Berdasarkan infomasi yang diperoleh dari risalah 3 agama Abrahamik (Yahudi, Kristen dan Islam) menerangkan bahwa penguasa Mesir yang bernama Fir’aun kekuasaanya sangatlah besar sampai-sampai ia menganggap dirinya sendiri sebagai tuhan. Kemudian ia menghendaki rakyat Mesir menyembah dirinya.

Namun demikian ada satu golongan suku yang menolak mentaati untuk menyembahnya karena berdasarkan ajaran seorang utusan Tuhan dari golongan mereka yang berseru bahwa Fir’aun bukanlah tuhan. Utusan Tuhan tersebut itu mengajarkan bahwa ada Tuhan yang sebenarnya.

Tuhan menciptakan sekaligus penguasa langit dan bumi, Dialah yang seharusnya disembah bukan Fir’aun. Golongan yang menolak menyembah Fir’aun itu adalah Bani Israil dan utusan Tuhan yang dimaksud adalah Nabi Musa atau disebut juga Moses.

Pembangkangan Bani Israil itu membuat Fir’aun murka. Fir’aun lalu bermaksud hendak menumpas Bani Israil dari negeri Mesir. Namun Nabi Musa telah terlebih dahulu mengajak kaumnya yakni Bani Israil pergi meninggalkan negeri Mesir secara besar-besaran atau eksodus. Rombongan Nabi Musa bersama Bani Israil hendak menuju tanah yang dijanjikan Tuhan yang berada di seberang laut merah.

Setelah mengetahui ternyata Nabi Musa bersama Bani Israil telah terlebih dahulu melakukan eksodus, Fir’aun bermaksud hendak mengejar rombongan itu. Dia bersama bala tentara kerajaan Mesir mengejar dengan mengendarai kereta kuda. Dengan bergegas pasukan Fir’aun menghela kereta kudanya sebelum rombongan Bani Israil mencapai Tanah Perjanjian.

Rombongan eksodus Bani Israil akhirnya mengetahui bahwa mereka dikejar oleh pasukan kuda Fir’aun, mereka mempercepat langkahnya. Namun sial bagi mereka, langkahnya terhenti oleh laut merah yang memisahkan negeri Mesir dengan tanah yang dijanjikan Tuhan.

Mereka pun kebingungan karena merasa tidak ada jalan lagi. Disaat terdesak demikian Nabi Musa berdoa kepada Tuhan memohon bantuan. Doa Nabi Musa didengar Tuhan. Lalu dengan kuasaNya laut merah terbelah.

Lautan yang terbelah itu memungkinkan rombongan Bani Israil berjalan di dasar laut yang mengering, diantara dua tembok air laut yang tertahan. Saat belum seluruhnya rombongan Bani Israil mencapai seberang daratan, pasukan berkuda Fir’aun dengan bala tentaranya sudah di belakang mereka. Barisan terbelakang rombongan Bani Israil mempercepat langkah mereka dan akhirnya berhasil mencapai pantai daratan di tanah perjanjian.

Fir’aun berserta bala tentara pasukan berkudanya sudah setengah perjalanan menyeberang laut merah yang terbelah itu, sudah hampir menyusul rombongan Bani Israil. Namun demikian Tuhan kembali menunjukan kuasaNya. Tuhan kembali menutup tembok air laut yang membelah air laut sehingga Fir’aun sekaligus bala tentara berkudanya tewas tenggelam di laut merah.

Setelah kejadian tenggelamnya Fir’aun tidak ada keterangan bagaimana kelanjutan dari imperium kerajaan Mesir. Risalah dalam kitab 3 agama Ibrani secara tidak langsung menerangkan bahwa tenggelamnya Fir’aun di laut merah sekaligus mengakhiri kekuasaan dan kemegahan peradaban bangsa Mesir kuno.

Demikianlah informasi yang kita peroleh tentang berakhirnya peradaban Imperium Mesir kuno jika berdasarkan diktum Teologi. Lalu apakah penyebab kehancuran Imperium dan peradaban Mesir kuno jika ditinjau dari ilmu pengetahuan?

Peradaban Mesir Kuno Berdasarkan Penemuan Arkeologi  

Peradaban Mesir kuno telah ada sejak ± 3000 tahun Sebelum Masehi atau ± 5000 tahun yang lalu. Berdasarkan bukti-bukti temuan arkeologi berupa artefak menunjukan bahwa bangsa Mesir kuno merupakan peradaban yang sangat maju di eranya.

Letaknya di sisi hulu sampai hilir sungai Nil, sebagaimana halnya peradaban kuno bangsa lainnya yang lokasinya juga tidak jauh dari sungai besar. Kondisi tersebut membuat tanah negeri Mesir kuno subur. Kesuburan tanah mesir membawa Mesir kuno ke peradaban yang tinggi.

Dari mengenal bercocok tanam dengan sistim irigasi, menyelenggarakan pemerintahan dengan bentuk monarki, memiliki bahasa dan abjad sendiri yang disebut Hieroglif, mampu membuat bangunan-bangunan megah yang menjulang tinggi seperti Piramid, sampai terpenuhinya kebutuhan spiritulitas mereka dengan menyembah dewa-dewi maupun dewi-dewi.

