Kaca Retak Pengintai Masa Lalu

Saya pernah mendengar kabar dari buku-buku yang kalau tidak bohong, katanya, dulu, orang-orang dilarang sembarangan berbicara kepada atasannya. Pikiran saya, barangkali dulu, telinga orang-orang atas itu sedang teramat suci, sehingga tidak mau dinajisi bicara orang yang sembarangan.

Kemudian saya melanjutkan bacaan kepada beberapa buku lainnya, saya temukan hal lain, persoalannya bukan telinga atasan yang teramat suci, tapi karena atasan-atasan waktu itu terlalu bodoh untuk mendengar kritikan cerdas bawahannya. Makanya, waktu itu, orang-orang yang cerdik dilarang berbicara karena tidak ada atasan yang waktu itu mau diceramahi oleh bawahannya yang cerdas.

Tetapi karena orang-orang yang cerdik memang terlahir untuk tidak bisa diam, akhirnya mereka tetap berbicara sekehendak akalnya yang cerdik di depan atasannya. Lalu diculiklah orang-orang cerdik itu satu per satu.

Ada yang difitnah hingga masuk penjara. Ada yang diberi beasiswa keluar negeri agar tidak bikin ceramah di negeri sendiri. Ada yang dikasih kopi manis beserta serbuk racun. Ada yang dijadikan pejabat agar tunduk dengan sambil ucap terima kasih. Ada yang diasingkan agar jadi orang asing dan terkesan jahat. 

Bagi orang cerdik yang masih nakal berceramah, biasanya akan dibunuh pada malam-malam yang misterius. Ada pula yang diculik tak kembali dan matinya pun tak jelas sampai pun detik ini. Barangkali saya perlu bertanya sebagai sponsor iman, nyawa di tangan Tuhan apa di tangan manusia?

Dulu, kata buku-buku yang saya baca itu, tidak ada kebebasan berbicara. Di samping karena waktu itu mayoritas aktivis bergelar cendikiawan dan sastrawan, juga karena kebenaran waktu itu masih bernilai emas satu-satunya. Sehingga, tangan atasan yang selalu berbuat zina dengan kertas-kertas atau tubuh-tubuh perempuan, selalu terpojok untuk kemudian bertindak otoriter kepada semua bawahannya. 

Memang sudah hukum alam, ketika yang lebih bodoh berkuasa, maka ia akan selalu otoriter, demi melindungi kebodohannya.

Cermin Kekinian yang Bebas Berpikir

Kita sampai pada era kebebasan berpikir, berbicara, dan seterusnya. Lalu muncullah kanal-kanal atau media-media pemberi kebebasan berbicara dan menulis sambil lalu menyisipkan kritik--cerdik atau tidak, entahlah, yang penting bebas.

Media sosial adalah salah satu contoh manifesto mimpi kita bahkan masyarakat dunia untuk membantu penunaian kebebasan berbicara, menuangkan ide, lebih-lebih memudahkan hubungan antarmanusia di muka bumi ini untuk terus berbagi pemikiran yang cerdik dan menyadarkan, merayakan kebebasan.

Kita bisa melihat dengan jelas, ada kolom "Apa yang anda pikirkan" pada Facebook, lalu di antara kita menulis apa yang kita pikirkan. Lalu, kita menulis dengan bebas dan tulisan kita dibaca banyak orang dengan bebas--dulu, banyak tulisan dilarang terbit agar tak dibaca masyarakat luas. 

Dan inilah manifesto kebebasan berpikir dan berbicara yang dari dulu kita dambakan itu, suatu model kebebasan berpikir yang nantinya saling menghubungkan antarsatu orang dengan yang lainnya dalam satu beranda. Anggaplah seperti wall magizine yang lebih praktis dan ajaib, yang nantinya boleh jadi mencipta kesatuan organisasi yang bisa menyampaikan aspirasi.

Sekali lagi, di sana, kita sungguh bebas berpikir dan berbicara apa pun saja. Tidak ada yang takut karena kebebasan itu kini sungguh-sungguh menjadi mimbar kita. Dan seseorang bisa dengan tenang menulis apa pun, menuangkan ide-ide apa pun tanpa terancam atasan.

Tetapi ada bencana besar yang lebih besar dari larangan berbicara seperti halnya dulu. Di media sosial yang semestinya dimanfaatkan untuk kebebasan berekspresi pikir, sudah mayoritas dialihfungsikan menjadi ladang pamer dan curhat yang jauh sama sekali dari manifesto kebebasan berpikir. 

Walau, yah, itu juga lahir dari pikiran, yang mungkin teramat minim kadar pikirnya. Karena kadang, kita lupa pada pertanyaan "apa yang anda pikirkan" di beranda Facebook, dan malah di antara kita seperti ditanya "sudah makan, sudah dandan, dan lain-lain".

Kemudian saya menjadi curiga, jangan-jangan, para atasan sudah tahu kalau kita ini sudah menjadi bodoh, makanya kebebasan itu kemudian dilimpakan. Sebab, betapa kebebasan berpikir memang tidak akan membahayakan atasan bila diberikan kepada bawahan yang bodoh. 

