Mungkin ini sedikit aneh, sebab kamu mungkin akan berpikir bahwa manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan manusia lain. Ya betul, mungkin beberapa orang merasa bahwa bergaul dengan banyak teman akan meningkatkan kebahagiaan diri. Tetapi apakah betul itu juga berlaku bagi sebagian orang tertentu lainnya?

Sebuah studi yang diterbitkan British Journal of Psychology menyimpulkan bahwa orang-orang pintar akan cenderung memiliki sedikit teman. Mereka yang memiliki kecerdasan tinggi sebenarnya merasa lebih bahagia saat mereka tidak berkumpul dengan temannya.

Tapi ya bukan berarti jika kamu punya banyak teman maka kamu bukan orang cerdas. Baiklah, mari kita jabarkan. 

Jadi begini, marilah kita berpikir tentang obrolan apa saja yang sedang diperbincangkan dalam sesi pertemuan dengan kawan, terlepas hanya satu kawan maupun lebih. Apakah kalian lebih cenderung menggosipkan orang lain? Atau saling membuka rahasia orang lain? Jika memang begitu, tentu saja saya akan berpikir bahwa bergaul dengan cara semacam itu hanya akan membuang-buang waktu.

Tidak memiliki teman sebetulnya akan menjauhkan kamu dari beberapa risiko, salah satunya adalah risiko digosipkan. Contohnya seperti ini; A bergosip tentang si B di hadapanmu, maka pikiranmu akan mempertanyakan apakah apa yang dikatakan A itu benar atau tidak. Karena si A mengatakan hal yang buruk tentang si B, maka respons pikiranmu kemungkinan besar adalah membenci. 

Hanya ada dua respons nyata yang bisa kamu lakukan, menanggapinya atau tidak menanggapinya. Jika kamu menanggapinya, maka kamu adalah bagian dari manusia yang juga menggosipkan B, dan bukan tidak mungkin jika A akan membahas tanggapanmu tentang B pada kesempatan lain dan kepada orang yang berbeda. 

Pilihan yang kedua adalah tidak menanggapi. Tentu kemungkinan kamu dianggap orang yang ignorance dan nggak asyik itu pasti ada. Semua pasti ada risiko, bukan?

Oh tidak, teman saya ini beda. Dia teman dekat saya, ia tidak akan bilang ke siapa pun. Saya yakin itu.

Baiklah, tunggu dulu, apakah kamu yakin teman dekatmu itu tidak memiliki teman dekat yang lain? Dan teman dekatnya yang lain tidak memiliki teman dekat yang lainnya juga? Begitu seterusnya.

Berhenti menceritakan segala rahasia apa pun pada seseorang, kendatipun itu hanya sekadar iseng macam melempar botol ke tong sampah dari jarak jauh. Sebab, menceritakan hal yang tidak penting saja bisa jadi membuatmu terjerembab ke dalam hal yang merepotkan.

Ini sebuah kisah nyata yang saya alami. Seorang gadis berusia 25 tahun bernama Tuti baru saja memiliki kekasih bernama Darto. Gadis ini tampaknya memiliki niatan berdekatan tempat kost-kostan dengan Darto (kebetulan saya bertetangga dengan Darto).

Ia kemudian menanyakan segala fasilitas yang ada di dalam kost tempat saya tinggal. Singkat cerita, kami sering membicarakan tentang beberapa hal, contohnya dalam hal hubungan. Saya tak segan-segan mengatakan bahwa jangan jatuh cinta terlalu dalam, jangan terlalu percaya, sebab patah hati itu sakitnya bukan main.

Esoknya seorang kawan mengatakan bahwa saya ingin sekali dekat dengan si Tuti hingga saya mengundangnya untuk berpindah tempat tinggal di rumah saya. Gosip ke-2, seluruh teman Darto merasa saya adalah manusia jahat karena Tuti mengatakan bahwa saya pernah menghasutnya agar tidak terlalu mempercayai Darto dan kawan-kawannya.

Saya bisa membayangkan mengapa gosip ini menjadi sangat berubah jika sampai di telinga orang lain. Begini; ketika Tuti dan Darto sedang pacaran, mereka kehabisan bahan perbincangan, lalu Tuti membuat perbincangan tentang saya dan membesar-besarkannya supaya terdengar menjadi topik yang serius sehingga membuat momen perbincangan mereka menjadi panas seperti acara gosip para artis. Bahan gosip itu kemudian diceritakan pada orang lain dan diceritakan sesuai persepsi masing-masing.

Ada lagi. Seorang kawan bernama Yudis ingin sekali datang berkunjung ke rumah baru saya, tetapi saya benar-benar tak ingin diganggu olehnya. Ketika saya ditanyai oleh Nani tentang hal ini, saya menjawab bahwa saya tak ingin dikunjungi oleh Yudis karena dia adalah anak yang terlalu sembrono dalam beberapa hal. 

Nani tentu setuju dengan hal itu sebab Nani juga sering sekali direpotkan oleh Yudis. Esoknya, tanpa sepengetahuan saya, Nani mengatakan kepada Yudis tentang apa yang saya katakan.

Sungguh, mengapa bersosial dengan manusia menjadi begitu merepotkan?

Ada lagi. Berhenti menjadi pahlawan. Semua orang menganggap dirinya pahlawan, seolah menjadi penasihat paling ulung yang pernah ada di dunia ini. Menjadi penasihat supaya ia dianggap menjadi teman yang pintar atau mungkin berusaha mendorong kawannya menuju hal yang baik, menurut pemikirannya. 

Ada banyak kemungkinan, kemungkinan bahwa apa yang kamu katakan itu belum tentu terbaik untuknya dan yang kamu nasihatkan belum tentu membuatmu baik-baik saja. Tentu kamu pernah dong menasihati kawanmu yang tak bisa meninggalkan kekasihnya setelah berkali-kali diselingkuhi?

Saya tentu tak ingin mendorong diri menjadi anti-sosial. Tetapi kita tahu bahwa saat ini banyak orang mengalami adiksi dan berlomba-lomba menjadi sosialita. Bahkan banyak orang mengalami depresi karena merasa sendirian. 

Tahun 2018 ini, teknologi semakin canggih. Jika lapar, kamu bisa menggunakan Go-food; kehabisan bensin di jalan, bisa Go-shop; atau panggilan darurat bebas pulsa di 110. Sungguh, ada banyak cara untuk tidak selalu bergantung atau merepotkan orang lain, sebisa mungkin. Menjadi mandiri tentu tak ada ruginya.

Bossy Bos Lady's Brother pernah mengatakan, ‘It is more fun to hangout with yourself.” Percayalah, itu benar adanya. Terkadang sendirian dan tidak mempedulikan apa pun itu lebih menyehatkan daripada sibuk bersosial tetapi tak ada faedah yang baik di dalamnya. Hangout with yourself! And do everything you wanna do! Kalau kata saya mah, asyik sendiri juga tak apa.

Jika tak punya teman tetapi masih digosipkan, maka sekali-kali kita perlu mendengarkan perkataan si Bossy Boss Lady's Brother: “Let them talk baby, let them talk. And then, throw them in the garbage after that.”