2 tahun lalu · 386 view · 5 menit baca · Politik sir_isaac_newton_by_sir_godfrey_kneller_bt.jpg
Bagaimanakah gerakan politik kaum muda di mata seorang fisikawan klasik yang tersohor?

Perbincangan Imajiner dengan Isaac Newton tentang Gerakan Politik Kaum Muda

Esai ini didasari pengalaman saya bertemu Isaac Newton kemarin, ketika saya tertidur di dalam kelas Mekanika Klasik. Entah kenapa, kejadian tersebut bertepatan dengan materi kuliah yang mencakup Tiga Hukum Gerak Newton, yang hingga sekarang masih dipakai untuk menjelaskan gerakan-gerakan sederhana benda.

Hukum yang menarik, saya kira. Dari tiga hukum tersebut, kita bisa mendeskripsikan kecepatan, gaya, percepatan, momentum, dan parameter fisik lain sebuah benda yang bergerak dengan arah atau cara apapun. Andai saja dosen saya lihai mengajar, materi ini akan menarik. Sayang, beliau membosankan. Mungkin karena itu Pak Ishak, eh, Pak Isaac langsung ambil alih.

            “Hei! Jangan tidur!” ujar Pak Isaac sembari menepuk kepala saya yang langsung terbangun.

            “Lho, Pak Isaac Newton toh! Kok bisa Bahasa Indonesia? Kok hidup?” tanya saya kebingungan.

            “Itu tidak penting. Yang penting sekarang adalah saya bertanggung jawab untuk mengajarimu hukum-hukum saya yang sudah saya buat dengan bersusah payah! Kamu tahu rasanya ketika seseorang tertidur saat diberitahu hasil kerja kerasmu? Kamu jomblo sih, jadi tidak tahu rasanya ketika pacar hanya menganggap hadiah darimu yang sudah kamu beli pakai uang jajanmu sebagai barang murahan,” balasnya dengan nada gusar.

            Belum sempat saya menjawab, Pak Isaac langsung menerangkan kepada saya bahwa hukumnya itu adalah sekumpulan hukum yang hampir omnipoten, setidaknya dalam skala gerakan benda sehari-hari. Mulai dari arus air hingga pesawat terbang, bahkan roket, semua diatur dengan hukum-hukum geraknya. Lalu, beliau pun menerangkan gerakan yang diatur oleh hukum-hukumnya tidak terbatas pada gerak fisik.

Menjalani kehidupan, bercinta, bahkan ketatanegaraan dapat dikorelasikan dengan hukum geraknya. Sesumbar dengan hukumnya tersebut, beliau menantang saya untuk menyebutkan satu unsur kehidupan dan beliau akan menjabarkannya dalam definisi hukum geraknya. Tentu, saya merasa agak kesal dengan sesumbar seorang asing yang tiba-tiba membangunkan saya pakai bahasa negara saya, padahal aslinya orang asing itu berkewarganegaraan Inggris. Maka, saya pun menyebutkan satu unsur yang saya yakin beliau tidak tahu.

            “Gerakan politik pemuda!” kata saya dengan tegas. Dan betul, Pak Isaac terlihat kaget. Namun beliau tetap berusaha tampil kece dengan merapikan rambutnya yang keriwil panjang itu. Tanpa kuduga, beliau mengangguk dengan senyum lebar setelah diam sesaat, tanda menyanggupi.

***

Hukum Pertama

            Pak Isaac memulai penjabarannya dengan hukum pertamanya. Sebelumnya, beliau bercerita panjang lebar tentang pertemuannya dengan Bung Karno yang tiba-tiba saja terjadi di alam sana. Dari hasil berdiskusi dengan Bung Karnolah, beliau tertarik untuk mengetahui lebih dalam tentang potensi pemuda. Beliau mengamati kehidupan pemuda melalui sebuah jendela khusus di alam sana yang bisa digunakan untuk melongok ke alam ini. Hasil observasi itulah yang diterangkannya kepada saya.

            “Yang pertama adalah independensi mereka. Bagaimana mereka cenderung untuk tetap bertahan kepada pemikiran dan nilai diri mereka sendiri untuk bisa maju ke depan. Ini begitu sesuai dengan hukum pertama saya; bahwa benda yang diam dan bergerak secara konstan cenderung untuk mempertahankan keadaan konstannya. Saya mendapati pemuda adalah sebuah objek—atau dalam hal ini, subjek—yang terus bergerak searah dengan pemikiran mereka tanpa ada campur tangan dari pihak lain,” jelas beliau.

            Lanjut beliau, independensi adalah hal yang sangat utama dalam gerakan politik. Beliau tidak terlalu mengerti politik, tapi selain bertemu dengan Bung Karno, beliau mengaku juga sudah berbincang dengan beberapa tokoh seperti Mahatma Gandhi, Martin Luther King Jr., bahkan Malcolm X. dari merekalah Pak Isaac mempelajari bahwa politik pada asasnya adalah sebuah pemikiran, dan sebagaimana pemikiran pada umumnya, ia harus dibebaskan dari pihak-pihak yang ingin menggunakannya dan harus berdasarkan pada observasi terhadap kenyataan.