Peradaban Mesir kuno yang telah ada sejak ± 3000 tahun Sebelum Masehi itu tentu saja berarti telah dipimpin oleh banyak sekali raja dan ratu. Raja atau ratu yang sedang berkuasa diberi gelar “Fir’aun” atau “Pharaoh”. Hal tersebut menjelaskan bahwa penyebutan Fir’aun bukanlah sebuah nama akan tetapi sebuah gelar.

Penguasa Mesir kuno dibagi menjadi beberapa kurun waktu berdasarkan periode Dinasti. Temuan arkeologi menunjukan bahwa Dinasti penguasa Mesir kuno berjumlah 30, dilanjutkan 3 periode Dinasti pelanjutnya yang merupakan dibawah otoritas bangsa penakluk kekuasaan Mesir kuno yakni imperium Persia, Yunani dan Romawi.

Masa keemasan peradaban Mesir adalah saat dikuasai Dinasti ke 18. Salah satu penguasa yang terkemuka dari Dinasti ini adalah Amenhotep IV/Akhenaten (memerintah tahun 1352 – 1336 SM). 

Ia bersama sang permaisuri yang juga ratu Mesir termasyur yakni Nefertiti merubah praktek beragama bangsa Mesir kuno yang telah berlangsung sejak era Fir’aun awal yang menyembah banyak dewa dan dewi. Mereka menggantinya dengan dewa yang tunggal yakni Aten sang dewa matahari.

Namun praktek beragama dengan sistem monoteis itu dirubah oleh penerusnya yaitu Tutankhamun (memerintah tahun 1333 – 1324 SM). Ia menghapus penyembahan terhadap dewa Aten kemudian mengembalikan praktek beragama bangsa Mesir kuno yang menyembah banyak dewa. Tutankhamun merupakan Fir’aun termuda, ia diangkat menjadi penguasa saat berumur 8 tahun. Namun ia meninggal di usia yang sangat muda yaitu 18 tahun.

Penerusnya yang juga Fir’aun terkemuka adalah Ramses II (memerintah tahun 1279 – 1213 SM). Ia merupakan Fir’aun yang berkuasa paling lama yakni selama 66 tahun. Di masa kekuasaannya ia menggelar tradisi bernama Sed, yakni sebuah gelaran ritual yang menahbiskan seorang Fir’aun menjadi dewa atau tuhan.

Syarat seorang Fir’aun ditahbiskan menjadi dewa adalah berkuasa selama lebih dari 30 tahun. Meskipun masih menjadi perdebatan, Ramses II diduga merupakan Fir’aun yang mengejar Nabi Musa dan Bani Israil hingga ke laut merah.

Masa Keruntuhan Imperium Mesir Kuno

Nectanebo II (memerintah tahun 360 – 342 SM), merupakan Fir’aun terakhir yang berasal dari orang asli bangsa Mesir kuno. Merupakan Fir’aun ke tiga dari Dinasti ke 30. Kekuasaannya berakhir karena tidak dapat menahan laju invasi dari imperium Persia.

Sejak itulah dimulai era Imperium Mesir kuno dibawah otoritas bangsa lain yang saling memperebutkan wilayah Mesir kuno. Dimulai dari bangsa Persia kuno, kemudian bangsa Yunani kuno, hingga terakhir bangsa Romawi kuno.

Kekuasaan Mesir kuno yang diwarnai kisah perebutan kekuasaan antara orangtua dengan anak, permaisuri atau selir dengan suami atau anak tiri, atau sesama saudara kandung, yang kerap berdarah-darah.

Hal itu dimungkinkan terjadi karena faktor praktek Incess (hubungan sedarah) dalam lingkaran penguasa kerajaan Mesir kuno. Mereka mempraktekan Incess sebagai upaya menjaga kemurnian darah penguasa agar tidak tercampur dengan “orang biasa”.  

Adalah Kleopatra VII (memerintah tahun 51 – 31 SM), lebih dikenal dengan sebutan Kleopatra saja. Figurnya sangat ikonik. Saat ayahnya terbunuh, maka ia bersaing dalam usaha perebutan tahta dengan suaminya sendiri yang tak lain juga merupakan adik kandungnya. Akhirnya persaingan dimenangkan oleh Kleopatra karena dibantu oleh Kaisar Romawi yang terkemuka yakni Julius Cesar.

Kekuasaan Mesir kuno dibawah koalisi Kleopatra dengan Julius Cesar akhirnya juga mulai goyah ketika Julius Cesar dibunuh oleh musuhnya masih dari kekaisaran Romawi yakni Marcus Brutus.

Kleopatra berhasil menyembunyikan diri dari upaya pembunuhan, namun tidak dengan satu-satunya pewaris takhta imperium Mesir kuno yaitu Ptolemeus XV atau Caesarion anak dari Kleopatra dengan Kaisar Julius Cesar, ia dibunuh saat masih berusia 3 tahun. 

Dengan terbunuhnya Caesarion, maka berakhir pula imperium Mesir kuno. Sedangkan Kleopatra VII memilih mati dengan cara membiarkan dirinya dipatuk ular berbisa.        

Dari uraian tulisan ini maka dapat ditarik satu pemahaman bahwa terdapat perbedaan penyebab hancurnya Imperium kerajaan Mesir kuno menurut pandangan agama dengan ilmu pengetahuan (Arkeologi). 

Namun kita dapat mengambil pesan yang sama dari dua pandangan yang berbeda tersebut, bahwasanya hasrat akan kekuasaan yang berlebihan akan menjadi pangkal penyebab hancurnya sebuah bangsa.