Melenceng dari stigma masyarakat? Sangat tidak apa-apa.