Hari ini, 21 April, Ibu Pertiwi mengenang sosok luar biasa yang harumnya mewangi di antero negeri.

Namanya menjadi pilihan para orang tua untuk disematkan kepada putri kecilnya. Dengan harapan mewarisi semangat hati dan gigihnya yang membara api. Dia adalah R.A. Kartini.

R.A. Kartini membuktikan kepada dunia bahwa tekad dan usaha harus berjalan satu arah. Tekad saja tidak bisa mewujudkan impian, tentu ada aksi untuk mewujudkannya.

Semua orang (tak terbatas gender) bisa dan berhak bermimpi, tapi tidak semua orang dapat mencapai mimpinya tersebut. Tergantung aksi masing-masing.

Nah, meskipun semua (sebenarnya) berhak melakukan apa pun, ada "batas-batas" yang menjadi momok menyeramkan.

Rasa ketakutan dari dalam diri sendiri ataupun batasan lingkungan, tetap saja porsinya menjadi "tembok pemisah". R.A. Kartini berusaha menerjang tembok tersebut dan sekarang terbentanglah jalan terang bagi kita semua (terutama bagi perempuan).

Karena budaya dan norma masyarakat patriarkat yang telah menyerabut, maka tak heran jika peran perempuan yang subordinat dianggap hal wajar. Belenggu ketakberdayaan ibarat "pasung" bagi (yang katanya) kelas kedua ini.

Secercah sinar terang telah diwariskan oleh R.A. Kartini sebagaimana bukunya yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. Saya ingin menghidupkan kembali semangat juang dan napak tilas dari beberapa kata motivasi beliau dikutip dari buku tersebut. Meskipun demikian, tulisan ini bukan berarti hanya saya tujukan sebagai euforia tanggal 21 April saja.

Saya berharap semangat Kartini tetap menggelora bukan hanya terfokus tanggal hari ini saja. Baiklah, berikut ini adalah kata-kata inspiratif beliau yang membuat saya merasa tercambuk tiap usai membacanya. Semoga ada kekuatan yang melampaui kata-kata: usaha nyata!

1. Ibu adalah pusat kehidupan rumah tangga. Kepada mereka dibebankan tugas besar mendidik anak-anaknya, pendidikan akan membentuk budi pekertinya.

Kata siapa seorang perempuan (yang katanya) menganut paham feminis tak boleh mengurus anak? Tentu tidak ada yang mengharuskan demikian.

"Perempuan" berhak memiliki mimpi masing-masing. Jika pun ada yang berpemikiran tak harus menjadi ibu dan memiliki anak, orang lain tetap harus menghormati keputusannya. Namun, bagi perempuan yang memilih menjadi pusat kehidupan rumah tangga, harus berusaha semaksimal mungkin.

Berdasarkan pendapat subjektif saya, ketika akhirnya memutuskan (akan) melahirkan anak ke dunia ini, maka ilmunya sudah harus cukup. Jadi, istilah kasarnya, anak bukan ajang "coba-coba". Pikirkan dulu matang-matang segala risikonya dan kesiapan diri sendiri, jangan sampai anak menjadi "kambing hitam" dari segala polemik yang ada.

Tak heran jika peran ibu sungguh luar biasa berat. Sebab, dia akan menjadi "dunia" bagi anak-anaknya.

2. Anak perempuan yang pikirannya telah dicerdaskan serta pandangannya telah diperluas tidak akan sanggup lagi hidup dalam dunia nenek moyangnya.

Ilmu dan pendidikan pertama bagi seorang anak tergantung dari keluarga. Dia akan bergantung kepada ibunya.

Dari poin 1, tentu si ibu harus memiliki kecerdasan dan pandangan yang luas. Sehingga estafet pemikiran tak terkungkung adat usang dan pola pikir lawas dapat sampai ke anaknya. Apalagi jika dia melahirkan seorang anak perempuan, beban tanggung jawab menebas belenggu stigma makin bertambah di pundaknya.

3. Sampai kapanpun, kemajuan perempuan itu ternyata menjadi faktor penting dalam peradaban bangsa.

Meskipun saya tak mempersoalkan "perempuan" dan "laki-laki", namun mau tidak mau gender berpengaruh dalam aspek kehidupan kita.

Ya salah satunya dalam kehidupan rumah tangga itu tadi. Tidak akan bisa dalam satu rumah tangga ada dua "sopir". Dalam mobil saja, pengemudinya hanya satu, kok.

Kenapa peran perempuan memengaruhi peradaban bangsa? Karena perempuan adalah "guru" pertama yang dilihat dan ditiru seorang anak. Sebelum memasuki fase belajar di sekolah, perilaku ibunya akan dicontoh anak-anaknya. Itu sebabnya seorang ibu harus pandai-pandai menjaga sikap dan "lidahnya".

Para generasi muda sekaligus penerus bangsa sangat bergantung dengan pendidikan dari ibunya.

4. Jangan pernah menyerah jika kamu masih ingin mencoba. Jangan biarkan penyesalan datang karena kamu selangkah lagi untuk menang.

Lebih baik gagal setelah mencoba daripada gagal karena takut dengan ilusi pikiran sendiri. Tidak ada yang lebih menyesal dari kegagalan karena takut mencoba.

Setidaknya, kita telah bermimpi dan berusaha. Jika hanya bermimpi saja, mustahil untuk bisa mewujudkan mimpi. Dan, mimpi adalah hak semua orang tanpa terkecuali. Yang membedakan hanya usahanya.

5. Terkadang, kesulitan harus kamu rasakan terlebih dulu sebelum kebahagiaan yang sempurna datang kepadamu.

Dunia tidak menjanjikan selalu dipenuhi kebahagiaan, maka jangan memusuhi kesulitan. Semua orang punya kesulitan masing-masing, hanya saja dalam bentuk yang berbeda.

Ada yang kesulitan dalam hal ekonomi, ada yang kesulitan dalam hal kesehatan, dan lain-lain. Semua itu bukan untuk diperbandingkan, tapi untuk ditapaki langkah per langkah agar menemukan kebahagiaan (karena telah berhasil berjuang melewati kesulitan).

Seperti pepatah, berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian. Sakit dulu, baru senang kemudian.

6. Tiada barang mustahil di dunia ini! Dan sesuatu barang yang hari ini kita teriak-teriakkan mustahil sama sekali, besok merupakan kenyataan yang tidak dapat disangkal!

Tiada yang tidak mungkin di dunia ini. Panas bisa tiba-tiba turun hujan, badai pun bisa tiba-tiba muncul pelangi.

So, belenggu pikiran yang berkata "tidak mungkin" harus dipenggal dan dibuang jauh-jauh. Jangan pernah mengikuti kehendak diri yang negatif, tapi berusahalah keluar dari zona nyaman dan berpikir "bisa!".

7. Marilah wahai perempuan, gadis. Bangkitlah, marilah kita berjabatan tangan dan bersama-sama mengubah keadaan yang membuat derita ini.

R.A. Kartini mengajak para perempuan untuk terus melangkah melawan segala stigma dan keterbatasan. Semoga belukar yang telah beliau tebas akan menjadi jalan lapang bagi Kartini zaman now untuk tetap berkarya dan berusaha sebaik-baiknya bagi negeri ini.

Akhir tulisan, saya ingin mengenang beliau (sekali lagi) dengan menyanyikan sebait lagu Ibu Kita Kartini karya W.R. Soepratman.

Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia