Kebencian bahkan kekerasan dan teror atas nama agama kian bersemai dalam hati masyarakat Indonesia. Alasannya beragam, mulai dari perlakuan yang tidak adil, himpitan dan atau kesenjangan ekonomi, kepentingan pragmatis para kaum elit, fanatik dalam keberagamaan, dan juga karena adanya perasaan selalu menjadi korban.

Tidak menutup kemungkinan bahwa perasaan senantiasa terancam oleh pihak yang berbeda latar belakang turut andil di dalamnya. Betapapun, yang paling utama dari semua itu ialah karena tiadanya dialog (komunikasi positif) yang dinamis nan konstruktif di antara mereka.

Jika kondisi seperti ini dibiarkan atau bahkan semakin dimobilisasi oleh pihak-pihak yang berkepentingan, tentu perdamaian hanyalah angan-angan belaka. Padahal tak pelak bahwa suatu iklim yang damai wajib tercipta demi tersemainya peradaban madani. Kita dapat melihat bagaimana benih-benih kehancuran sedang terjadi di beberapa negara Timur Tengah yang terus-menerus dirundung konflik, tak peduli hingga mengorbankan jutaan rakyatnya. 

Tentu yang demikian sedapat mungkin tak perlu terjadi di bumi pertiwi Indonesia. Oleh karena itu, upaya kulturisasi dialog menjadi sebuah kebutuhan yang amat mendesak yang perlu dimasifkan di mana di dalamnya terpatri dua buah peran ganda sekaligus; satu sisi dapat menjadi solusi preventif, dan di lain wajah dapat pula menjadi solusi kuratif.

Sayangnya, sampai saat ini budaya dialog masih baru terjadi di sudut-sudut dunia akademik (kampus) dan minim berdiri di lingkup grassroots. Sebab prasangka buruk telah kadung bersemayam di dalam diri masyarakat Indonesia, apalagi dinding-dinding perbedaan atau ketidaksetujuan membuat mereka menjadi terlanjur memberi cap negatif kepada pihak yang berbeda.

Bahkan sampai taraf tertentu, kebencian terhadap sesuatu yang tidak disepakati membuat mereka menjadi tak dapat berlaku adil lagi. Kalaupun ada, meski menamakannya sebagai bentuk dialog, tetapi yang terlihat sebenarnya hanyalah pseudo-dialog lantaran satu pihak hanya ingin didengar.

Mereka memaksakan kehendaknya supaya dituruti oleh pihak lawan bicara. Ini kontras dengan esensi dialog yang memberi penekanan pada upaya menjadi pendengar produktif, merasakan apa yang dirasa oleh objek lawan bicara.

Di atas itu semua, daripada mengutuk keadaan sembari menunggu kesadaran mereka yang tentunya belum ada kepastian, saya pribadi akhirnya memilih untuk bergerak, turut serta menjadi salah satu aktor perdamaian di pentas bumi Indonesia yang bertumpu pada upaya kulturisasi dialog, khususnya dalam lingkup sosial-keagamaan walaupun tak melulu memperbincangkan soal teologi.

Sampai saat ini, saya telah memiliki dua buah wadah untuk merealisasikan ikhtiar tersebut; pertama, saya bergabung dengan komunitas perdamaian lintas agama Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC).

Komunitas ini memiliki beberapa program. Dua di antaranya adalah Student Interfaith Peace Camp (SIPC) dan dialog Scriptural Reasoning (SR)SIPC adalah sebuah pelatihan yang diperuntukkan bagi para pemuda (mahasiswa) Islam-Kristen dengan menaburkan 12 nilai perdamaian ala Peace Generation, salah satu organisasi perdamaian terbesar di Kota Bandung. 

Adapun SR adalah sebuah metode dialog lintas iman di mana sebuah grup kecil yang terdiri dari 2-3 pemeluk agama (Yahudi-Kristen-Islam) berdiskusi mengenai tema-tema tertentu yang sumbernya diambil langsung dari kitab-kitab suci mereka (Taurat-Injil-Alquran). Metode dialog yang diciptakan oleh Peter Ochs, profesor Yahudi dari Universitas Virginia ini tengah menjadi populer di kalangan praktisi Barat yang belakangan menjalar ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Sejauh amatan saya––dalam penelitian skripsi––SR sangat berarti bagi perkembangan hubungan harmonis antar umat beragama. Karena bukan hanya dapat melatih toleransi, melainkan juga lebih jauh mampu berkembang menjadi persahabatan.

Titik tekan dalam dialog SR ialah tidak adanya konsensus sehingga setiap pihak dengan bebas diperkenankan untuk mengutarakan pendapatnya tanpa perlu takut menyinggung perasaan lawan dialog. Tentu, dengan penyampaian yang beradab tanpa caci maki atau hinaan.

Saya sempat mencoba untuk mengaplikasikan dialog metode SR ini di lingkup pendidikan formal (SMA). Dan tak menyangka, ternyata mendapat tantangan yang cukup signifikan. Tidak hanya dari murid-muridnya yang ketakutan, baik karena takut kalah dalam perdebatan teologis maupun takut menyinggung perasaan temannya, tetapi juga guru-guru agamanya memiliki kewaspadaan yang berlebihan.

Jika iklim negatif dari kepasifan pihak guru yang seharusnya dapat menjadi pendorong kulturisasi dialog dipelihara dan mengendap terus-menerus, maka wajar sekali jika out put-nya adalah remaja-remaja fanatik yang senantiasa menghadap-hadapkan keyakinan agamanya dengan kepercayaan umat agama lain.

Ikhtiar kedua ialah dengan menyebarkan konten-konten positif lewat dunia literasi. Sejak 2016, meski di tengah maraknya berita-berita hoax dan provokatif, saya bersama komunitas YIPC tak gentar untuk terus menebarkan virus-virus perdamaian melalui sebuah Newsletter yang rutin diterbitkan sebulan sekali dengan nama Peace Newsletter.

Dan di akhir tahunnya, saya mendirikan sebuah majalah elektronik bernama Goodnews yang masih memiliki visi senada dengan Peace Newsletter, menebarkan perdamaian melalui dialog teks.

Tidak cukup sampai di sana, sejak berada di bangku perkuliahan, saya tengah keranjingan membuat karya tulis yang sampai saat ini jumlahnya mencapai 5 buah buku. Meski memiliki penekanan yang berbeda-beda, nilai-nilai universal perdamaian senantiasa tercurah dalam setiap pesan moralnya.

Bahkan, satu buah buku (Jembatan Cinta Antar Umat Beragama, 2016) saya dedikasikan untuk perdamaian Islam-Kristen dengan menampilkan pandangan dari berbagai kalangan.

Patut diakui bahwa usaha-usaha sederhana ini belumlah cukup jika tanpa diiringi oleh uluran tangan dari berbagai pihak yang juga tersadarkan betapa pentingnya merajut perdamaian melalui penggalakan dialog-dialog positif. Karena sejatinya bumi Indonesia tidak hanya akan dirasakan oleh kita––yang masih hidup––melainkan juga oleh para generasi penerus bangsa, anak cucu kita.

Hingga akhirnya, saya dan kalian––seluruh elemen masyarakat––menjadi tontonan dunia bahwasanya adanya pluralitas yang begitu kompleks tidak memustahilkan terciptanya perdamaian dunia.