Beberapa waktu belakangan ini, hari ini, dan (mungkin) beberapa hari ke depan, begitu banyak perbincangan LGBT yang penulis amati di linimasa media sosial. Ini sebuah isu (periodik) yang seksi dan menimbulkan perdebatan pro-kontra yang hebat, tentunya, hingga dapat menciptakan dikotomi sosial — walau hanya sebatas media sosial.

Tentu, jika kita ingin mengetahui dan berbicara penolakan dan penerimaan terhadap hal ini, hendaklah memerlukan kajian yang holistik, baik secara filosofis, sosiologis, sains, medis, dan pada akhirnya yuridis.

Namun, dari perdebatan dan pengubuan yang penulis lihat, cenderung hanya menonjolkan kajian tertentu saja. Kubu yang kontra mengklaim bahwa LGBT itu harus ditolak, karena itu sesuatu perbuatan yang immoral, menyalahi kodrat, terbentuk karena faktor lingkungan, bertentangan dengan agama, dan menurut medis (versinya) adalah sebuah penyakit -- yang bisa disembuhkan.

Kubu yang pro juga mengklaim bahwa berdasarkan penelitian termutakhir, itu bukan penyakit; sesuatu yang alami, dan tidak ada orang yang bisa memilih bahwa dia dilahirkan demikian. Fenomena seperti ini juga terjadi semua pada makhluk hidup (binatang).

Lebih jauh lagi, kubu ini memperjuangkan hak fundamental mereka sebagai manusia; persoalan LGBT bukan semata orientasi seksual, melainkan implikasinya lebih jauh lagi, yang justru mengancam haknya sebagai manusia; mengusahakan cara hidup yang memberikan mereka peluang dengan bahagia dengan identitasnya, karena individu-individu tidak memilih orientasi seksual; mereka mendapatkan diri mereka seperti apa adanya tanpa mengusahakan suatu pilihan untuk hal itu.

Penulis sendiri cenderung tidak tertarik menempatkan diri di kubu pro atau kontra terhadap isu ini. Bukan apa-apa, menurut penilaian penulis, baik pihak pro maupun pihak kontra, keduanya sama-sama memiliki fondasi argumen yang kuat untuk meyakinkan, menggiring, dan menciptakan dikotomi sosial yang tajam.

Lagi pula, penulis tidak memiliki pengetahuan dasar soal ini, baik dari sudut teologis, medis, dan keblablablaan lainnya; tidak seperti jamaah media sosial yang terlibat perdebatan pro-kontra sekalian, yang tentu memiliki pengetahuan dasar soal ini, walau bukan ahlinya dan belum mempelajarinya secara serius.

Walau demikian, penulis percaya dan menunggu apa yang disimpulkan sains --sebagai ilmu yang objektif dan jelas kerangka metodenya -- terhadap ini. Apa pun itu, mau menerima atau menolak, LGBT hasilnya.

Namun sialnya, kedua kubu tersebut mengklaim berdasar sains juga sebagai dasar argumennya. Tidak tahu yang mana 'pseudoscience' dan 'science'. Penulis dan kaum non-blok lainnya jadi makin bingung.

Namun walau begitu, sebagai seorang non-blok untuk hal ini, penulis tertarik melihat fenomena ini dari salah satu sudut yang lebih mendasar dan membangun persepsi awal soal LGBT. Oleh karenanya, izinkan penulis coba menjabarkan dari satu sudut dasar ini, di mana berdasarkan kajian reflektif penulis, cenderung memandang penerimaan dan penolakan LGBT ini hanyalah sebagai persoalan tradisi saja.

Ya, kita menolak LGBT karena tradisinya demikian. Di mana yang cenderung populer dan menghegemoni secara global adalah tradisi masyarakat yang menolak LGBT -- berdasarkan konsensus norma masyarakat (kolektif) tersebut, dipandang sebagai sesuatu hal yang immoral berdasarkan justifikasi narasi agama mapan.

Dalam hal ini, secara general -- walau tidak semua -- masyarakat Indonesia secara tradisi juga memiliki persepsi yang sama soal ini. Terus, memangnya ada tradisi yang menerima masyarakat LGBT, gitu? Jelas ada. Bahkan ada tradisi kelompok masyarakat tertentu yang menganggap figur LGBT adalah sesuatu yang kultus. Mana? Silakan cari sendiri.

Lalu, apa yang ingin penulis sampaikan berdasarkan dari sudut pandang tradisi ini? Ya, jika kita melihat dari sini, ini hanya persoalan pengaruh tradisi kelompok masyarakat mana lebih kuat, bukan? 

Nah! Tentu sebagai sebuah tradisi yang menghegemoni, dalam rentang waktu tertentu akan ada periode diujinya tradisi mapan tersebut oleh kebutuhan peradaban dan dicegat oleh instrumen sains dengan prinsip bersifat falsifikasi, negasi, dan tanpa prinsip 'kebenaran final'-nya itu.

Ya, sainslah yang mengeliminir dan mereduksi pengaruh tradisi usang. Sudah banyak tradisi, yang karena kebutuhan dan pembuktian sains telah ditanggalkan, usang dan akhirnya punah!

Dalam fenomena saat ini, tradisi populer 'menolak LGBT' sedang mendapat porsi untuk 'diuji' (menguji bukan berarti kontra, bukan?) oleh sains apakah sesuai dan selaras dengan peradaban atau tidak. Penulis tidak mengatakan bahwa kesimpulan sains, yang selaras dengan peradaban saat ini, adalah menerima LGBT. Bukan itu yang ingin disampaikan. 

Bagi pandangan penulis, ketika kita membuat persepsi menolak-menerima LGBT, ya semata-mata dibangun dari hasil sebuah kreasi tradisi kita yang sudah disepakati. Sederhananya, kebanyakan kita hanya membebek terhadap persepsi yang sudah mapan tanpa penelurusan kritis lebih lanjut.

Padahal, sebuah tradisi adalah sesuatu yang memiliki jangka waktu daluarsa ketika berhadapan dengan kebutuhan peradaban. Nah, karena menurut pengamatan penulis, penolakan LGBT juga merupakan bagian sebuah tradisi mapan, ya kita harus siap dong tradisi itu diuji oleh sains dan kebutuhan peradaban serta menerima kesimpulan yang diberikannya, entah itu menerima maupun menolak LGBT.

Nah! Kita tunggu saja kesimpulan final dan tak terbantahkannya dari sains. Bukan hanya sekadar klaim dan comot sains belaka.

Jika pada akhirnya tradisi mapan penolakan terhadap LGBT tersebut tidak sesuai dengan keselarasan peradaban dan saudara tetap kukuh untuk memilihara tradisi usang yang disangkal sains tersebut, ya silakan saja. Pada akhirnya inikan persoalan pertarungan dominasi tradisi dan sains, bukan? Layaknya teknologi xenotransplantasi dan kloning yang mendapat penolakan karena menyangkut etika.

Cuma, saran penulis, hendaklah komitmen hidup dalam kekangan kotak tradisi itu. Jangan naif dengan hanya memanfaatkan hasil sains yang sesuai dengan kebutuhan egomu dan komunitasmu lalu mengabaikan kepentingan, kebahagiaan, kebutuhan orang banyak dan peradaban! 

Sudah, itu saja yang ingin penulis sampaikan untuk fenomena LGBT. Hitung-hitung ikut meramaikan dan meributkannya.