Betapa kemudian saya sungguh ingin bertanya, apakah kebebasan akan niscaya dilimpahkan kepada kaula yang bodoh atau, kebebasan akan jatuh di saat kita sedang bodoh-bodohnya? Betapa kemudian saya berpikir, lebih baik kebebasan ini dicabut dan kecerdikan dikembalikan seperti dulu, agar sedikitnya, kita-kita lebih heroik memperjuangkan kebebasan seperti dulu di penjara-penjara. Ah, ini terlalu idealis.

Tapi nyatanya, kebebasan ini memang justru menjadi simbol kebodohan. Tetapi saya masih ragu, apakah benar, kebebasan berbicara dan berpikir di jaman ini sudah tidak lagi menguntungkan kita untuk memulai kritikan yang cerdik lantaran kita sendiri memang sudah tidak cerdik dan kebenaran sudah tak berarti karena sudah lama dijual-belikan pada atasan? Entah.

Berdebat dan Kebodohan

Di media sosial seperti Twitter terutama Facebook, perdebatan sering kali terjadi. Dimulai dari saling singgung-menyinggung. Lalu beralih ke jenjang tanggap-menanggapi, dan sampai pada yang diinginkan, debat-mendebat, antara siapa pun, bebas, yang sekolah atau tidak sekolah, atau mungkin, koruptor dengan anggota KPK.

Semasa saya masih kecil, sekitar tahun 2000-an, yang boleh ikut lomba berdebat dan cerdas cermat di sekolah adalah murid yang cerdas dan pintar, yang setiap malamnya membuka materi dan buku-bukunya. 

Sebagai orang bodoh yang waktu itu menyadari kebodohannya, saya sungguh malu ditawarkan ikut, takut-takut, saya salah bicara dan hanya mempermalukan sekolah saya. Maka saya mendukung utusan sekolah tanpa iri sama sekali karena saya sadar bahwa saya bodoh, bukan lantas menggembosi semangat mereka.

Kemudian saya tidak perlu akting terperanjat ketika menjumpai pagelaran debat dan cerdas cermat di Facebook atau Twitter hampir setiap malam. Di sana, secara sekilas, orang-orang sudah cerdas semua, seperti setiap siang dan malam sudah buka buku dan belajar. 

Makanya, ada pemandangan, hampir setiap orang suka mendebat dan bercerdas cermat di sana. Bahkan, ada yang sampai berhari-hari berdebat, sampai-sampai, paket datanya habis dan harus membelinya segera. Melihat kebebasan bertukar pendapat semacam ini, maka perlulah kita besyukur, sebab inilah anugerah kebebasan itu.

Tapi kemudian saya sadar, banyak perdebatan yang ternyata tidak menarik dan berujung caci-maki. Barulah saya mengambil kesimpulan, ternyata, kebebasan berbicara ini tidak dimanfaatkan dengan baik, justru dijadikan sebagai ladang memulai kebodohan yang lain, padahal, akses informasi dan pengetahuan di sisi lain semakin mudah diakses. 

Barulah saya menemukan kesimpulan berikutnya; betapa kebebasan ini menjadi tidak penting lagi diapresiasi karena kita sendiri telah terpenjara oleh kebodohan kita sendiri, sehingga atasan kita tak perlu pusing membungkam mulut kita, apalagi memang, kadang ucapan benar kita bisa dibeli dan suara kita bisa disuap dan tak bisa berbicara apa-apa lagi.

Kemudian, perbedabatan di media sosial seolah-olah hanya pertunjukan kebodohan, karena yang cerdik pastilah tidak akan menjaga akun sosial medianya, tapi mereka akan berada di kampus atau di sebuah forum diskusi atau di ruang pribadinya, sedang membaca banyak buku demi menghargai kebebasan yang telah jatuh kepadanya agar kemudian bisa lebih bebas berpikir dan menambah bekal pengetahuannya. 

Lalu, perdebatan di media sosial tidak lebih sekadar debat kebodohan. Sebab, jika mereka berani, pastilah tidak akan mau berdiskusi secara terbatas sekedar di media sosial. Mereka akan memilih bertemu dan saling menjelaskan dengan panjang, pula bisa dengan saling balas tulisan yang baik di kanal-kanal media sosial.

Kemudian, perdebatan yang penuh kebodohan itu akhirnya hanya memburu menang atau kalah karena tak ada yang lebih mulia selain kalah menang dari sebuah perdebatan yang bodoh. Di sanalah di antara kita bisa memilih, apakah sedia untuk menghibur diri sambil menikmati tarian kebodohan yang menang secara gratis di kursi terdepan, atau menangis di bawah kursi paling belakang; menikmati kebodohan sambil membuka lagi buku-buku bacaan.

Dan di antara kalah dan menang dalam perdebatan yang bodoh itu biasanya akan menyisakan sakit hati luar biasa atau kegembiraan yang penuh kesombongan. 

Akhirnya, perdebatan seperti sebuah drama pertengkaran antara seorang kekasih dengan mantannya yang terkesan sama-sama bodoh karena saling menyalahkan.

Lalu, untuk apa jika kebebasan ujung-ujungnya dihargai sebatas dengan pikiran-pikiran bodoh yang tidak lebih dari sekedar mencari salah dan menang, citra diri dan martabat diri. Kenapa tidak sekalian kita mewarnai kebebasan ini untuk ajang pencarian siapa yang menang dan salah dalam perdebatan yang bodoh itu?

Atau, kenapa tidak ikut balap kuda saja jika yang dicari hanyalah menang atau kalah?