Karyawan Swasta
1 bulan lalu · 80 view · 3 menit baca · Cerpen 70854_45793.jpg
Pixabay

Perekam Kisah, Pewarna Hati

Toko buku ini lagi. Padahal kota ini punya banyak toko buku, tetapi tetap saja aku suka ke sini. 

Di pojok sana, ada tempat yang tidak diisi buku-buku saja. Bagian stationary tulisannya. Banyak alat tulis dengan pilihan warna, bentuk, dan fungsinya. Aku ambil beberapa pena berbeda warna, lucu pikirku.

Dulu, saat di Tsanawiyah, guru fisikaku berkata, "Warnai rumus-rumus yang baru kalian tahu, agar mudah mengingatnya."

Mungkin, ya, saat itu aku bisa menghafal rumus-rumus di luar kepala. Sekarang rumus grafitasi pun aku sudah lupa.

Tetapi aku tidak lupa nama Ibu itu, guru fisika pertamaku. Ibu Gaelis namanya. Terdengar seperti bahasa Sunda, padahal dia bukan dari sana. 

Aku rindu dia. Dia guru yang pernah memberi aku nilai tiga pada kertas ujianku, tetapi memberi nilai sembilan di raporku saat kenaikan kelas satu.

Di rak-rak pena itu, ada kertas putih yang sudah tidak polos lagi, sepertinya disediakan untuk mencoba apakah pena-pena itu bekerja secara semestinya. Beberapa hanya coretan tanpa makna. Ada yang menuliskan beberapa nama, ada juga yang mencoba tanda tangannya.

Di ujung samping rak pena, ada kertas beragam bentuk, ukuran, dan warna. Post It, begitu aku menyebutnya. Entah apa bahasa Indonesia dari benda ini. Kertas itu pertama kali aku pakai di kantor keduaku.

Dulu, di kantorku itu, kami melakukan pertemuan pagi. Dua dari lima hari kerja, kami boleh membagi cerita apa saja di pertemuan itu. Bosku bercerita tentang Post It, sebuah produk gagal yang ternyata punya nilai guna walaupun tidak sesuai harapan semula.

Sebuah pelajaran hidup. Kadang mungkin hidup tidak berjalan seperti yang kita mau. Tetapi bukan berarti tidak jadi lebih baik. Tidak menjadi selotip yang sempurna, malah menjadikan post it perekat yang tidak merusak jika dilepaskan.

Aku ambil beberapa post it dari raknya. Ada yang berbentuk segi empat biasa, dengan beberapa warna. Ada yang berbentuk bintang, kepala binatang, atau tubuh Teddy si beruang. Pilihan yang menggoda dan hampir membuat aku mengambil satu dari tiap-tiap bentuknya.

Tidak jauh dari rak post it, juga ada tumpukan kertas warna lainnya. Berbentuk segi empat sempurna dengan banyak pilihan warna. Kertas lipat; iya, kertas yang sudah aku kenal sejak saat sebelum masuk usia sekolah sepertinya.

Colour paper, tulisan di kemasan plastik pembungkusnya. Yang aku lihat hanya ada satu merek, Sinar Dunia. Ada tiga ukuran di sana, paling kecil bersisi dua belas senti, dan terbesar enam belas senti.

Sebelum bersekolah di Taman Kanak-Kanak, aku sudah mengenal permainan lipat kertas. Kapal terbang dan perahu adalah bentuk paling standar yang dibuat oleh kakak-kakakku. Sementara aku yang masih sekecil itu, hanya suka melipatnya kecil-kecil dengan arah lipatan berbeda, dan jadilah kipas lucu.

Mereka, dengan pesawat kertasnya, memenuhi rumah yang luasnya tak seberapa. Pesawat kertas terbang ke sana kemari. Kalau pesawat itu tidak mendarat sempurna, mereka merobek bagian belakang pesawat agar ada bantuan angin katanya.

Saat sore datang, aku ikut mereka main ke luar. Mereka membawa perahu kertas buatannya. Tempat yang kami tuju, selokan tentu saja. Mereka membaca arah angin agar tahu di mana titik mulainya.

Di hari lain, mereka akan membawa pipet dan meniup perahu kertas mereka. Atau entah ide dari mana, mereka meletakkan pipet berisi sabun colek di bagian belakang perahu. Saat sabun masuk ke air, gelembung-gelembung sabun akan membuat kapal kertas bergerak cepat.

Dan di hari yang kurang beruntung, mereka dijewer saat dipaksa pulang oleh ibu. Jelas, aku yang mengadu. Mereka main tanpa mengajakku. Aku ditinggal di rumah, main sendirian. Dengan semangat, aku bilang ke ibu, "Ibu, kakak main kapal-kapalan di got, air comberan."

Tidak banyak kenangan di kelas, tentang melipat kertas. Kenangan itu kebanyakan di rumah. Salah satunya saat kami para sepupu berkumpul di rumah nenek dan beradu cepat membuat beragam lipatan kertas.

Aku juaranya. Dengan bangga, aku pamer kehebatanku di depan mereka. Bukan hanya kapal-kapalan, aku bisa membuat burung bangau, kodok, dan beberapa benda lain dari lipatan kertas. Sebuah prestasi yang luar biasa, buatku saat itu.

Seorang pramuniaga mengagetkanku. Menawarkan tas plastik untuk menampung belanjaanku. Tidak banyak, hanya beberapa barang yang aku anggap lucu. Beberapa alat tulis penuh warna yang aku kira akan cantik jika kuletakkan di meja kerja.

Kertas lipat itu juga aku bawa. Aku pernah melihat jenis lipatan-lipatan baru yang aku belum pernah membuatnya. Ada banyak tutorial cara melipat kertas yang bisa dicoba.

Entah apakah seni melipat kertas sudah ketinggalan zaman. Tetapi bagiku, itu tetap sebuah kebahagiaan. Kebahagiaan yang mungkin bisa aku bagi dengan beberapa teman. Mereka yang mungkin juga punya kisah, dengan melipat kertas warna.