Pemerhati Kamu
6 bulan lalu · 17 view · 8 menit baca · Cerpen 41493_32801.jpg
Foto: FAIZALREZA-WordPress.com

Percakapan dengan Kenangan
Cerita Nakula dan Lati (iv)

Nakula dan Lati mungkin menyadari atau mungkin tidak. Kebahagiaan di dalam cinta bisa mengalir begitu saja. Setiap objek bisa menjadi indah dalam imajinasi mereka. Mereka mengarang cerita dari sesuatu yang tak ada. Mereka mengkhayalkan dirinya sebagai singa dan koala yang berjumpa di hutan belantara. Mereka membayangkan sebuah kahyangan.

Mereka bisa membayangkan apa saja di dunia ini. Bahkan mereka membayangkan perjumpaan yang hanya akan berlangsung selama tiga hari sebagai perjumpaan selamanya.

Biarkan imajinasi menemukan keindahannya. Biarlah kemudian kenyataan membunuhnya.

“Kamu tahu apa yang aku rasakan saat kehilangan kamu? Aku kehilangan dongengan-dongengan yang kita buat”.

Gerimis baru saja menyentuh bumi. Mengusik pasangan muda-mudi untuk mencari tempat-tempat yang teduh. Tapi gerimis tak benar-benar hendak mengusik kebahagiaan mereka. Tak lama kemudian, setelah beberapa tetes terakhir mengetuk dan membasahi bumi malam itu, gerimis memilih tak datang lagi.

Nakula dan Lati sudah duduk kembali di kursi yang tersedia di sepanjang trotoar di titik nol kota itu. Mereka berdua baru saja datang dari alun-alun kota menyaksikan malam, menyaksikan keindahan-keindahan.

Kadang mereka tertawa lucu melihat beberapa orang dengan matanya ditutup berjalan ke arah suatu pohon yang dipercaya memiliki kekuatan mistis. Mereka tidak mencobanya. Dalam hati juga ada perasaan takut jika mereka gagal mencapai pohon itu. Mereka tidak ingin merebut kebahagiaan melalui percobaan itu. Mereka akan melakukan sebaik mungkin untuk meraih kebahagiaannya dengan caranya sendiri.

Nakula memandang Lati. Perempuan itu melanjutkan:

“Aku merindukan kata-kata yang gila, yang mengalir begitu saja. Kamu membawaku ke dunia yang tak benar-benar ada. Tapi aku suka. Bukankah perjumpaan-perjumpaan kita semula menjadi mesra dalam dialog yang tak pernah buntu oleh cerita-cerita?”

Lelaki itu masih terus diam sambil menatap gerak bibir perempuan di depannya, gerak bibir yang tak tahan untuk tak mengungkap segala kerinduan hatinya pada segala yang menyangkut kenangan. Lelaki itu menduga-duga: bila cerita tentang kenangan diulang-ulang dalam perbincangan, ada kemungkinan dia ingin mengulang lagi tentang cerita-cerita lama itu.

Tetapi lelaki itu tetap diam.

“Aku pernah sebahagia itu bersamamu. Hanya dengan permainan kata-kata yang kamu buat. Aku bisa sebahagia itu membayangkan khayalanmu tentang rimba: kita berseiring dalam setiap langkah. Aku sebahagia itu saat membaca cerita-ceritamu. Dan sampai saat ini, aku masih mengingatnya”.

Seorang pengamen berjalan di depan mereka. Menyanyikan sebuah lagu sembari berlalu begitu saja. Tapi mereka dapat mendengar sepenggal lirik yang diiringi gitar: too much love will kill you…

Pernah ada sebuah cinta yang takarannya begitu banyak dan berlebihan barangkali, dan itu membuatnya terikat kuat hingga lupa bahwa cinta bukanlah sesuatu yang abadi. Oh mungkin cinta bisa abadi, tapi kamu atau dia bisa pergi.

