Beberapa waktu yang lalu Pangdam Jaya Dudung Abdurachman mengecam dengan nada ancaman organisasi masyarakat FPI. Ormas yang beberapa tahun terakhir kerap membuat geger satu negara. FPI di satu sisi merupakan wujud dari kedigdayaan kelompok Islam politik, di sisi lain tindakannya dianggap cukup mengkhawatirkan.

Variasi keislaman di Indonesia setelah Orde Baru terbilang cukup lengkap. Mulai dari Islam konservatif hingga Islam liberal. Di Islam konservatif, FPI tampaknya cukup mewakili.

Fenomena kekasaran FPI di lingkungan saya sejak dahulu hampir tidak pernah bisa saya tanggalkan. Sekitar enam tahun silam, di kampung saya terjadi sebuah bentrokan antara massa FPI dan warga sekitar. Kejadian itu cukup mengakar di ingatan saya.

FPI dengan lantangnya berniat untuk memberangus praktik yang mereka anggap berdosa. Yakni transaksi obat-obatan terlarang. Saking semangatnya, tindakan FPI tidak cukup hanya memberantas narkoba, tapi justru malah merusak rumah-rumah warga setempat yang tidak terlibat secara langsung. Akibatnya, warga marah, bentrokan pun tidak bisa dihindari.

Pedang dihunuskan, takbir dilantangkan, dan semangat dikobarkan. Mereka seperti sedang memerankan adegan di film-film peperangan. Bentrokan itu cukup mencekam. Warga yang tidak bersalah hanya berdiam diri dalam rumah.

Beberapa minggu setelahnya, mobil-mobil aparat keamanan selalu tampak berjejer menghiasi jalanan kampung kami.

Dewasa ini, simpatisan FPI semakin menjamur. Misi mereka kini mungkin tidak sebatas memberantas kemungkaran. Lebih dari itu, nampaknya massa mereka sudah melangkahkan kaki untuk mendapatkan tempat di kancah politik. Bagi kelompok moderat, mungkin itu cukup meresahkan.

Kekuatan mereka salah satunya terdapat pada massa dengan semangatnya yang berapi-api. Layaknya segerombol prajurut yang rela gugur di medan peperangan.

Klaim bahwa FPI adalah perwakilan umat Islam di Indonesia tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Pasalnya, dalam kancah dunia politik yang terlihat di permukaan, massa FPI-lah yang sekarang tampak merajai kelompok mayoritas negeri. Sampai-sampai, pemerintah dibuat bingung atas keputusannya sendiri.

Meskipun bapak Pangdam Jaya dan termasuk saya mengatakan bahwa FPI bukanlah wakil dari umat Islam secara keseluruhan. Namun, saat ini organisasi-organisasi keislaman lain tidak cukup nampak semangatnya untuk memotong dominasi keislaman FPI.

Mengancam FPI itu sia-sia. Ancaman tidak akan menyelesaikan masalah. Bagaimana tidak, Lihat saja, berapa kali mereka diancam? Dan berapa puluh kali mereka malah justru semakin menjadi-jadi?

Mulai dari penangkapan Habib Rizieq di tahun 2003 yang menghina institusi Polri, hingga kasus pelanggaran protokol kesehatan baru-baru ini, semuanya tidak menutup peluang bagi mereka untuk kembali melakukan kontroversi.

Segala tindakan memarginalkan FPI dalam rangka untuk meredam kekuatan mereka terasa tidak begitu ada dampaknya. Buktinya, sampai sekarang mereka masih saja digdaya. Bahkan dengan massa yang makin hari makin bergelora.

Penanganan terhadap kedigdayaan massa FPI idealnya tidak hanya dilakukan oleh aparat saja. Pasalnya, aparat hanya akan menindak FPI jika mereka melanggar hukum. Jadi, yang diterima hanya sebatas hukuman atas satu pelanggaran yang mereka lakukan. Itu cuma menyelesaikan satu masalah. Itu hanya akan menyelesaikan satu masalah saja, bukan?.

Sebetulnya, anggota mereka tidak banyak-banyak amat. Dari yang mereka klaim jutaan saat aksi 212, rupanya media berkata sebaliknya. Media mengklaim bahwa aksi itu hanya dihadiri ratusan ribu orang saja. Masih kalah jauh dengan massa Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, dua ormas yang memiliki sepak terjang yang begitu memukau.

Bedanya, dari ratusan ribu anggota itu, mereka semuanya menampakkan diri. Berani bersuara di media sosial, berani memasang baliho besar yang menuliskan agenda besar mereka. Semuanya terasa terorganisir dan cukup menakjubkan.

Orang Islam di luar FPI yang masih memegang prinsip moderasi dalam beragama masih sangat banyak dan menjamur. Akan tetapi ruang untuk berbicara di depan publik masih sangat minim. Mereka bukan tidak mengerti, akan tetapi lebih memilih untuk diam dan tidak ingin menambah kekalutan.

Itu sama saja dengan membiarkan. Analoginya, ketika haq muncul, maka yang bathil akan sirna. Saya tidak hendak menjustifikasi bahwa FPI itu haq atau bathil. Akan tetapi, konsep itu bisa menjadi analogi yang pas dalam kasus ini.

Ketika panas itu datang, maka dingin akan sirna. Begitulah kiranya.

Salah kita adalah diam. Diam melihat mereka mulai menjamur di media sosial. Diam membiarkan mereka menarasikan agama dengan tafsir-tafsir politis. Kita hanya ngomel-ngomel dan tidak berbuat apapun.

Kita sama-sama memiliki media untuk menyampaikan opini. Dengan jumlah yang jauh lebih banyak di dunia nyata, seharusnya kita mampu menguasai narasi moderasi dalam beragama.

Sebagai kelompok yang masih menerapkan konsep moderasi, penting sekali untuk ikut menampakkan diri. Tentu dengan intensitas yang lebih tinggi daripada mereka.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan, misalnya dengan menyebarkan penceramah-penceramah kita untuk mengajarkan ajaran Islam yang ramah, memperbanyak kajian-kajian moderasi beragama mulai dari tingkat kampung hingga tingkat akademis, dan jejali sosial media dengan isi konten yang membangun spirit keramahan, bukan kemarahan.

Kita masih disibukkan dengan berkomentar nyinyir dan mengkotakkan mana cebong dan mana kampret. Tugas kita bukan itu. Tugas kita adalah menjejali media sosial dengan konten-konten moderasi. Cara terbaik untuk memotong laju sebuah narasi adalah dengan melakukan counter narasi.