"Tuhan, aku mau cerita!"

"Silakan, Anakku."

"Eh, mau bertanya. Boleh?"

"Apa yang mau ditanyakan, Sayang?"

 "Ada seseorang yang sudah cukup lama kukenal. Dia baik. Sangat baik. Dia tidak terlalu tampan. Tapi memesona dengan caranya sendiri."

"Hmm, kau suka dengannya?"

"Iya. Hehe. Dia sabar menghadapi aku yang terlalu manja ini. Bisa mengingatkanku untuk tetap berpijak di tanah saat imajinasi dan egoku sudah terbang terlalu tinggi."

"Lalu?"

"Dia itu pemain basket di sekolah kami, dia kaptennya. Aku juga sering melihatnya bermain gitar di halaman belakang sekolah. Kami sudah berteman sejak kecil tapi aku baru tahu kalau dia bisa memainkan gitar."

"Dia pandai berteman?"

"Iya, temannya banyak."

"Apa ada masalah?"

"Akhir-akhir ini dia sering terlihat kesal. Sepertinya ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku."

"Kenapa tidak kau tanyakan langsung?"

"Tidak, Tuhan. Aku tidak bisa menemukan kalimat yang tepat. Aku takut hal itu malah akan membuatnya kesal. Aku takut dia berbalik membenciku."

"Tidak akan ada kebencian bila saling terbuka. Prasangkalah yang akan mendatangkan kesalahpahaman."

"Baiklah, akan aku coba tanyakan. Aku merasa ada yang aneh dengan perasaanku, Tuhan. Kenapa aku merasa gelisah bila dia jauh dariku? Kenapa aku sedih kalau dia lebih asyik dengan kesibukannya daripada berbincang denganku? Aku bingung kalau dia tidak menghubungiku. Ada apa sebenarnya?"

"Katamu kau menyukainya, tentu saja seperti itulah rasanya."

"Apakah wajar anak seumurku merasakan ini?"

"Kenapa tidak? Perasaan nyaman saat menyayangi seseorang itu bisa dirasakan oleh siapa saja dan itu wajar, Sayang."

"Menyayangi? Aku menyayanginya begitu? Aku kira hanya suka saja."

"Tanyakan pada hatimu, bukan kepadaku"

"Orang dewasa juga merasakan ini?"

"Semua orang bisa merasakannya, Abbey."

"Juga papa dan mamaku yang sudah berpisah?"

"Ya, mereka juga. Tapi konsep menyayanginya sudah berbeda. Nanti akan ada saatnya kau akan mengerti."

Abbey menghela napas. Masih banyak hal yang membuatnya penasaran.

"Satu lagi, Tuhan. Apa Kau mengijinkan malaikat-Mu itu  menemaniku makan di kantin sekolah? Hmm, besok? Sepulang sekolah? Aku ingin menanyakan beberapa hal padanya seperti yang kubilang tadi."

"Tentu."

Abbey tersenyum, "Terima kasih, Tuhan."

"Nah, sekarang tidurlah Abbey. Sudah larut."

"Boleh aku menghubungi-Mu lagi besok malam? Aku akan punya banyak cerita kan?"

"Tentu saja boleh, Abbey. Tidurlah."

"Terima kasih lagi, Tuhan."

"Anytime, Abbey."

"Selamat malam, Tuhan."

"Selamat malam."


Abbey menutup aplikasi pesan instan di gawainya.

Logout.

Lalu memejamkan mata.

~~~

Gadisku


Gadis namanya.

Dia kekasihku.

Tak perlu ditanya seberapa besar sayangku padanya. Tak perlu ditanya pula apakah aku akan memperistrinya. Jawabnya pasti iya.

Gadis suka sekali warna kuning. Kuning warna yang ceria, katanya. Warna yang segar, seperti sinar matahari.

Aku mengenalkannya pada tokoh Klenting Kuning dari cerita rakyat Ande-Ande Lumut. Tidak ada hubungannya memang dengan kegemarannya akan warna kuning, namun sosok itulah yang pertama terbayangkan olehku saat mendengar kata kuning.

Beberapa hari belakangan ini, sering sekali Gadis hadir dalam mimpiku. Dia datang mengenakan baju berwarna kuning, tersenyum manis sambil membawa setumpuk kertas lipat yang juga kuning.

Aku pernah berjanji akan mengajaknya ke teater pementasan kisah 'Klenting Kuning' di kota sebelah. Dia senang sekali. Katanya kami harus bisa seperti Klenting Kuning dan Ande-Ande Lumut yang tetap bersatu walau banyak sekali penghalangnya. Tentu saja, jawabku. Maut pun harus mengalah pada kita.

Malam itu kami berangkat dengan mobil ayahku, aku dengan jaket kulit kesayanganku, dia dengan minidress kuning yang membuatnya terlihat sangat cantik. Perjalanan kami akan sedikit memakan waktu karena jarak dan kondisi jalan basah setelah hujan. Aku mengendarai mobil dengan hati-hati sambil sesekali mencuri pandang pada Klenting Kuning-ku ini.

Ah, kekasihku, calon istriku, betapa cantik dia malam ini. Lamunanku terbang, membayangkan saat kami akan bersanding nantinya. Tapi tiba-tiba aku terbangun. Oh, sial.

Apakah semuanya cuma mimpi?

Mungkin saja, rasanya lama sekali aku tertidur. Ibu dan ayah bisa marah. Gadis juga bisa kesal sekali menunggu kedatanganku. Bukankah malam ini kami berjanji akan melihat pagelaran Klenting Kuning itu?

Aku harus bergegas.

Namun tiba-tiba pandanganku gelap.

***

Tunggu, di mana ini?

Apa yang terjadi?

Tunggu, siapa itu yang sedang digotong?

Kenapa ramai sekali di sebelah situ?

Aku coba mendekat walau perlahan, kulihat tubuhku dibawa ke suatu tempat asing. Kalau itu benar adalah tubuhku, lalu siapa aku yang ini? Ada apa sebenarnya? Ada banyak sekali orang mengelilingiku disana. Ada Gadis juga.

Iya, itu Gadis.

Gadisku, Klenting Kuningku, calon istriku.

Kenapa Gadis memakai pakaian hitam?

Kenapa bukan kuning?

Kenapa dia menangis?

Kenapa semua orang menangis?

Kenapa mataku yang ini ikut menangis?