“Kamu benar-benar seorang petualang dalam dongeng-dongeng yang tak pernah usang dalam diriku. Jangan-jangan kamu bukan menulis cerita tapi mantra?”

“Aku menulis cerita”, bantah Nakula.

“Kamu menulis mantra dan aku dibuat tak bisa pergi darimu”.

“Aku bukan dukun. Aku hanya menulis cerita”.

“Aku tidak percaya. Katakan itu bukan cerita tapi mantra. Oh jangan-jangan, kamu bungkus sebuah mantra seperti sebuah cerita?”.

Dan perempuan itu terus menuduh lelaki itu sebagai penulis mantra bukan cerita.

“Sekarang yang gila siapa? Yang tidak bisa membedakan mantra dari cerita biasa?”

Mereka akhirnya tertawa.

*

Setiap hari dan malam, mereka habiskan untuk berjalan dari satu tempat ke tempat lain di kota itu. Mereka mengunjungi tempat-tempat yang menurut mereka menyenangkan. Mereka ingin menyenangkan hatinya sebelum perpisahan.

“Apa yang kamu rasakan dari sebuah perpisahan?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari Lati. Kedua matanya menumbuk Nakula. Dia menunggu sebuah jawaban dari lelaki itu.

“Keindahan”.

“Kamu menutup diri. Kamu tidak jujur. Kamu terlalu takut untuk diketahui kesedihanmu”.

“Aku membayangkan kebahagiaan. Aku merekayasa kenyataan dengan lukisan khayalanku yang menyenangkan. Aku membayangkan perpisahan sebagai sebuah seni pembunuhan yang tak mematikan”.

Nakula merasakan sakitnya perpisahan. Dulu dia tidak mengerti bagaimana kerja sebuah perpisahan. Dia membayangkan sesederhana mungkin: perpisahan adalah sebuah hal biasa yang tak perlu mengundang derita. Atau dia membayangkan: waktu memiliki caranya sendiri untuk mengobati. Tapi lain sekali apa yang digagahkan pikiran dan dirasakan perasaan mana kala dia sendiri merasakannya. Dia benar-benar tengah berjuang untuk melupakan.

“Kamu membayangkan aku sebagai pembunuh?”.

“iya. Tapi aku tak mati”.

“Bukannya itu menyenangkan: dibunuh tapi tak mati?”

“Seseorang kadang berpikir kematian adalah jalan pembebasan saat kehidupan menanggung beban berat penderitaan”.

“Bagaimana kalau aku membayangkan aku juga sedang bunuh diri?”

“Itu kebodohan yang tak perlu dimaafkan”.

Perempuan itu tak tersinggung. Dia pun tertawa geli.

“Tapi aku tak kan berhenti. Kamu pernah bilang: untuk membunuh kenangan, rajutlah masa depan. Maka, aku mengikuti saran-saranmu. Aku mula-mula membayangkan tentang kehadiran perempuan-perempuan lain. Lalu sebuah keberanian atau kegilaan imajinasi membawaku pada tindakan-tindakan nyata”.

“Apa?”

“Kamu mencari seseorang yang lain? Kamu ingin meninggalkanku?”

Lati jadi gelisah. Ada marah yang tak dapat tertahan dan jadi nampak pada wajahnya. Tapi lelaki itu tidak peduli. Dia ingin berbicara jujur di malam itu.

“Dengarkan aku. Aku bermain-main kata dengan siapa pun? Beberapa di antaranya membalasku. Ada yang mengimbangi kegilaanku. Ada yang tertahan dengan perasaan malu. Tetapi aku tak peduli. Aku hanya ingin berbahagia. Kadang aku butuh kebahagiaan yang tak perlu punya alasan”.

“Kamu gila”.

“Iya aku gila. Dan jangan hentikan aku berbicara jujur”.

Lelaki itu menatap perempuan itu dengan sebuah isyarat. Perempuan itu mengiyakan.