            “Jadi kalau misalnya ada seseorang yang mati-matian membela negaranya, tetapi dengan mematikan pemikiran dan observasinya sendiri terhadap negara yang ia bela, itu bukan berpolitik namanya. Untung saja, pemuda tidak begitu. Mereka mengamati dulu, lalu bergerak dengan independensi pikiran mereka masing-masing.”

Hukum Kedua

            “Hukum kedua saya jelas; momentum sebuah objek searah dengan arah gaya geraknya. Pada hal ini, saya ingin mendefinisikan momentum, yaitu sebuah besaran fisik yang menyatakan besar dari gerak sebuah benda. Dalam politik, momentum sangat diperlukan, atau begitu apa yang dikatakan Bung Karno kepada saya,” ujarnya.

            Beliau lantas menceritakan kisah perjuangan Martin Luther. Beliau berpendapat bahwa perjuangan untuk hak-hak berpendapat dan menjalani hidup adalah sebuah contoh perjuangan politik, karena pada asasnya politik diciptakan untuk menciptakan sebuah masyarakat yang kondusif untuk semua. Dan dari perjuangan Pak Martin, beliau menyimpulkan bahwa Pak Martin berhasil karena mampu menciptakan sebuah momentum dalam perjuangannya. Orasi-orasinya dan arak-arakan damai yang begitu tersohor itu merupakan sedikit dari penciptaan momentum yang berhasil.

            “Begitu pula kaum muda. Pergerakan kaum muda, karena kedinamisannya, mampu menghasilkan momentum yang sangat besar dan berpotensi untuk ‘mengguncang dunia’ sama seperti apa yang diucapkan Bung Karno. Tetapi ingat! Momentum tersebut searah dengan maksud dan tujuan pergerakannya. Maka itu, kaum muda harus bijak dalam menalar pergerakannya!” tegas beliau.

Hukum Ketiga

            Ketika memulai penjelasan tentang hukum ketiganya, yaitu reaksi berlawanan secara arah dengan aksi, Pak Isaac terlihat sangat bersemangat. Ujarnya, ini adalah senjata kaum muda yang paling ampuh dan mutakhir, tetapi juga berbilah dua; sifat reaksionernya. Independensi kaum muda, serta potensinya untuk menimbulkan gerakan-gerakan bermomentum besar, menyebabkan mereka memiliki sifat reaksioner yang tinggi. Jika ada saja sebuah aksi atau kebijakan yang dirasa tidak berkenan dengan pemikiran mereka, maka pemuda akan bereaksi dengan cepat.

            “Saya juga sempat bertemu dengan Pak Harto. Pada asasnya, beliau cukup mengagumi dan menakuti bagaimana reaksionernya kaum muda pada tahun 1998 dahulu terhadap rezimnya. Sebesar apapun usaha beliau untuk menentang mereka, sebesar itu pula balasan mereka terhadap dirinya. Maka itulah, ia mengaku kepada saya telah melakukan hal-hal yang cenderung... kelewatan,” ujar Pak Isaac dengan nada tidak nyaman. Nampaknya, membicarakan peristiwa 98 juga bisa membuat ilmuwan Inggris ketar-ketir.

            Namun Pak Isaac dengan gesit mengubah topik pembicaraan dengan bilah dua sifat reaksioner tersebut. Menurut pendapatnya, jika ada sebuah kebijakan yang sebenarnya bermaksud baik tetapi bertentangan dengan pemikiran segolongan anak muda, reaksi yang ditimbulkan bisa malah merusak pemikiran.

            “Misalnya, ada sebuah aksi diskusi buku dan ideologi. Tetapi segolongan pemuda merasakan bahwa aksi itu bertentangan dengan pemikiran mereka. Reaksi dari mereka pun datang, dan akhirnya menciptakan kekacauan,” ujarnya. Beliau lalu menghimbau kaum muda untuk melemparkan sifat reaksioner mereka ke arah yang tepat dan dengan pemikiran yang luas dan terbuka.

***

            Seselesainya menjelaskan, beliau langsung menatap saya dengan pandangan mengesalkan dan disertai senyum mengejek. Ditatap begitu, maka saya pun menyerah dan mengakui bahwa hukum geraknya itu memang hampir omnipoten. Saya katakan hampir karena masih belum bisa menjelaskan fenomena kuantum, tapi itu cerita lain. Namun, ada satu hal yang saya ingin tanyakan lagi kepada beliau.

            “Apa pentingnya Bapak menjabarkan politik kepada mahasiswa sains seperti saya, selain untuk menjawab tantangan saya?” tanya saya. Pak Isaac tertawa sambil mengusap kepala saya.

            “Karena kamu adalah mahasiswa sains, mahasiswa yang paling dekat dengan alam. Politik adalah unsur manusia, dan manusia adalah unsur alam. Maka, bukankah kamu adalah salah satu yang paling layak mengetahui politik? Apalagi, kamu mahasiswa. Seorang kaum muda!” ungkapnya sambil perlahan beranjak pergi bersama kabut putih dan asap.

#LombaEsaiPolitik      

Artikel Terkait