Film-film Hollywood lebih sering merekam aksi psikopat laki-laki daripada perempuan. Psikopat perempuan memang jumlahnya lebih sedikit daripada laki-laki dan lebih sulit dideteksi.

Psikopat pria lebih agresif secara fisik sedangkan psikopat perempuan bersikap agresif secara verbal. Kemungkinan mereka untuk menyerang secara fisik relatif kecil. Ini dijabarkan tahun 2012 dalam The International Journal of Women's Health.

Psikopat perempuan banyak menggunakan seks dan kata-kata rayuan, bukan agresi fisik, untuk meraih apa yang mereka inginkan. Sebenarnya psikopat laki-laki juga menggunakan seks dan rayuan, namun mereka bisa berubah buas. Seks dan rayuan lebih dominan diberikan oleh psikopat perempuan.

Xanthe Mallett, Forensic Criminologist dari University of Newcastle, mengatakan bahwa psikopat perempuan banyak yang menyodorkan seks kepada calon korban untuk meraih materi, entah benda mahal atau uang banyak. Mereka juga cenderung cemburuan dan parasitik atau oportunistik.

Dr. Rhonda Freeman adalah seorang clinical neuropsychologist yang pernah menjadi korban psikopat dalam sebuah hubungan yang bersifat abusif. Tentang psikopat perempuan, ia berkomentar seperti ini:

Seduction is a primary manipulative tactic for many women with strong psychopathic traits. Men tend to use their charm, display of power, confidence or arrogance, while many psychopathic women use sex and seduction. All such tactics are forms of manipulation. All lack true emotional depth. All are tools for the individual to accomplish a goal.

Jadi, semuanya, termasuk seks, adalah alat psikopat untuk meraih gol mereka.

Perbedaan psikopat laki-laki dan perempuan dapat kita cermati dari aksi Wati dan Budi, dua psikopat yang benar-benar ada.

Wati adalah guru, anak seorang pemuka agama, dan social climber. Sahabat Wati, sebut saja Kiki, mengurus serangkaian program sosial dengan Andi, seorang miliarder yang berprofesi sebagai event organizer.

Wati mendekati Andi lalu membuat program-program itu batal dilaksanakan. Padahal, Kiki dan Andi sudah ada perjanjian hukum dengan sebuah pihak sehubungan dengan rangkaian program tersebut.

Wati menjegal karena ia ingin dirinyalah yang melakukan acara-acara besar dengan Andi. Kondisinya sebagai psikopat membuatnya selalu haus akan reward. Tentang reward, tahun 2010, dipublikasikanlah sebuah penelitian yang didukung oleh NIH’s National Institute on Drug Abuse (NIDA), Amerika.

Hasil riset menunjukkan bahwa jumlah hormon dopamine yang dilepas oleh mereka yang tinggi tingkat psikopatiknya, ketika diberi reward, ternyata 4 kali lebih besar daripada yang dilepas oleh mereka yang tingkat psikopatiknya rendah.

Sebagai psikopat perempuan, cara Wati dalam memperoleh reward sangat licin. Awalnya ia mendekati Andi, sahabat Kiki, melalui Kiki. Lalu Wati jadi sangat dekat dengan Andi. Wati sering sekali dengan Andi ngobrol tentang Kiki dan memberikan love bombing hampir setiap hari secara terbuka di Facebook.

Kepada suaminya, Wati mengatakan bahwa ia kerap berbagi emosi dengan Andi dan jika mereka sedang berdua lalu Andi menelepon, ia akan mengangkat telepon Andi. Wati menyebut pengakuannya sebagai jaring pengaman yang akan menangkapnya jika ia jatuh. Pengakuan Wati membuat gugur ciri utama perselingkuhan: Dilakukan secara diam-diam.

Ini berbeda dari Kiki. Ia tak pernah menggosip tentang Wati satu kali pun dengan Adi. Ia punya banyak sekali kemiripan dengan Adi. Dari mulai makanan favorit, penyanyi, bahkan sampai lagu dan website favorit mereka pun sama. Namun Kiki tak merasa perlu untuk memberitahukannya kepada Adi. Bagi Kiki, "OK, sama. Terus memangnya kenapa?"

Ini berbeda dengan Wati yang terus-menerus melakukan mirroring terhadap Andi. Love bombing dan mirroring memang adalah dua senajata psikopat saat mendekati korban*. Dua senjata Wati inilah yang menggagalkan program-program Kiki dengan Adi.

Perhatikan karakteristik Wati yang khas perempuan dan pengaruhnya terhadap cara dia memperdayai korban. Profesinya sebagai akademisi juga berpengaruh besar. Ia manipulatif namun taktis dan licin. Sekarang, bandingkan cara Wati dengan cara Budi.

Budi adalah pengusaha  yang kasar dan intimidatif. Ia berpacaran dengan Fenny, seorang pembicara yang sering diundang oleh sekolah-sekolah. Budi mendatangi banyak sekolah dan mengimbau mereka untuk tidak mengundang Fenny lagi sebagai pembicara.

Budi lalu berhasil mendapatkan ribuan email peserta yang pernah datang ke seminar Fenny. Budi mengemail mereka untuk menfitnah Fenny antara lain dengan cara mengirim gambar kondom dengan tulisan, ”Fenny suka ini.”

Budi juga melancarkan ancaman verbal. Saat Fenny berada di sebuah sekolah, Budi menghampirinya, ”Kamu duduk di sebelah saya. Kita makan.” Budi lalu menunjuk seorang pria kekar, ”Fenny, kamu lihat dia? Kalau kamu tidak mau ikut, dia akan menghajarmu.”

Kesimpulannya, psikopat laki-laki maupun perempuan sama saja: Mereka destruktif dan manipulatif. Bagaimanapun, cara mereka dalam beraksi pada umumnya berbeda karena karakteristik mereka sebagai perempuan dan laki-laki juga berlainan.

*Mengenal Dua Senjata yang Digunakan Psikopat Saat Mereka 'Jatuh Cinta