“Seperti aku merayumu”, lelaki itu melanjutkan,“kata-kata selalu menjadi cara yang menarik. Mungkin karena aku tak punya cara lain. Jadi itu terlihat sebagai cara paling asik. Dan salah seorang dari mereka, seseorang yang semula begitu cuek, akhirnya mulai akrab denganku. Aku merasakan kita mulai asik. Aku ajak dia untuk belajar menulis karena aku tau dia menyukai sastra tapi tak bisa menulis. Aku ajak dia memulai dengan catatan harian. Aku bilang aku siap untuk mengajarinya tiap hari dan dia setuju dengan masih malu. Aku bilang: sia-sia malu kepada orang gila. Dan dia hanya tertawa”.

“Kamu mencintainya?”

“Cinta?”

Nakula membayangkan tentang sebuah harapan di masa lalu. Sesuatu yang dia rajut secara perlahan dari perkenalan. Dia pupuk dengan memberinya kebahagiaan-kebahagiaan kecil. Dia penuhi permintaan-permintaannya. Dia bersedia jadi tempat untuk bermanja ria atau menampung keluh kesahnya. Dia pikir itu adalah sebuah perjuangan untuk sebuah harapan yang dia namai cinta.

Tapi toh akhirnya dia juga sadar atau lebih tepatnya disadarkan oleh kenyataan. Perjuangan-perjuangan itu tak benar-benar mempunyai kekuatan. Apa yang dia tanam dalam perjuangan itu tak dapat dia petik dalam kebahagiaannya.

“Kamu menanyaiku tentang sampah? Jangan bercanda. Itu terlalu kotor untuk sebuah keindahan permainan kata-kata”.

Nakula merasakan dalam dirinya sesuatu yang lain. Entahlah apa itu namanya. Tapi ia merangsang suatu kemarahan yang bisa meledak jika tak ia kendalikan dengan kembali menurunkan tensi emosinya.

“Jawab saja. Kamu jatuh cinta?”.

“Aku suka”.

“Kamu ingin serius dengannya?”

Lelaki itu memandang Lati dan mengulangi pertanyaan perempuan itu: “serius?”

Perempuan itu mengangguk. Nakula akhirnya tertawa sebentar. Ada terdengar kesan mengejek tapi juga kecewa pada pilihan kata itu: serius. Kata yang pernah singgah dalam dirinya dalam satu momen tertentu dan kemudian dihancurkan dalam momen yang lain. Kini kata itu muncul lagi melalui Lati, perempuan yang dianggap memberi cacat pada kata itu.

“Kamu mengajarkan aku permainan bukan keseriusan”.

Dia masih dapat mengingat saat perempuan itu meminta agar dirinya tak perlu membebani hubungan mereka dengan sebuah keseriusan. Dia juga mengingatkan bahwa mencintai yang terlalu dalam mengundang penderitaan. Dia menceritakan dirinya saat terjatuh lalu harus bangkit. Sesuatu yang sangat sulit. Tetapi Nakula saat itu tidak percaya. Dia memilih tidak peduli. Setiap orang punya jalan cerita yang berbeda.

Hanya pengalaman terjatuh yang membuat harapannya reda. Dan mulai saat itu, pikirannya jadi gaduh dengan cercaan pada kata ‘komitmen’. Kata-kata itu menjadi sampah. Dia bahkan memandang semua perempuan sebagai sama. Dalam pikiran jahat dan kegilaannya, dia ingin sekali berbahagia dengan perempuan-perempuan mana pun tanpa perlu diikat oleh sesuatu yang kecil dan sepele: cinta. Dia ingin suatu ikatan yang tanpa perlu saling merasa tersakiti jika harus mengakhiri atau tanpa perlu merasa kehilangan jika putus ikatan.

“Aku sekarang membayangkan bagaimana indahnya jika aku menjadi petualang yang sesungguhnya. Aku bisa singgah di satu dahan lalu mencari dahan yang lain. Petualangan yang indah. Aku bisa menemukan banyak perempuan yang rela berbagi bahagia denganku. Lalu pergi. Lalu kita berbagi bahagia lagi. Lalu pergi mencari yang lagi”.

