16482_36180.jpg
www.pexels.com/photo
Puisi · 1 menit baca

Percakapan Ringan di Papan Catur

Percakapan Ringan

“aku sedang merunut almanak peristiwa reformasi, apakah bapak salah satu saksi?”

aku hanya seorang tukang pintu, nak. pekerjaanku memastikan sebuah pintu dapat tertutup dan terbuka sama baiknya. tapi aku bukanlah pengukir pintu. jika kamu mengetuk sebuah pintu, pastikan ia tuan rumah dan kamu sedang bertamu. pintu yang macet bermula dari engsel yang berkarat atau kendur. saat itulah kamu akan mengingat jasaku. namun aku tak memiliki mata kunci. hanya sebuah gerinda untuk meratakan kayu.

“apa bedanya dengan pengukir pintu?”

mereka hanya mempercantik muka pintu. mengukirnya dengan presisi dan estetika. semakin bagus penampilannya ia akan semakin mahal. semakin sulit juga kau dekati, karena pemilik pintu ini bukanlah orang yang sembarangan. rumahnya jadi semacam kastil. semakin eksotis, dan mistis.

“aku hanya temukan sedikit petunjuk di kamus lama.”

mungkin kamusmu sudah menua, sudah banyak lupa.

“menurutmu aku harus kemana mencari jejaknya?”

cobalah sesekali melihat genangan mata di setiap kamis senja.

“kau bisa mengantarku?”

kalian saja yang muda, saya sedang sibuk mengubur batu, membuat jendela.


Sajak Asing

sekuntum miang berjelaga di senja,

bisa pagi, bisa menusuk kepala

sewaktu-waktu kala hujan ronta membisa

tapi ia bukanlah desis ular pemicu makar

sepasang kuduk yang baru saja menanam lumut di surganya

tanah ranum penggoda mahluk angkasa jauh

berjanggut bakunin dan pernah kau cela dengan mesra:

otoritasmu lenyap pada janji-janji putih yang terlalu kedap

membungkus bau kelamin

biarlah teruar gembur rawat jutaan flora

serupa rimbun agama

gerimis yang asing tak lencang menitah

sajak menjajah bahasa mata


Papan Catur

pada sore yang silam di hangat ruang tamu

ada hati yang luang menjajal gelak istana kayu

langkah yang rawan tak lantas mempermainkan hati

meski bidak bertarung merengkuh valhallanya sendiri

ritus waktu melesat rubah arus angin

ada ruang yang retak oleh takdirnya masing-masing

pada sore yang hilang,

hidup adalah siasat

kau dan aku adalah tamu yang mengasing


Amygdala

dari setapak bahu paling kau tahu

sejauh khayali paling kau peram

kita pernah setuju menunggu waktu

tiada wajah paling abadi

selain kukuh betonan memori:

ranum mentega tercium lama di kedai roti tua

tautan mata muda yang beradu di toko kamera

gambar epos sehati di pintu rumah lama

kursi batu setaman

pelepas rikuh di braga

kita, dan orang-orang yang memesan senja

susuri satu-persatu etalase

bangunan kota yang menua

sauh gemuruh hati kecil

ada janji yang entah adanya

sampai ujung

perempatan jalan

saling mengerti

saling memisahkan


Bojongsoang, 2018