Pada suatu hari, di pertengahan jam kerjaku yang super-menegangkan, aku ngobrol-ngobrol tipis dengan teman kantorku mengenai topik ‘orang kaya’ dan ‘orang miskin’. Aku lupa apa yang memicu kami untuk membicarakan hal tersebut, yang pasti percakapan yang kuingat adalah “Biasanya nanti orang kaya suka bilang gini ‘ah mereka (orang miskin) aja yang malas, nggak mau berusaha. Padahal orang sukses itu, kan, kerja keras supaya jadi kaya’”.

Sebenarnya, aku kaget kalau memang ada orang kaya yang ternyata punya pola pikir seperti itu.

Aku hanya menanggapi, “Ya, tapi menurut gue ada satu sistem yang memang nggak bisa membuat orang miskin itu jadi kaya, mau seberusaha apa pun mereka. Kita hidup di negara yang mana orang kaya makin kaya, dan orang miskin makin miskin. Akses orang miskin untuk pendidikan aja terbatas. Dan banyak lagi akses-akses yang dimiliki orang dengan ekonomi kelas menengah ke atas, tapi nggak dimiliki oleh kelas menengah ke bawah.”

Beberapa bulan setelah obrolan tipis kita itu, baru saja kemarin aku membaca thread di twitter dari @jeromepolin, salah satu youtuber terkenal yang kuliah di Jepang dengan mendapatkan beasiswa. Konten-kontennya sangat mendidik, dia tak jarang suka ngebanyol, dan juga sangat aktif memberi motivasi serta mengungkapkan keresahannya di twitter.

Kurang lebih isi thread yang menjadi perhatianku adalah keluhan dia soal bagaimana orang sukses dan hidupnya enak selalu dibilang bahwa itu merupakan privilese (hak istimewa), sedangkan orang yang tidak sukses alasannya karena tidak dapat privilese. Dia merasa bahwa privilese itu penting, tapi usaha juga penting—malah lebih penting lagi.

Untuk lebih jelasnya, youtuber ini terlahir dari keluarga yang bisa dibilang kelas menengah ke atas, lah. Keluarganya pun kerap disoroti sebagai keluarga yang kompak.

Aku berasumsi bahwa Jerome tumbuh dengan kondisi mental yang baik dari dalam keluarga. Mungkin, hal ini yang menyebabkan ada banyak orang yang menganggapnya punya privilese ‘terlahir dari keluarga kaya’, sehingga bisa sukses/hidup enak di usia yang masih muda ini.

Melanjutkan soal thread twitter tadi, ada banyak komentar yang kurang menyetujui cuitan Jerome mengenai topik tersebut. Kebanyakan kakak-kakak, om-om, atau bahkan ibu-ibu turut berbaik hati menasihati pemuda berusia 22 tahun ini dengan berbagai pengertian soal privilese itu sendiri.

Ada yang bahkan me-retweet dengan komentar memberi data penelitian soal bagaimana orang yang terlahir miskin jarang menjadi sukses. Artinya, begitu rentannya tweet soal privilese yang terlontar dari orang yang memang memiliki privilese, ya.

Aku pribadi sebagai orang yang menikmati konten youtube dan kekonyolan Jerome (kita seumuran betewe), cukup meresahkan cuitan yang dia buat. Di sisi lain, cuitannya benar dan berdasar.

Namun apa yang dia tekankan dalam cuitan itu cakupannya sempit. Dia hanya membahas bahwa effort itu sangat penting, tapi tidak membahas kemungkinan-kemungkinan lain yang menyebabkan effort pun tak berguna tanpa privilese.

Kemudian, melihat latar belakang Jerome, pada akhirnya privilese yang aku tangkap dari tweet tersebut maknanya hanya sebatas sebagai anak yang terlahir dari keluarga kaya. Padahal, ada banyak hal yang bisa kita anggap sebagai privilese daripada hanya sebatas kaya.

Menurutku, orang yang terlahir dari keluarga miskin, namun ternyata orang tuanya pontang-panting agar si anak mampu mengenyam pendidikan, itu sebuah privilese. Orang yang terlahir dari keluarga yang cukup, tapi orang tuanya mendidik agar si anak mencari uang sendiri dan tidak mengandalkan orang tua, itu juga sebuah privilese.

Orang yang terlahir miskin, kemudian dalam perjalanan hidupnya ia dipertemukan oleh orang baik yang membantunya mengakses berbagai hal, itu privilese. Orang yang terlahir kaya maupun miskin, namun tumbuh di keluarga yang begitu harmonis sehingga anak tumbuh dengan mental yang baik, itu pun privilese.