Sebuah jeda memberinya jalan untuk Nakula mengambil nafas, menenangkan gejolak emosi. Dia tidak sadar, pilihan kata yang dia tuturkan mengundang banyak energi. Dia terjebak pada marahnya sendiri. Dia tak sadar kata-kata yang dituturkannya begitu mantap dan kuat. Tak ada yang dia tutupi dari pikirannya yang gila. Sesuatu yang lahir dari luka, dari harapan yang tak datang.

“Jika itu yang kamu maksudkan, aku tak membantah. Aku sedang merencanakan itu. Aku ingin mencari kebahagiaan dengan cara yang lain. Aku ingin mencari seseorang yang tak menuntut ikatan-ikatan”.

“Jahat. Itu jahat sekali. Bagaimana kalau perempuan itu jatuh padamu?”

“Saat dia terbangun nanti, dia dapat banyak pelajaran dari pengalaman jatuh kepadaku. Seperti aku jatuh kepadamu, dan kini aku mengambil pelajaran”.

“Kamu menyakiti orang-orang yang tak bersalah”.

“Aku hanya membantu dia mengerti begitulah resiko mencintai”.

“Kamu tidak perlu melakukan itu kepada orang lain, dia tidak perlu menanggung kesalahan kita”.

“Anggaplah ini hukum alam. Jika dia berani mengambil resiko demi menerima kebahagiaan, dia juga tak kan luput dari penderitaan”.

“Mengapa kamu jadi begini jahat? Mengapa kamu tidak mengendalikan keliaran pikiranmu?”

Lati menangis. Kata-kata yang jujur dan begitu kuat dari Nakula melukai hatinya. Satu sisi dia merasa bersalah telah meragukan sebuah kesetiaan. Dia tidak menyangka itu bisa menyakitkan sekali. Dia rasa dia akan mudah memaafkan sesuatu yang pernah terjadi. Lelaki itu memang tidak menuntut apa-apa untuk kembali, tetapi dia telah merencanakan kejahatan dalam pikirannya. Hasrat dari kegilaannya menggebu-gebu. Dia benar-benar menunjukkan sisi jahat dari seseorang yang terluka.

“Jika yang aku lakukan adalah kejahatan, itu artinya aku lelaki baik yang sedang belajar menjadi jahat. Aku telah memikirkan dengan segala kesakitan yang kuderita bahwa cara terbaik untuk bahagia adalah melakukan hal yang sama pada orang lain”.

“Jika kamu menganggap masa lalu itu jahat, kamu seharusnya tak perlu membalas kejahatan dengan kejahatan …”.

“Sebaiknya kamu diam. Aku tak perlu mendengar orang jahat yang tiba-tiba bicara kebaikan”.

Perempuan itu akhirnya diam. Di hadapannya, bukan seorang manusia. Ia hanya sebongkah batu yang menjelma seorang lelaki. Dia kini kian menjadi keras. Perjumpaan yang dirahasiakannya sebagai momen untuk membenahi hubungan mereka seperti susah. Kebuntuan yang diperbesar oleh pagar ego masing-masing semakin menjauhkan harapan dari kenyataan.

Tapi perempuan itu tak dapat menyembunyikan kejujurannya: dia menyukai lelaki itu biar pun kini ia lebih tampak sebagai batu. Begitu keras.

Lati meyakini segalanya nanti akan menjadi baik. Dia hanya tak ingin buru-buru. Sebagaimana perpisahan menyisakan kesedihan dan kerumitan, maka perjumpaan juga menemui kerumitannya sendiri. Dia menyadari percobaan-percobaan untuk kembali bukanlah barang jadi. Ia sebuah proses yang butuh kesabaran satu hati untuk meyakinkan hati yang lain.

 Perasaan cinta adalah suara lain yang kadang ditindih demi memperoleh terang dari mana perasaan itu datang: dari hati yang dalam atau sekedar hati yang lelah mencari sandaran?