Tok! Terdengar suara palu yang diketokkan di atas bantalan kayu meja pengadilan agama. Seketika aku merasakan sejuk dari ujung kepala sampai ujung kaki. Bagaikan siraman mata air setelah perjalanan panjang di gurun pasir yang tandus.

Hari itu adalah tonggak bersejarah bagi saya kembali menjadi diri sendiri. Kembali bisa merasakan bahwa badan ini punya kepala untuk berpikir, kaki untuk melangkah, dan tangan untuk memilih yang saya inginkan. Setelah bertahun-tahun bergumul dengan toxic marriage yang menghabiskan seluruh energi, baik pribadi maupun keluarga terutama orang tua, bahkan harus kehilangan salah satu dari mereka karena tak mampu menyaksikan anak satu-satunya mereka harus merasakan beban yang sedemikian besar.

Ketidakberesan dalam perkawinan saya sudah bisa dirasakan dari awal pernikahan. Karakter yang keras dan mendominasi bisa saya maklumi. Saat itu saya berpendapat laki-laki adalah pemimpin. Pemimpin memiliki kekuasaan semi absolut demi kemaslahatan negara kecil yang bernama keluarga. Surga adalah hal mudah bagi wanita. Karena surat sakti yang ber-stempel ridho ada di tangan suami.

Pemakluman itu berakhir saat kebohongan demi kebohongan terungkap. Sosok surgawi yang saya kenal hanyalah sebatas pendongeng pengantar mimpi. Mimpi tentang dongeng kitab suci yang tak lagi menyejukkan tapi memuakkan, penuh kemunafikan. Lisan tak sejalan dengan tindakan. Kata-kata serta perlakuan kasar menjadi makanan sehari-hari untuk hal yang kecil sekalipun.

Saat semua aset pibadi sudah dipindah-tangankan, kemudian saya menjadi pesakitan atas berbagai penipuan yang terjadi dengan pihak-pihak lain tanpa pernah tahu asal-usulnya, lepas sudah semua komitmen janji suci. Tak mau lagi keloro-loro hidup bersama seorang gold digger yang naik level menjadi gold robber, saya dengan tekad bulat memilih: Cerai!

Kisah “sukses” ini menginspirasi beberapa teman untuk hijrah diri, istilah yang lebih saya sukai daripada kata cerai. Sementara di sisi lain, yang mencibir dan menganggap sebagai keputusan yang selfish dan sembrono pun tak kalah banyaknya. Selalu ada dua sisi mata uang dari setiap permainan. Di mana ada pros, di situlah muncul cons.

Seorang kawan, sebut saja Sigit, mengaku terinspirasi untuk memberi semangat sang kakak dari perkawinan yang penuh dengan KDRT. Deni, seorang kawan medsos, memutuskan untuk give up dengan pernikahan 9 tahunnya karena memiliki mantan yang belum bisa move on dari masa abegeh. Ada lagi Rindang (nama samaran) yang akhirnya berani meng-hijrah diri dari suami 3 P: pemalas, penuntut, penipu.

Tantangan pertama dalam proses hijrah diri biasanya justru dari keluarga. Keluarga dekat biasanya alih-alih menasihati sering kali berperan sebagai superhero kesiangan yang justru memperkeruh masalah. Walaupun ada juga orang tua yang punya pandangan lebih terbuka, sehingga mendukung keputusan si anak untuk berpisah.

Pilihan menjadi sendiri kembali adalah ketidaklaziman dari yang dianggap lazim, yaitu mempertahankan perkawinan. Tak ayal, saat menghadiri undangan-undangan semacam Slametan atau acara gathering bersama tukang sayur, keluarga akan disibukkan pertanyaan semacam: Kabarnya si A gimana? Kenapa harus cerai? Ada orang ketiga ya? Kok gak kasihan sama anak sih?

Kalimat terakhir tentang anak, jika sudah memilikinya, adalah pertimbangan terberat kedua sebelum memutuskan untuk ber-hijrah diri. Tak bisa dimungkiri, beberapa penelitian mengungkapkan bahwa anak hampir dipastikan akan jadi korban. Mereka akan dilabel sebagai anak broken home. Produk rumah gagal itu menghasilkan anak-anak madesu (masa depan suram) bahkan dipercaya tidak punya masa depan. Wow!

Kenapa saya tempatkan anak sebagai pertimbangan berat kedua? Lha yang pertama apa? Emang anak gak penting ta? Hmm sebentar. Bukankah anak itu hadir karena ada kita? Dalam arti sebagai salah satu penyebab mereka lahir ke dunia. Ini bukan seperti pertanyaan: lebih mana dulu telur atau ayam

Orang tua adalah dewasa pertama sekaligus pelaku yang pertama merasakan hantaman psikologis sebelum si anak. Sehingga pertimbangan terberat pertama yang harus disiapkan amunisi jiwa adalah diri kita sendiri, orang tua.

Menjadi istri seorang perwira menjadikan kakak perempuan Sigit tak kurang apa pun. Status sebagai priyayi. Rumah berada di kawasan bergengsi di ibu kota. Kendaraan tak lagi sekadar keluaran Asia Timur Raya. Tapi harus berdarah-darah bertahan dengan penyiksaan lahir batin.

Lahirnya anak-anak tak mampu meredam tabiat sang suami. Tubuh yang kurus kering didera bermacam sakit menjadikan suami makin menjauh. Ia berdalih bertahan demi masa depan anak-anaknya. Apakah menurutnya definisi bahagia adalah orang tua yang berkorban demi anak-anaknya? Entahlah.

Rindang beda lagi. Anak yang ia khawatirkan akan terganggu jiwanya saat hijrah diri, justru makin ceria di tengah-tengah keluarga barunya. Rindang mengaku, saat keputusan itu dibuat, seluruh keluarga seperti ibu dan kakaknya turun tangan. Mereka mengambil alih tugas pengasuhan si anak sementara Rindang harus mencari nafkah.

“Alhamdulillah, Z sekarang mondok di pesantren X. Dia sendiri yang mutusin lho te! Padahal dulu waktu ayahnya masih di sini, dia justru anaknya cengeng dan penakut,” jelas Rindang melalui sambungan telepon.

Sementara Deni, sadar bahwa pemakluman yang ia berikan kepada mantan istri dulu adalah tindakan yang salah. Anak yang menjadi alasan ia bertahan, justru lebih nurut dan memilih tinggal bersama nenek yang selalu ada ketika dibutuhkan. Sedangkan sang mantan melenggang tanpa pesan selama bertahun-tahun.

Deni, seorang pengagum Dian Sastro, tampaknya harus bertanya kepada sang idola, tips untuk bisa sparkling, simmering, splendid walaupun harus menerima kenyataan perpisahan orang tuanya dan lebih banyak bersama eyangnya.

“Aku harus jadi 'pohon' untuk anakku,” curhatku pada seorang sahabat. Dia hanya tersenyum dan berkata, “Tidak! Kamu hanya butuh jadi manusia.”