Bahkan Jerome, yang katanya sewaktu kecil memiliki teman-teman yang sering berlibur ke luar negeri sehingga memicu dirinya untuk mempunyai keinginan bersekolah di luar negeri pun merupakan privilese. Pokoknya, sesuatu yang bisa memberimu peluang lebih untuk mencapai kesuksesan bisa kita sebut privilese.

Rachel Vennya, Sule, Dian Sastro adalah sederetan orang sukses yang aku tahu mereka memiliki privilese soal bagaimana orang tuanya mendidik dan menanamkan pola pikir yang real soal kehidupan. Ibu dari Maudy Ayunda bahkan pernah bercerita bahwa kecerdasan putrinya adalah bonus, karena hal utama yang ibunya tanamkan adalah kemandirian.

Namun tetap saja, mengabaikan effort dengan menyoroti privilese-nya saja adalah bentuk pengkhianatan terhadap sistem kehidupan. Menurutku, keduanya saling terikat—yang mana jika salah satu item tidak ada, maka hilang sudah kesempatan untuk menjadi manusia yang bermanfaat di dunia.

Anggapannya gini, kamu sejak kecil sudah dihadapi dengan kondisi ekonomi yang sulit, sehingga sejak kecil yang orang tua kamu tanamkan adalah bagaimana caranya mencari uang untuk bertahan hidup besok. Nggak ada tuh pikiran bahwa kamu harus pintar, harus bersekolah.

Akses untuk mendapatkan informasi yang berlimpah itu terbatas, begitu pun akses pendidikan dan akses kesehatan. Padahal kamu sudah bekerja keras mengais rezeki, misalnya. Ya, bagaimana kamu bisa meraih kesuksesan itu tanpa akses informasi yang mana hal itu merupakan privilese?

Atau, kamu terlahir dari keluarga kaya. Sudah terbiasa kalau semua-muanya ada dan terfasilitasi. Terus kamu mau bikin perusahaan yang besar, kamu bisa, nih, membangun gedungnya karena punya uang. Tapi, nggak ada usaha yang kamu lakukan supaya perusahaan kamu itu besar. Kamu terlalu ngandelin privilese itu, ya ambyar, deh. Sesuatu yang kamu inginkan nggak akan tercapai tanpa effort.

Aku cukup tertarik dengan salah satu komentar di thread tersebut yang memaparkan penelitian soal anak yang tumbuh di keluarga miskin, akan tetap miskin ketika dewasa. Senada dengan apa yang aku bicarakan kepada teman kantorku di awal paragraf. Penelitian ini dibuat oleh SMERU Research Institute yang berjudul Effect of Growing up Poor on Labor Market Outcomes: Evidence from Indonesia yang dipublikasikan oleh Asian Development Bank Institute.

Kesimpulannya, anak yang pada usia 8-17 tahun hidup dalam kemiskinan, ketika bekerja pendapatannya akan 87% lebih rendah dari mereka yang tidak tumbuh dalam keluarga miskin. Mereka menguji tujuh faktor antara lain adalah status kemiskinan, hasil tes kognitif, hasil tes matematika, lama bersekolah, kapasitas paru-paru (untuk menggambarkan kondisi kesehatan), koneksi pekerjaan melalui kerabat, dan hasil tes kecenderungan depresi.

Penelitian tersebut banyak mendapatkan respons skeptis dari beberapa pihak karena menguji secara kuantitatif.

Namun, ada penelitian secara kualitatif yang dilakukan oleh Rendy A. Diningrat, salah satu peneliti dari SMERU Institute pada tahun 2015. Ia mewawancarai beberapa anak yang terlahir dari keluarga miskin dan menyimpulkan bahwa anak-anak yang lahir dari keluarga miskin dengan yang tidak miskin memiliki modal yang tidak seimbang dari keluarganya. Hal ini yang mengakibatkan mereka tidak berada pada garis awal yang sejajar dalam memperoleh kesempatan ekonomi.

Apa yang diresahkan Jerome soal privilese sangatlah berdasar, melihat banyaknya orang yang mendefiniskan privilese dengan sempit. Namun, perlu adanya pengamatan lebih mendalam soal bagaimana manusia begitu sulit terlepas dari jeratan kemiskinan di negeri kita tercinta.

Semoga cita-citamu untuk menjadi menteri pendidikan tercapai, ya, Jer! Kamu sudah melangkah lebih jauh daripada yang lain.